Opini    , Psikologi   

Melewati Hari Yang Sepi


Melewati Hari Yang Sepi 1

“Hey! Sepi sekali di sini. Kemana perginya semua orang-orang? Apa hanya aku seorang di sini?”

Apa yang kalian ketahui tentang kesepian?

Kesepian adalah suatu perasaan di mana kita merasa benar-benar sendiri di alam semesta ini. Kesepian ini biasanya terjadi karena berbagai faktor. Misalnya saja karena ditinggal kekasih, karena perceraian, dijauhi orang-orang karena sesuatu, dsb. Kesepian ini juga bisa terjadi karena seseorang pindah dari lingkungan yang lama, ke lingkungan yang baru.

Karena saat pindah ke lingkungan baru, kita harus bisa beradaptasi. Namun, ada sebagian orang yang susah beradaptasi dengan lingkungan barunya, dan akhirnya ia menutup diri dari lingkungan barunya, dan merasa kesepian. Kesepian ini bukanlah hal yang bisa dianggap enteng. Karena jika keadaan ini berlangsung bertahun-tahun, bisa mengakibatkan keadaan mental yang serius, seperti depresi.

Dan dari segi pikiran pun kesepian ini tidak baik. Karena dengan kesepian, seseorang yang mengalami kesepian ini akan merasa orang-orang tidak lagi membutuhkannya. Banyak juga sebagian orang yang menampik kalau dirinya sedang kesepian. Banyak diantara mereka yang tidak mengakui bahwa ia sedang kesepian, mungkin karena malu, dsb.

Hal penting yang harus disadari saat anda merasa kesepian adalah : Akui saja bahwa anda sedang kesepian, tidak usah menampik. Karena diri anda butuh pengakuan, bukan berpura-pura baik saja. Saat kesepian, seseorang harus ditemani oleh seseorang juga untuk menemani, mendengarkan keluh kesah dan cerita dari orang itu. Entah pasangan, teman, maupun saudara terdekatnya. Tapi, bagaimana jika seseorang yang kesepian ini sama sekali tidak mempunyai seseorang yang bisa diajak ngobrol? Nah, ini yang bahaya.

Baca juga  Kartu Pra-Kerja, Apakah Bisa Menjamin Ketenagakerjaan di Indonesia Pasca-Pandemi?

Saya teringat, dulu saya pernah diposisi ini beberapa tahun yang lalu. Tepatnya setelah lulus SMA. Setelah lulus SMA adalah masa di mana semua kesenangan anda saat zaman SMA dulu, direnggut oleh waktu. Satu persatu teman dekat anda mulai sibuk dengan masa depannya, dan meninggalkan anda. Kebetulan, Si Dia yang menemani hari-hari saya dulu di SMA, ikut pergi meninggalkan saya.

Betapa sedihnya, kesenangan direnggut oleh waktu. Jadi, tinggallah saya sendiri. Waktu itu pun saya merasa jenuh, karena harus berbulan-bulan di rumah menunggu waktu untuk masuk kuliah. Jadi saat itu sehari-hari saya hanya bangun-makan-tidur, begitu seterusnya. Sangat membosankan. Akhirnya, waktu-waktu yang membosankan itupun berlalu. Perkuliahan pun dimulai, rasa sepi saya sedikit hilang, tapi tak benar-benar hilang. Setelah menjalani perkuliahan berbulan-bulan, kabar duka datang dari keluarga saya datang.

Adik saya yang kecil meninggal dunia diusia 10 hari. Kabar itu adalah pukulan telak bagi saya, dan keluarga. Setiap malam selama kurang lebih 3 bulan, isak tangis ibu saya selalu pecah saat malam hari. Alhasil, saya pun tidak bisa tidur karena tak tega mendengarnya. Saat itu, emosi saya benar-benar terkuras dan tanpa punya tempat untuk berbagi.

Sekali lagi, saya merasa kesepian saat itu. Saya hanya bisa termenung, memikirkan kapan ini berakhir. Ternyata, musibah tak cukup sampai disitu. 6 bulan sejak kepergian adik saya, ibu saya jatuh sakit.

Melewati Hari Yang Sepi 3

Kepergian adik saya memang berdampak sekali bagi psikis dan mental keluarga saya. Saat itu, saya pulang pergi dari rumah-rumah sakit-kampus untuk mengantarkan baju bersih dan mengambil baju kotor ibu saya. Hampir setiap hari saya melakukan itu. Di rumah, saya pun harus mengurusi adik saya yang satu lagi, yang berusia 8 tahun.

