Opini    , Sejarah   

Pertanian Indonesia dalam Nadi Sejarah


Pertanian Indonesia dalam Nadi Sejarah 1

Pertanian di Indonesia mengalami pasang surut seiring pergantian pemerintah. Menurut peneliti dari Center Of Indonesian Policy Studies petani Indonesia tinggal sekitar 38,7 juta orang. Jumlah tersebut didapat dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018. Sementara jumlah penduduk Indonesia sekitar 264 juta jiwa. Ada ketimpangan sumber daya manusia untuk mendukung  arah pemerintah dalam mencapai swasembada pangan.

Petani Indonesia Mengadakan Bazar
Petani Indonesia Mengadakan Bazar

Pertanian adalah usaha manusia mengelola sumber daya alam untuk memperoleh pangan, bahan mentah industri, serta energi baik secara estetika maupun budidaya produksi. Meskipun begitu, popularitas usaha tani masih sangat rendah dilihat dari minimnya minat generasi muda pada sektor pertanian. Indonesia terbilang miskin sarjana pertanian yang serius berdikari di bidang ini. Padahal, setiap tahun ribuan insinyur pertanian lulus dari seluruh perguruan tinggi di indonesia. Agaknya, masyarakat terpapar animo bahwa profesi bertani kurang menjanjikan.

Pertanian hortikultura telah didukung oleh pemerintah melalui undang-undang sejak 26 oktober 2010, dengan harapan produksi pertanian cepat meningkat. Ini membuka sejarah baru pertanian di Indonesia. Mengingat predikat negara agraris berasal dari mayoritas penduduknya yang mengais rejeki dari bertani. Sedangkan survey BPS tahun 2003 melansir, dari total jumlah generasi muda di seluruh Indonesia hanya 12,2 saja yang mengibarkan bendera petani.

Pertanian Terpadu
Pertanian Hortikultura

Hal ini seyogyanya dipertanyakan sebabnya. Petani sebagai kelas rendah dan alat politis bermula sejak lama. Sebagaimana pada zaman kolonial petani terpinggirkan akibat kebijakan yang tak memihak. Sebutlah aturan tanam paksa oleh Gubernur Jenderal Johannes Van de Bosch, alih-alih sejahtera petani pada masa itu justru semakin melarat dengan berkurangnya lahan seluas 20% pada tiap desa untuk memenuhi kebutuhan pemerintah kolonial.

Baca juga  5 Nilai Etika Protestan Max Weber, Kunci kemajuan bangsa Eropa

Pada masa orde baru, petani sedikit menerima harapan. Program pembangunan lima tahun (Pelita) pada periode 1969 sampai dengan 1974 di tekankan untuk mendukung sarana pertanian. Dari program yang kemudian di sebut revolusi hijau ini, Indonesia berhasil mencapai swasembada beras pada tahun 1984. Dan Soeharto yang menjabat Presiden kala itu, pendapat penghargaan dari Food and Agriculture Organization.

Usaha pemerintah dalam mengendalikan harga hasil bumi, diharapkan mampu membantu stabilitas ekonomi masyarakat. Hal ini seakan-akan berdampak baik, harga-harga stabil pada masa orde baru.

Namun program pelita dengan pengucuran bantuan, pupuk dan benih pada era Soeharto dirasa tak disertai edukasi yang cukup. Sehingga petani hanya bergerak sesuai intsruksi dan minim inovasi. Sementara pembangunan irigasi dan sarana pertanian yang terjadi menjadi target jangka pendek untuk mencapai program.

Kemudian pada akhir masa kepemimpinan Soeharto, impor beras kembali terjadi sebanyak hampir 6 juta ton. Muncul sejumlah isu dikalangan pemerhati politik. Program pembangunan lima tahun yang brilian dirancang dengan represif, memihak kepada pemilik modal dan menjadikan petani sebagai objek.

Baca juga  Iri Hati dan Jiwa yang Rapuh

Revolusi hijau dinilai bukan hanya tidak efektif namun berdampak kerusakan lingkungan, sosial dan ekonomi. Penggunaan pupuk, insektisida dan fungisida berbahan aktif kimia yang berlebihan disinyalir meninggalkan residu berbahaya dalam jangka panjang. Sementara ekploitasi lahan pertanian menggunakan bahan-bahan tersebut terlihat instan dan nyata sehingga budaya bertani mengalami pergeseran dari skala rumah tangga menjadi industri.

Lahan bertani yang dimiliki masyarakat menengah kebawah menyusut. Masyarakat petani mulai berpindah profesi untuk memenuhi kebutuhan. Arus urbanisasi semakin bertambah tiap tahun. Kemudian kebutuhan bahan pangan mulai dipenuhi dengan import.

Petani sebagai pemasok pangan untuk hajat manusia, adalah profesi yang tak lekang oleh zaman. Di setiap peradaban, pertanian adalah indikator sebuah negara maju dan berkembang. Kualitas sebuah negara ditunjukkan dari kesejahteraan pangan warganya.

Petani Indonesia sedang Panen
Petani Indonesia

Petani yang masih bertahan, beradaptasi dengan teknologi jaringan informasi. Naik turunnya harga hasil panen berhasil disiasati. Sebutlah sentra agrobisnis Boyolali di lereng Gunung Merapi, Mereka mampu menyesuaikan musim dengan pola tanam berdasar pengalaman empiris. Bertanam sayur pada musim hujan dan palawija atau tembakau saat kemarau.

Peka melihat peluang, sekelompok petani di Boyolali bahkan membudidayakan kiambang untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak yang melambung. Manfaat dan kandungan protein tinggi membuka pasar baru. Tumbuhan gulma disulap menjadi berguna. Hubungan antara petani sebagai produsen dan peternak sebagai konsumen dijalin dengan baik. Petani masa kini terbukti cerdas.

Baca juga  Bisakah Menemukan Ikigai Di Tengah Keambyaran Hidup?

Berkat jaringan informasi yang baik, beberapa petani kreatif bahkan menjadi inspirasi. Semisal porang, kini dijajagi sebagai produk eksport. Lantaran viralnya keberhasilan Paidi, pembudidaya porang warga Madiun, Jawa Timur, stigma remeh petani berubah total. Masyarakat di sekitar tempat tinggalnya sukses terpikat membudidayakan porang sebagai usaha menopang kebutuhan keluarga.

Kebijakan pemerintah untuk mengembangkan pertanian organik sejak 2010, menjadi titik awal yang menggembirakan. Dengan berorientasi organik masyarakat petani lebih mandiri. Sebab sejatinya pertanian terpadu dengan bahan alami menekan modal dan rendah resiko. Petani dikalangan menengah kebawah dapat mulai berproduksi dengan dikawal pemerintah.

Tak hanya lingkungan dan ekonomi, dibidang sosial kalangan akademisi dengan penelitian terbarupun dapat bersinergi dengan petani. Organik adalah masa depan alam, bukan hanya komoditas program indonesia. Petani dengan pendidikan tinggi menjadi pionir untuk menggerakkan pertanian indonesia berbekal inovasi terbaru. Sehingga, petani akan teredukasi dengan baik.

Kementrian Pertanian Rebuplik Indonesia dalam situsnya menyebutkan swasembada pangan adalah suatu keharusan. Ketersediaan pangan bermutu dalam jumlah yang cukup, mempengaruhi kualitas sumber daya manusia. Dengan begitu sudah barang tentu pertanian adalah nadi sejarah. Berdenyut dan mengalirkan darah agar peradaban senantiasa hidup.

Pertanian Indonesia dalam Nadi Sejarah 3

Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Bangun