Sosial    , Opini   

Memanusiakan Kota, Sebuah Jalan Terjal Umat Manusia

4 menit


Memanusiakan Kota, Sebuah Jalan Terjal Umat Manusia 1

Bagaimana manusia bisa berkembang? Karena memaksimalkan otaknya untuk berpikir. Dengan itu, maka spesies seperti kita ini bisa melampaui berbagai macam jaman yang sangat kejam.

Jika diingat-ingat materi pelajaran sejarah, ada banyak bukti bahwa sebenarnya secara fisik kita lemah. Kita tak punya gading seperti mammoth, cakar sekuat sabertooth, atau power sedahsyat dinosaurus. Namun kita lolos dari seleksi alam dan bahkan memuncaki piramida kehidupan di planet ini.

Mari berterima kasih pada otak manusia yang mampu menghasilkan berbagai teknologi canggih serta strategi bertahan hidup yang brilian. Secerdas apapun simpanse ataupun sepintar bagaimanapun lumba-lumba, mereka bisa kita kadalin. Kita bunuh buat dijadikan sandal, diculik lalu dijadikan hiburan mapun diusir habitat aslinya.

Khusus untuk yang terakhir, kaum homo sapiens adalah ahlinya. Kita seperti seorang penyihir yang mampu menyulap apapun menjadi hunian. Hutan yang asri dengan pohon-pohon besar keramat diubah jadi perkampungan. Lembah dengan kontur tanah tidak rata dikonversi jadi kota. Bahkan rawa yang tadinya penuh nyamuk hingga hantu saja malas berendam di sana kini jadi metropolitan megah.

Dari Gua Membangun Metropolitan

Memanusiakan Kota, Sebuah Jalan Terjal Umat Manusia 3

Sungguh menggelikan mengingat beberapa ribu tahun yang lalu nenek moyang kita masih mengandalkan gua-gua alam untuk berlindung dari sengatan panas maupun dinginnya malam. Lompatan luar biasa dalam hal hunian ini nampaknya tidak akan bisa disamai oleh makhluk apapun.

Namun apakah selama ribuan tahun evolusi, manusia telah berhasil menciptakan hunian yang sempurna berupa kota-kota yang memang layak mendukung perkembangan peradaban dan adil bagi semua lapisan sosial? Di belahan bumi barat nampaknya hal tersebut telah berhasil dilakukan. Tetapi di negara dunia ketiga obsesi itu masih perlu diperjuangkan dengan serius.

 

Gambaran Kota Idaman

Tentu ada banyak visi mengenai apa itu kota idaman. Tetapi setidak-tidaknya sebuah kota haruslah menjadi hunian yang manusiawi. Terkait hal ini, ada beberapa hal mendasar yang harus dipenuhi. Hal-hal tersebut diantaranya adalah : (1) kesehatan warga, (2) keadilan untuk mengakses ruang publik, (3) tingkat kemacetan yang masih normal, (4) kesempatan untuk berpartisipasi.

Baca juga  5 Film Terbaik Tentang Persahabatan Manusia Dengan Hewan

Perlu diketahui bahwa penulis, yaitu saya, bukanlah seorang lulusan tata kota, seorang peneliti profesional di bidang tata ruang publik dan semacamnya, apalagi walikota. Penulis hanyalah remahan rengginang yang berwujud netizen biasa yang kadang suka mengamati dan menulis seputar lingkungan dan perkotaan. Jadi apa yang ada disini hanyalah curhat santuy demi menghindari kepala meledak karena bertumpuknya ide.

Sekarang mari kita lanjutkan esai alias opini ini. Kita akan bahas satu persatu. Kita akan memulai sederetan curhatan setengah penting ini dari sisi kesehatan warga kota yang budiman.

 

Kota yang Manusiawi: Kesehatan Nomor Satu

Memanusiakan Kota, Sebuah Jalan Terjal Umat Manusia 4

Apakah keberadaan kota tempat tinggal Anda sudah mendukung kesehatan segenap warga kota? Membicarakan mengenai poin ini, maka ada beberapa hal yang juga akan ikut masuk pembahasan, seperti polusi, ketersediaan air bersih dan hunian yang sehat.

 

Polusi

Polusi udara nampaknya adalah hal yang paling parah terjadi di kota-kota besar di Jawa maupun di Indonesia pada umumnya. Di Jakarta dan Surabaya, cerobong asap pabrik berpadu dengan jutaan knalpot kendaraan bermotor, berjuang agar kota makin pengap dan gerah.

Polusi udara adalah hal yang serius. PSBB sempat membuat ibukota menjadi sedikit berseri. Namun sampai kapan? Telah terbukti bahwa polusi udara terkait erat dengan aktivitas ekonomi warga. Jadi, ini kuncinya : harus ada kebijakan terpadu lintas bidang untuk menangani hal ini. Terburu-buru melarang sepeda motor dari kota tetangga memasuki Jakarta atau Surabaya niscaya akan sukses melahirkan kudeta dari para proletar antar kota bahkan antar propinsi.

Baca juga  Kartu Pra-Kerja, Apakah Bisa Menjamin Ketenagakerjaan di Indonesia Pasca-Pandemi?