Baca juga  4 Hewan Paling Kesepian di Dunia, Kisahnya Bikin Sedih

Mulai dari mengurus makanan, pakaiannya, dsb. Jujur saat itu saya sangat lelah, dan sekali lagi saya benar-benar merasa sendiri. Terkadang, tak kuat rasanya untuk menahan lelah batin sehingga kadang tak sadar air mata saya menetes. Saya lelah menghadapi itu sendirian. Rasanya, saat itu dunia berpaling dari saya.

Di bidang akademik pun nilai saya sangat bobrok. Terkadang saya hanya menitip absen ke teman dan tidak menghadiri perkuliahan karena harus ke rumah sakit. Pernah satu waktu, saat itu tengah Quiz mata kuliah Bahasa Inggris, saya tidak datang ke kampus, karena saya lebih memilih ke rumah sakit. Masa itu, bisa dibilang adalah titik terendah dalam hidup saya.

Saat itu benar-benar kesabaran saya diuji, keteguhan iman saya pun juga diuji. Jujur, saat itu saya sempat jauh dari Tuhan, bahkan terkadang kata makian terselip dari dalam hati. Maafkan aku Tuhan, aku bukanlah hamba yang taat.

Setelah kurang lebih semingguan ibu saya dirawat, akhirnya beliau diperbolehkan pulang ke rumah. Saya merasa senang, akhirnya beliau bisa kembali berkumpul dengan keluarga. Perasaan lega menghampiri saya, karena saya berpikir bisa sejenak beristirahat dan kembali fokus untuk kuliah. Namun, musibah masih saja menimpa keluarga saya.

Adik saya yang berusia 8 tahun jatuh sakit. Ia terkena DBD. “Musibah apalagi ini, kenapa belum habis-habis penderitaan ini.” gumam saya dalam hati. Sekali lagi, keluarga saya melewati satu persatu musibah yang datang. Waktu berlalu, adik saya pun sembuh dari Demam Berdarah. Saya lega, akhirnya cobaan yang bertubi-tubi itu dapat terlewati.

Baca juga  5 Karakter Anime yang Berhasil Bangkit dari Kematian

Namun, itu semua menyisakan bekas luka di hati saya. Karena terlalu larut dengan keterpurukan, saya begitu merasa sepi. Karena, semua saya lewati sendiri tanpa dukungan tanpa siapa pun. Puncaknya, saya sempat merasa depresi. Keadaan keluarga saya memang sudah baik-baik saja, namun keadaan diri saya tidaklah baik-baik saja.

Terlalu lelah menanggung itu semua sendiri. Hari-hari pun saya lalui dengan sepi, kurang bersemangat, sering merasa mudah lelah dan terkadang menangis tanpa sebab. Sempat merasa “pasrah” dengan keadaan, sempat rasanya ingin “menyudahi” saja. Berbulan-bulan saya menghabiskan waktu dengan keadaan seperti itu. Harusnya saya berkonsultasi dengan psikiater. Namun pikir saya, akan sangat mahal jika untuk berkonsultasi dengan psikiater.

Akhirnya, keadaan yang memaksa saya untuk “sembuh”. Saya pun mulai kembali ke dunia luar, dan mencoba membaur seperti biasa. Awalnya jujur tak mudah. Namun, semua harus saya lakukan agar saya dapat “sembuh”.

Karena hidup terus berlanjut, ‘kan?

Saya lupa persisnya kapan saya “sembuh”, yang pasti penyakit itu mulai hilang, setelah berbulan-bulan. Sejak saat itu, saya mulai mencoba menulis tentang apa yang saya rasakan tentang hidup. Cukup membantu, walau rasa sepi itu terkadang masih suka menghinggap.

Akhir kata, jangan biarkan orang terdekat anda kesepian. Temani dia, buatkan ruang untuk berbagi beban dengannya. Kesepian, jika berlarut-larut, itu akan menimbulkan penyakit mental yang berbahaya, seperti depresi.

“Tak ada manusia yang sanggup untuk hidup sendiri. Mereka butuh ruang untuk berbagi.”

Melewati Hari Yang Sepi 4


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Muhammad Zaki

   

Penulis amatir.

Berusaha untuk tidak jadi bokap-bokap biasa.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments