Teknologi    , Opini   

“Teh Tumpah” di Twitter

Ada banyak "teh yang tumpah" di Twitter, dan yang saya bahas ini khusus "teh tumpah" di kasus pelecehan seksual.2 menit


"Teh Tumpah" di Twitter 1

Media sosial sekarang ini sudah seperti bagian hidup bagi banyak orang, termasuk saya sendiri. Salah satu media sosial yang aktif saya gunakan sekarang adalah Twitter. Belakangan ini saya memperhatikan beberapa tren di Twitter, yang menurut saya ada yang baik, tapi ada beberapa juga yang tidak baik. Misalnya, tren untuk spill the tea. Kalau kamu pengguna aktif Twitter, kamu pasti paham maksud saya. Spill the tea adalah tren untuk membocorkan informasi yang sebenarnya cukup privacy. Tren spill the tea yang marak belakangan ini di Twitter adalah spill the tea kasus pelecehan seksual.

Awalnya saya menganggap tren ini cukup positif, karena membantu korban-korban pelecehan seksual untuk lebih berani speak up tentang apa yang mereka alami. Para korban juga mendapat dukungan dari warga pengguna Twitter, yang tentunya sangat mendukung korban untuk menegakkan keadilan. Bagi korban pelecehan seksual, pastinya akan terasa berat untuk bisa melaporkan atau melawan pelakunya, tapi dengan tren ini, korban bisa lebih speak up karena mendapat dukungan dari warga Twitter. Bahkan pernah ada kasus pelecehan seksual yang di-spill dan meng-update tentang penangkapan pelakunya. Warga Twitter beramai-ramai bekerja sama untuk mendeteksi keberadaan si pelaku yang sedang berusaha kabur. Saya terharu melihatnya. Bagaimana orang asing ternyata bisa sangat berempati, sehingga saling peduli dan membantu. Setelah kasus ini, mulai banyak kasus-kasus pelecehan seksual yang meng-spill pelakunya di Twitter. Ini juga bagus menurut saya, bisa sebagai pelajaran bagi kita untuk berhati-hati kepada predator seksual.

Baca juga  5 Aplikasi Media Sosial Karya Anak Bangsa

Tapi belakangan ini, tren spill the tea pelecehan seksual berubah fungsinya. Tadinya spill the tea pelecehan seksual ini menurut saya memiliki tujuan utama untuk mendukung korban dan menangkap pelaku. Belakangan ini, ada beberapa oknum yang membuat kasus spill the tea pelecehan seksual hanya sebagai konten. Maksudnya untuk konten adalah, mereka tidak benar-benar paham apa itu pelecehan seksual, dan sebenarnya tidak benar-benar mengalami. Ada yang seakan-akan “memancing” orang lain agar terlihat melakukan pelecehan seksual, jika orang tersebut “menangkap” umpan itu, mereka akan dijadikan konten dan disebut predator seksual. Ada juga yang bahkan menulis cerita fiksi yang terinspirasi dari sebuah novel, dan menceritakannya ulang seakan-akan si penulis ini adalah korban. Si penulis sepertinya meremehkan bakat intel warga Twitter, sehingga akhirnya ia ketahuan kalau hanya berbohong, entah apa tujuan sebenarnya.

Baca juga  Bagaimana Nasib Orang Utan Setelah Ini?

Saya sangat menyayangkan spill the tea kasus pelecehan seksual yang disalahgunakan ini. Menurut saya, karena ada beberapa kasus pelecehan “palsu” ini, kasus yang benar-benar terjadi jadi mulai diragukan. Padahal di kasus yang benar-benar terjadi inilah korban sangat membutuhkan bantuan. Karena beberapa oknum yang menggunakan tren ini hanya untuk konten semata, tanpa mengerti apa itu pelecehan seksual, saya jadi mencemaskan kasus-kasus lainnya. Apakah dukungan yang diberikan kepada korban akan tetap banyak? atau malah korban dicurigai sebagai pembuat konten untuk mencari ketenaran semata?

Baca juga  Kerja Harus Cerdas, Jangan Cuma Keras

Intinya, saya berharap orang-orang bisa lebih bijak dalam membuat konten di media sosial. Jangan menggunakan hal-hal yang sedang popular, lalu berusaha membuat konten palsu. Toh, kalau kamu ketahuan berbohong, peluru yang kamu tembakkan itu akan berbalik kepada kamu kan? Niat awalnya kamu ingin membuat si pelaku tampak jahat dan mendapat hukuman sosial dari warga Twitter, atau kamu berharap warga Twitter akan mendukung kamu. Padahal, kalau kamu bohong, kamu yang akan diserang oleh warga Twitter, dan itu tentunya akan mengganggu kesehatan mentalmu. Selain tren yang disalahgunakan sebagai konten di Twitter, memang sebenarnya masih banyak konten-konten di media sosial yang seperti dibuat secara asal demi popularitas semata. Padahal sebaliknya, konten yang kamu buat itu dapat membuat kamu menjadi musuh netizen. Jadi, lebih bijaklah dalam membuat konten ya!

"Teh Tumpah" di Twitter 3

Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

crescentalks

Novice