Traveling    , Sejarah   

Detektif Wisata: Menjelajah Semarang Kota Atlas


Detektif Wisata: Menjelajah Semarang Kota Atlas 1

Semarang Kota Atlas? Apakah maksudnya di Semarang itu ada peta bumi besar? Coba diperiksa dulu. Siapa tahu bisa jadi tujuan wisata baru.

Bukti 1: Cari Atlas yang Ada di Semarang

Memang Semarang disebut Kota Atlas. Tapi bukan Atlas peta bumi. Melainkan singkatan dari Aman, Tertib, Lancar, Asri dan Sehat. Slogan ini muncul dari Muhammad Ismail, Gubernur Jawa Tengah tahun 1983-1993.

Makanya Semarang itu terkenal dengan kotanya yang indah, apalagi setelah direvitalisasi. Di sini masih banyak bisa dilihat bangunan-bangunan tua yang masih terpelihara baik. Ada gedung Asuransi Jiwasraya, Gereja Blenduk, Lawang Sewu, Kantor Pos Besar, Gedung Marabunta dan Gereja Santo Yusuf Gedangan. Bahkan Stasiun Tawang yang sering banjir pun menyimpan keindahan jaman kuno yang unik. Jalanan di kota tua dilapisi paving block, yang selain kuat juga indah.

Simpang Lima dan Tugu Muda, pusat wisata dan kuliner pun tertata rapi. Walau mungkin kini jalanan sudah cukup ramai dan macet di beberapa tempat, tapi masih relatif longgar. Jarak yang sama yang mungkin harus dicapai dalam waktu 1 jam di Jakarta, di Semarang cukup 15 menit.

Tidak hanya tujuan wisata yang apik. Makam-makam besar di Semarang pun tertata rapi. Di Semarang ada kuburan Belanda, kuburan Cina dan kuburan nasional yang dapat dikunjungi. Bisa untuk mengenal sejarah maupun untuk berdoa.

 

Bukti 2: Hati-hati Orang Semarang Kuat Makan

Orang Semarang terkenal suka makan Ganjel Rel. Memang orang Semarang kuda lumping semua? Coba periksa.

Kue Ganjel Rel Semarang
Kue Ganjel Rel Semarang

Ternyata ganjel rel adalah nama lain roti gambang. Teksturnya keras, warna coklat, penuh rasa rempah dan gula aren. Enak banget dimakan pakai kopi pagi-pagi. Kalau bulan puasa, ganjel rel laku, soalnya bisa buat ganjel perut. Juga biasa dibagikan saat perayaan Dugderan, acara menjelang Ramadan. Kue Ganjel Rel merupakan simbol harapan puasa tanpa gangguan.

Tapi walaupun orang Semarang terbukti tidak kuat makan ganjel rel yang dari besi, tapi mereka tetap kuat makannya. Makanya ada banyak kuliner di sana.

Baca juga  5 Desa Terkenal dan Terindah di Indonesia, Yuk Mampir

Yang paling terkenal jelas Lumpia Semarang. Bahkan kuliner ini berhasil membuat Semarang dijuluki kota Lumpia. Penjual lumpia yang terkenal adalah di dekat Kelenteng Besar. Uniknya lumpia Semarang itu adalah dibuat dari rebung. Yang suka akan suka banget, yang gak suka dengan baunya, biasanya menjauhi. Lumpia ini bisa dibeli dalam keadaan tergoreng garing, maupun basah. Kalau beli bawa pulang, maka akan disertai besek, atau tempat makanan dari bambu khas Jawa.

Semarang juga terkenal dengan Soto Semarang, Nasi Ayam, Nasi Pindang, Nasi Goreng Babat, Babat Gongso, Tahu Gimbal, Tahu Pong, Mie Kopyok dan lainnya. Jajanannya yang harus dicoba adalah Wingko Babat, Mochi, Tahu Petis, Pisang Plenet, Gandos, dan Kue Leker.

Posisinya yang strategis membuat Semarang meng-“impor” banyak makanan daerah lain di Jawa Tengah. Bandeng presto yang terkenal itu aslinya dari Juwana di Pati. Demikian juga Nasi Gandul khas Pati. Selain itu banyak pula makanan yang dicap khas Semarang tapi sebenarnya juga didapati di tempat lain. Gudeg, Mangut Lele, Nasi Pecel, Asem-asem. Semuanya bikin air liur menetes.

Tapi hati-hati, di Semarang banyak juga makanan non halal yang enak. Jangan ragu bertanya kalau tidak yakin. Beberapa di antaranya yang terkenal tanpa mencantumkan nama binatang tak halal itu adalah Bakcang, Mi Titee, Bakmi Hap Kie, dan Bakmi Siang Kie. Jangan kuatir, mereka takkan “menjebak” kita karena toleransi beragama di Semarang sangat tinggi. Bahkan kalau jelas-jelas kita pakai atribut keagamaan yang melarang makan itu, mereka akan langsung memberitahu.

Jadi Kalau ke Semarang, persiapannya adalah buat daftar makanan yang hendak dicari. Kalau tidak, lewatlah itu semua.

