Opini    , Sosial   

Mengkaji Socrates, Pengetahuan untuk Kebajikan


Mengkaji Socrates, Pengetahuan untuk Kebajikan 1

Tingkat korupsi di negeri ini diakui masih cukup tinggi. Apakah pelakunya orang-orang bodoh, tidak terdidik, dan tidak mengetahui korupsi adalah perbuatan salah? Jelas tidak. Oknum pelaku korupsi ternyata adalah orang-orang yang diakui kapasitas keilmuannya. Jenjang pendidikan formalnya pun termasuk tinggi.

Dalam hal ini, menarik untuk menapaktilasi pemikiran Socrates. Dia mengemukakan bahwa budi adalah tahu (virtue is knowledge); orang yang baik budi adalah orang yang berpengetahuan; pengetahuan adalah sumber kebajikan; tidak ada kebajikan tanpa pengetahuan. Pengetahuan yang benar membangun sikap dan perbuatan yang benar.

Pengetahuan hanya landasan untuk mencapai kebenaran dan kebajikan. Untuk sampai di situ dibutuhkan penerapan dan pengamalan serta pembiasaan. Itulah salah satu substansi dari pemikiran Socrates (470 SM-399 SM), filosof besar dari Athena, Yunani. Mengetahui pemikirannya sangatlah penting untuk memahami mata rantai pemikiran umat manusia yang telah berlangsung selama 2.500 tahun, di mana dia mengawali cara berpikir rasional tentang pengetahuan, tentang kebenaran, tentang manusia dan hidupnya.

Baca juga  5 Zodiak Yang Diperdiksikan Akan Mengalami Kebahagiaan dan Paling Beruntung di Tahun 2020

Mengkaji Socrates, Pengetahuan untuk Kebajikan 3

Socrates percaya bahwa pengetahuan memberikan pencerahan yang menuntun manusia pada kesadaran moral dan jalan kebijaksanaan, sehingga semakin berpengetahuan akan semakin berbudi luhur. Prinsip ini dapat dijadikan sebagai cita-cita ideal dalam sistem pendidikan, yaitu memadukan intelektualitas dan moralitas dalam prosesnya, sehingga kuasa melahirkan generasi dengan kualitas unggul tersebut.

Untuk mengharmonisasikan intelektualitas dan moralitas mungkin memang tidaklah mudah, tetapi hal itulah syarat utama untuk memajukan bangsa. Orang yang berpengetahuan suatu saat bisa saja keliru, tetapi tidak akan menipu. Orang pintar boleh lupa, tetapi tidak akan melakukan korupsi dan berdusta. Orang terdidik juga manusia biasa yang mempunyai hasrat dan keinginan, namun tidak akan merugikan orang lain.

Dalam sejarahnya, Socrates suka mempertanyakan banyak hal. Dia rajin berkeliling dan mengadakan diskusi dengan berbagai kalangan mengenai konsep kebenaran, keadilan, cinta, keberanian, kebahagiaan, dan seterusnya. Dia menguji pendapat demi pendapat yang dikeluarkan lawan bicaranya. Ketika mendiskusikan suatu persoalan, dia meninjaunya dari sejumlah sudut pandang dan apa implikasinya, sampai akhirnya memiliki gambaran yang komprehensif tentang masalah yang dihadapi.

Baca juga  Kerja Harus Cerdas, Jangan Cuma Keras

Socrates menunjukkan nilai dan prinsip yang dapat menjadi inspirasi bagi orang untuk hidup bermakna dan menciptakan masyarakat yang lebih baik. Di antaranya adalah sebagaimana dipaparkan di atas, bahwa kepemilikan ilmu harus berbanding lurus dengan moralitas yang mulia. Pengetahuan bertujuan untuk membangun kemaslahatan masyarakat. Idealisme itu secara prinsipil bisa terbangun apabila setiap manusia memiliki pemahaman diri (self understanding).

Mengkaji Socrates, Pengetahuan untuk Kebajikan 4

Pemahaman diri merupakan landasan bagi hidup yang otentik. Seseorang harus memikirkan apa arti hidupnya secara mendalam dan bagaimana mewujudkan kehadiran dirinya sebagai kebajikan. Jadi, manusia bukan asal hidup, cukup makan, dan nyaman. Di sinilah Socrates mengajak pada intisari manusia, yakni jiwa. Seseorang tidak akan mencapai makna hidup yang sejati selama masih tersibukkan dengan urusan-urusan badaniah saja.

Baca juga  Mbah Par & Jaga Jarak

Socrates, termasuk pula Plato dan Aristoteles, sepakat bahwa tujuan tertinggi kehidupan manusia adalah “kebahagiaan”. Hidup bahagia tidak akan terwujud apabila hanya mengandalkan kesenangan lahiriah saja dan takkan tercapai dengan menjalani hidup secara hedonistik. Orang boleh mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya, tetapi sejatinya hal tersebut tidak menjamin kebahagiaan dan hidup bermakna.

Selamat hayatnya, Socrates diakui mempraktikkan hidup bermakna. Tidak dengan kemewahan, tetapi dengan kebenaran; tidak dengan pemuasan nafsu jasadi, tetapi dengan kebajikan; tidak dengan bersenang-senang, tetapi dengan pemikiran dan pengetahuan. Prof. Gregory Vlastos dari Harvard University berkata, “Socrates hidup dan mati sebagai orang bahagia.”

Mengkaji Socrates, Pengetahuan untuk Kebajikan 5
Socrates

Betapa pun jauhnya jarak masa antara sang filosof dengan zaman kini, nilai-nilai penting dari kehidupan dan gagasan Socrates tidaklah luntur. Mengkaji konsep pemikiran Socrates potensial memberikan pencerahan bagi pikiran dan jiwa untuk menjadikan hidup semakin bermakna. Dahsyat!

Mengkaji Socrates, Pengetahuan untuk Kebajikan 6


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Hendra Sugiantoro

   

juru tulis, pemustaka, pengkliping koran, periset buku lawas, penikmat tokoh, dan penyeru literasi

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments