Kesehatan Fisik Vs Kesehatan Mental

Kita sering mendengar himbauan untuk menjaga kesehatan fisik, tapi bagaimana dengan kesehatan mental? 2 menit


37
37 upvote
Kesehatan Fisik Vs Kesehatan Mental 1

Apa yang muncul dibenakmu ketika mendengar kesehatan mental? masih banyak orang yang langsung membayangkan orang gila yang sering mereka lihat di pinggir jalan, atau Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Bayangan RSJ dibenak kebanyak orang biasanya mengerikan. Pasien yang teriak-teriak, meronta-ronta, lalu diikat atau menggunakan straight jacket, baju yang biasa dipakai oleh orang dengan gangguan jiwa yang biasa kamu lihat di film-film.

Menurut saya, pemahaman dan kepedulian orang-orang akan kesehatan mental di Indonesia masih cukup rendah. Berbeda dengan kesehatan fisik. Kamu pasti sering mendapat himbauan dari banyak orang untuk menjaga kesehatan fisik. Orang tuamu yang menyuruh kamu berhenti jajan dipinggir jalan, temanmu yang mengajak kamu olahraga agar sehat dan bugar, atasanmu di kantor yang mengingatkan untuk minum vitamin, atau pacarmu yang meminta kamu untuk berhenti merokok.

Fisik memang sangat penting, dan sudah banyak orang yang sadar akan itu dan berusaha menjaga kesehatan fisik mereka. Tapi bagaimana dengan mental?Ibaratnya, fisik itu seperti hardware komputer, dan mental adalah software-nya. Keduanya sangat penting kan? Kalau hardware suatu komputer rusak, softwarenya tidak bisa digunakan, dan begitu juga sebaliknya. Sama seperti manusia, kalau fisikmu bugar, tapi kondisi mentalmu buruk, kamu akan sulit untuk produktif. Sebaliknya juga kalau kamu sehat secara mental tapi kondisi fisikmu buruk, kamu juga akan kesulitan. Sayangnya, masih banyak orang yang tidak memperhatikan kesehatan mental, baik dirinya sendiri maupun orang disekitarnya.

Baca juga  New Normal, Kesempaatan Menginsafi Gaya Hidup Sederhana

Seingat saya, ketika saya sekolah pun saya tidak pernah mendapatkan pendidikan tentang mental atau psikologis manusia. Padahal, kita sebagai manusia yang hidup dengan manusia seharusnya mengerti sedikit tentang manusia itu sendiri kan? Tapi sebelum saya kuliah psikologi, tidak pernah ada yang mengajari saya tentang tahap-tahap yang harus dilalui orang ketika mereka patah hati atau berduka. Malah dulu waktu saya kecil, saya sering mendengar anak laki-laki yang menangis adalah laki-laki yang lemah. Itu dikatakan oleh banyak orangtua atau guru, dan itu membuat penilaian buruk kepada anak laki-laki yang menangis.

Padahal menangisi itu wajar. Kalau kamu memang sedang sedih dan ingin menangis, menangis lah. Tidak ada penelitian yang membuktikan kalau laki-laki yang tidak pernah menangis adalah laki-laki yang jantan, hebat, atau kuat. Manusia memang memiliki emosi-emosi dasar, ada yang positif dan ada yang negatif. Salah satu emosi negatif yang dirasakan oleh manusia adalah sedih, dan itu berarti wajar kalau kamu merasa sedih. Siapa manusia yang tidak pernah merasa sedih seumur hidupnya? Kalau ada berarti dia tidak normal, karena normalnya manusia memiliki emosi untuk merasa sedih.

Baca juga  Fenomena Nama Makanan & Minuman Lebay

Pemahaman yang kurang mengenai kesehatan mental menurut saya membuat banyak orang yang menggampangkan, bahkan tidak peduli tentang kondisi mental mereka. Masih banyak orang yang tidak mau datang ke psikolog atau psikiater karena takut dianggap gila. Mungkin curhat dengan teman, atau bahkan menyembunyikan apa yang mereka rasakan dianggap lebih mudah oleh banyak orang. Padahal, kondisi kesehatan mental yang buruk dan tidak ditangani dengan baik dapat berujung pada kematian.

Tapi tidak semua orang dapat menangani sendiri kondisi mental mereka yang buruk kan? Toh, memang tidak pernah diajarkan sejara formal. Beruntung mereka yang memiliki support system yang baik, yang secara tidak langsung mengajarkan cara menangani kondisi mental, atau bahkan membantu. Tapi bagaimana dengan orang yang tidak mendapat kemewahan itu?

Sebagai seseorang yang kuliah di bidang psikologi, saya tidak merasa superior dalam masalah kesehatan mental dibandingkan teman-teman yang tidak mempelajari bidang ini. Pelajaran yang saya dapatkan selama empat tahun kuliah rasanya belum cukup untuk benar-benar mengerti manusia, karena manusia itu sangat kompleks. Mata dan pikiran saya hanya menjadi lebih terbuka untuk memahami sesama manusia. Manusia di dunia ini sangat banyak, dan masing-masingnya pasti berbeda. Apa yang menurut satu kelompok baik, belum tentu baik bagi kelompok yang lain. Tapi yang saya lihat sekarang ini, banyak orang yang saling menghina atau menyakiti, tanpa mengerti apa yang sebenarnya mereka lakukan.

Baca juga  Menjadi Manusia Yang Seimbang

Misalnya, kasus bullying di media sosial. Kamu kadang tidak sadar kalau yang kamu katakan itu menyakiti hati orang lain dan bisa sangat berpengaruh untuk mentalnya. Mungkin kamu pikir yang kamu katakan itu lucu untuk kamu dan kelompokmu, tapi tidak untuk orang lain kan? Ini memang sesuatu yang klise dan sering dibicarakan, tapi masih banyak terjadi. Kita tidak perlu membuat orang lain susah agar kita senangkan?

Intinya, saya berharap ada banyak pihak yang berkontribusi untuk menaikan awareness mengenai kesehatan mental, bukan hanya kesehatan fisik. Banyak sekali kasus-kasus kesehatan mental yang berujung pada kematian. Menurut saya seharusnya pendidikan mengenai mental dan psikologis sudah ditanamkan sejak dini, agar setidaknya orang tidak memiliki persepsi yang salah mengenai manusia itu sendiri.

Kesehatan Fisik Vs Kesehatan Mental 3

Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

37
37 upvote