Selain polusi udara, air juga tercemar dengan hebatnya. Nyaris tidak ada sungai indah di kota-kota besar di Jawa maupun di luar Jawa. Kita sungguh iri pada New York, Amsterdam, Paris, maupun kota-kota besar lainnya yang punya sungai berair jernih minim polusi.

Walau manusia bukan ikan, kura-kura apalagi yuyu, tetapi spesies kita juga tidak bisa jauh dari sungai. Peradaban di tepi sungai berkembang pesat, seperti peradaban di tepi laut. Lihat saja sungai Indus, Tigris maupun Nil yang melahirkan peradaban kuno nan hebat.

Di beberapa kota di Kalimantan maupun Papua, tingkat polusi sungai masih cukup mendingan tinimbang yang terjadi di pulau Jawa, terlebih yang jadi kota industri dan padat penduduk.

Memanusiakan kota juga harus diawali dari menciptakan lingkungan bersama yang mendukung kesehatan. Selain itu seperti yang sudah disinggung di atas, ketersediaan air bersih adalah sesuatu yang absolut. Setidaknya selama kita belum menemukan teknologi agar manusia tidak perlu minum.

Meski kita sudah tidak perlu minum, kita tetap butuh air untuk mencuci, masak atau buang air. Yang terakhir sering disepelekan padahal buntut-buntutnya amatnya urgen.

 

Ketersediaan Air Bersih

Ketersediaan air selain menunjang kesehatan warga juga pada dasarnya adalah ciri kota yang layak huni. Ini bukan berarti kota dengan sumber air melimpah menjadi auto layak huni. Bayangkan saja kota-kota di Jazirah Arab atau Wild West Amerika Serikat. Mereka punya keterbatasan sumber air, namun mampu mengimbanginya dengan pengadaan air yang mumpuni.

Sedang di Indonesia yang konon kaya SDA, mata air dan sungai bawah tanah makin lama makin terancam keberadaannya. Perkembangan kota yang ditandai dengan properti yang terus dibangun, ternyata sering tidak dibarengi dengan upaya melindungi sumber-sumber air.

Selanjutnya masih ada masalah seputar pemukiman kumuh. Rumah dibangun tanpa mematuhi tata kota yang baik. Sayangnya hal ini berlarut-larut dan tidak mendapat perhatian serius dari berbagai pihak.

Baca juga  Kejernihan Pikiran Awal Kesuksesan

 

Pemukiman Kumuh Tidak Layak Huni

Kota seharusnya memang diperuntukkan untuk manusia, bukan gedung maupun mobil. Tetapi nyata-nyatanya hal ini kurang bisa dipahami terlebih diaplikasikan secara nyata. Gedung-gedung berupa mal, ruko, apartemen mewah dan cluster super mahal dibangun. Harga hunian melambung tajam. Rakyat jelata tak mampu beli. Alhasil bagi yang tidak mau ngekos ataupun melipir ke daerah sub-urban, harus rela membangun hunian di tempat-tempat yang tak layak.

Beberapa tempat yang sebenarnya bukan lahan untuk pemukiman akhirnya dipaksakan karena memang rakyat butuh tempat bernaung. Tidak peduli itu berbentuk rumah, bedeng atau bilik-bilik. Mereka mendirikannya di bantarang sungai, lahan hijau, hingga fasilitas umum seperti kuburan, taman ataupun lapangan.

Ledakan penduduk dan tingkat urbanisasi yang gila-gilaan menghancurkan desa sekaligus membebani kota. Putra terbaik desa disedot ke kota, sedang kota tak mampu lagi menampung motor dan mobil penduduknya. Akibatnya kemacetan parah menjadi santapan sehari-hari.

Bayangkan ada berapa milyar kerugian akibat macet parah. Untuk yang satu ini, nampaknya bukan lagi hanya di dominasi kota besar. Kota kecil juga akan segera merasakan dampaknya.

Terpusatnya tempat cari makan hanya di kota adalah salah satu biang kerok yang bikin sumpek jalanan. Harusnya pemerataan benar-benar dipikirkan sedari awal, seperti membagi-bagi pusat industri, pendidikan, ekonomi, pemerintahan ataupun jasa ke wilayah lain. Jika semuanya ditumpuk pada satu kota saja, maka silahkan ucapkan selamat datang pada keruwetan tanpa ujung.

Kesimpulan

Memanusiakan Kota, Sebuah Jalan Terjal Umat Manusia 5

Harus diakui memperbaiki kota yang sudah terlampau kusut dengan aneka permasalahan bukan pekerjaan mudah. Namun tidak ada pekerjaan yang akan selesai jika tidak ada niat. Amsterdam, London, Brussel, Singapura, maupun Roma tidak dibangun dalam sekejap mata. Itu benar. Namun satu hal lagi, semua kota yang hebat tidak dibangun oleh mereka yang tidak punya niat.

Memanusiakan Kota, Sebuah Jalan Terjal Umat Manusia 6

Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Koala Merah

Legend   

Seorang penulis lepas yang suka fotografi, koding dan seni kontemporer. Tertarik dengan isu sosial, kreativitas dan teknologi.