 

Bukti 3: Banyak Pohon Asem di Semarang

Semarang kan berasal dari kata “sem”, yang berarti “asam/pohon asam” dan “arang”, yang berarti “jarang”. Kalau digabung jadi asem sing ditandur arang-arang (pohon asam yang ditanam jarang). Yang beri nama adalah  Ki Ageng Pandanaran I. Dia datang ke Pulau Tirang (dekat Bergota) dan lihat pohon asam yang jarang-jarang tumbuh berdekatan. Di jaman Belanda namanya sempat berubah jadi “Samarang.” Nah coba cari pohon asem di Semarang.

Baca juga  5 Wisata Malam Yang Wajib Kamu Kunjungi di Semarang, Hanya Ada di Indonesia

Sayangnya pohon asamnya sekarang tidak cuma jarang-jarang daunnya, tapi juga jarang terlihat. Beberapa lokasi yang saat ini masih ditumbuhi diantaranya, Jalan Dr Soetomo, Kawasan Pemakaman Bergota, Menteri Supeno, Kyai Saleh. Pohon asam yang berukuran besar ada di Jalan Menoreh Utara dan Pasar Peterongan.

Pohon Asem Semarang
Pohon Asem Semarang

Pohon asam yang sudah tua banyak ditebangi. Alasannya untuk revitalisasi, salah satunya Pasar Kembang Kalisari. Selain itu kalau di tepi jalan, rawan roboh. Tahun 2016 malah ada kasus pohon asam bunuh pejalan kaki.

Tapi untuk jaga karakter Semarang, Pemda membuat beberapa Taman Asam Semarang. Jadi masih bisa lihat pohon asam dengan replika bangunan-bangunan kuna. Salah satunya di Kawasan Kota Lama dan Hutan Wisata eks Bonbin Tinjomoyo.

 

Bukti 4: Ada 101 Klenteng di Semarang

Periksa laporan ini: ada 101 klenteng di Semarang. Apa benar?

Yang pasti harus didatangi duluan adalah Klenteng Besar atau Tay Kak Sie atau Gang Lombok. Usianya sudah 2,5 abad. Namanya saja Gang Lombok, jelas letaknya ya disitu. Banyak makanan enak di situ lho. Wah, gagal fokus. Disebut Klenteng Besar karena ada begitu banyak dewa dewi yang dihormati. Patung dewa dewinya banyak yang diimpor dari China. Tay Kak Sie adalah bahasa Hokian yang diterjemahkan jadi Klenteng Kesadaran Agung. Di atapnya ada 2 naga besar berebut matahari.

Klenteng Tay Kak Sie Semarang
Klenteng Tay Kak Sie Semarang

Next, Klenteng Sam Poo Kong. Klenteng di Simongan ini tadinya adalah masjid tempat istirahat Cheng Ho waktu memimpin armada perdamaian dari China. Ya, Cheng Ho adalah Muslim. Di dalamnya beristirahat Kiai Tumpeng, juru masak Cheng Ho yang juga muslim. Banyak muslim datang ke sini untuk menghormati Kiai Tumpeng. Ada juga Kiai Jangkar. Yang ini bukan jenazah manusia, tapi jangkar yang dulu dipakai Cheng Ho. Usianya 600 tahun lebih dan dikeramatkan sebagai salah seorang dewa. Yang juga  unik adalah sebuah pohon rantai berusia lebih dari 600 tahun dan sebuah sumur yang konon punya kekuatan mistis.

Baca juga  5 Tempat Rekreasi di Jakarta Barat yang Memikat
Detektif Wisata: Menjelajah Semarang Kota Atlas 3
Klenteng Sam Poo Kong Semarang

Karena Laksamana Cheng Ho sangat dihormati, maka hampir tiap tahun diadakan Festival Cheng Ho. Patung Cheng Ho diarak dari Kelenteng Tay Kak Sie ke Klenteng Sam Poo Kong. Tentu beserta patung itu ada pula berbagai penampilan Liong dan Barongsai.

Klenteng lain di Semarang juga sangat banyak. Di 1 jalan bisa ada beberapa klenteng. Di Sebandaran I ada Klenteng Hwie Wie Kiong yang punya kolam ikan dan patung bernuansa Eropa dan Klenteng See Hoo Kiong/Ma Tjouw Kiong yang bangunannya tak pernah dipugar. Di Gang Pinggir ada  Ling Hok Bio, Tong Pek Bio, dan Tek Hay Bio/ Kwee Lak Kwa yang artinya Kuil Penenang Samudera, makanya dekorasinya laut. Juga ada  Klenteng Grajen yang memuja Dewa Obat (Hian Thian Siang Tee) dan dipercaya bisa tolak bala.

Oh ya di Klenteng Tek Hay Bio juga dipuja Tek Hay Cin Jin, pahlawan penguasa lautan dan pelindung para nelayan. Tek Hay Cin Jin atau Kwee Lak Kwa, adalah pedagang yang memimpin pemberontakan melawan VOC tahun 1740an. Kwee Lak Kwa ini adalah orang Indonesia. Jadi jangan cari namanya di klenteng lain di dunia. Takkan ada. Dia asli Indonesia.

Walaupun mungkin jumlahnya tidak sampai 101, tapi wisata klenteng di Semarang bisa menghabiskan waktu seharian penuh.

So komandan, jangan buang waktu lagi. Kita lanjut Semarang, graaak.

Detektif Wisata: Menjelajah Semarang Kota Atlas 4


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Rowena Suryobroto

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments