Opini   

Sulit Sekali Untuk Bahagia


Sulit Sekali Untuk Bahagia 1

“Kok hidup gue gini-gini aja ya?”

Pernahkah anda merasa sulit sekali untuk bahagia? Bukannya tidak bersyukur. Namun, terkadang terlintas pikiran seperti itu jika sedang bosan. Berbicara mengenai bahagia, bahagia itu sendiri merupakan pemberian Tuhan dan datang dari diri sendiri, maupun orang lain.

Ada sebagian orang yang tidak perlu susah payah mencari kebahagiaan, karena lingkungan dan orang-orang disekitarnya yang membuat ia bahagia. Kalau seperti itu, hidup jadi lebih berwarna, ‘kan? Misalnya saja jika kita mempunyai pasangan, tentu sebagai hubungan timbal balik berpasangan, membahagiakan pasangan merupakan hal yang wajib, agar keduanya merasakan nyaman dan terus terjalin hubungan itu.

Namun, ada juga yang sangat sulit untuk bahagia. Ia harus susah payah berusaha untuk mendapat kebahagiaan itu. Bahkan saking seringnya mencari sebuah kebahagiaan, orang-orang ini akan merasa lelah dengan hidup, karena tak kunjung menemukan kebahagiaan itu sendiri.

Orang-orang seperti ini, akan berpikir jika kebahagiaan hanya datang dari Tuhan itu sendiri. Jika Tuhan belum mengizinkan mereka untuk bahagia, mereka takkan bahagia. Walaupun merengek seperti apapun, percuma.

Kenapa saya menulis tentang ini? Saya adalah contoh orang yang susah sekali bahagia. Kenapa susah bahagia? Karena memang yang tak ada yang membahagiakan saya. Lingkungan sekitar pun biasa saja, tidak ada yang spesial.

Baca juga  "Ah Tuhan": Gemuruh Pemberontakan Tuhan Saat Pandemi Covid-19

Tidak ada mereka yang berusaha membahagiakan saya. Dan akhirnya saya pun sempat sibuk untuk membahagiakan diri sendiri dengan bekerja dan uang hasil pekerjaan itu saya gunakan untuk membahagiakan diri sendiri, seperti dengan membeli sesuatu yang saya suka, sepatu misalnya.

Saya pun sempat sedikit menjadi egois karena terlalu sibuk membahagiakan diri sendiri. Karena yang saya pikirkan saat itu : “Gua capek sendiri, bahagia sendiri. Selama ini juga kalian gak pernah berusaha ngebahagiain gua. Kenapa juga harus membahagiakan orang lain?” Ya, memang sangatlah egois jika mengingat kejadian itu.

Jadi teringat, saat waktu saya kecil banyak sekali orang yang membahagiakan saya. Dulu, tak pernah terpikirkan oleh saya, nanti akan seperti ini pada akhirnya. Bisa dibilang, saya hidup di lingkungan yang biasa saja. Saya punya sahabat, saudara, dan orang terdekat lainnya. Namun, entah kenapa mereka biasa saja, tak berusaha membuat saya bahagia.

Contohnya saat ulang tahun. Bisa dibilang, selama ini saya tak pernah mengalami suprise party seperti orang kebanyakan. Dan momen-momen lainnya yang sepertinya “kurang” dalam hidup saya. Entah kenapa sesekali saya ingin merasakan moment itu, di mana orang-orang peduli dengan keberadaan saya, menghargai saya, dan membahagiakan saya. Memang, bahagia itu datang dari diri sendiri.

Baca juga  Pendidikan Indonesia di Masa Pandemi Covid-19

Tapi tak ada salahnya, ‘kan mengharapkan kebahagiaan dari orang lain? Itulah, yang saya inginkan hingga saat ini. Namun, setelah saya jalani selama ini, tak ada pertanda hal itu akan terwujud. Saya bersyukur, atas hidup ini. Atas semua yang telah Tuhan berikan kepada saya. Namun, seperti ada yang kurang. Kembali lagi, bukan saya iri (atau memang terkesan sedikit iri sih haha) saya hanya ingin merasakan, apa yang orang lain rasakan.

Saya berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menyakiti perasaan orang. Karena saya pikir, dengan saya seperti ini saja sudah sangat susah untuk berbahagia, apalagi jika saya banyak menyakiti hati orang lain.

Lama kelamaan, saya berusaha cuek dengan pikiran tersebut. Memang pikiran ini sempat menganggu saya bertahun-tahun. Seringkali saya dibuat tidak tenang olehnya. Tapi, apalah guna memikirkan sesuatu secara berulangkali tanpa ada hasilnya.

Tanpa apa ada upaya untuk mewujudkannya. Saya pun mulai belajar untuk menerima keadaan, berusaha dengan sekuat tenaga untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya, dan mulai mencoba untuk memberikan kebahagiaan untu orang terdekat.

Walau yang saya tau, orang-orang sekitar saya lebih cuek dengan keadaan saya. Saya mulai berdamai dengan keadaan. Karena saya pikir, sangat melelahkan harus berpikiran seperti ini setiap hari.

Baca juga  Surabaya dan Potensi Wisata yang Belum Maksimal

Intinya, bahagia merupakan hak setiap orang. Mau dia kaya ataupun miskin, bahagia tetaplah hak setiap orang. Yang bisa saya ambil dari kejadian yang selama ini menimpa saya adalah :

“Bahagia memang pemberian Tuhan, namun kita juga berhak memutuskan kita berhak bahagia, atau tidak. Jangan mengharapkan bahagia dari orang lain, karena mereka hanya manusia biasa.”

Banyak jalan menuju kebahagiaan, banyak cara untuk membuat diri sendiri bahagia. Untuk anda yang masih mencari kebahagiaan, tetap semangat! Tuhan memang sedikit sibuk, tapi Dia tidak tidur kok. Dia peduli dengan hambaNya dengan cara yang tidak terduga.

Untuk anda yang sedang berbahagia, atau sering berbahagia, jangan lupa untuk memberikan sedikit kebahagiaan anda kepada orang lain. Mereka juga berhak bahagia. Dan jangan lupa untuk mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kebahagiaan untuk anda.

Satu hal lagi, ucapkan terimakasih kepada orang-orang yang telah membahagiakan anda.

“Karena punya orang-orang sekitar yang sangat peduli dengan kebahagiaan anda, tak peduli apa status sosial anda, merupakan harta yang tak ternilai dengan apapun.”

Sulit Sekali Untuk Bahagia 3


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Muhammad Zaki

   

Penulis amatir.

Berusaha untuk tidak jadi bokap-bokap biasa.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments