Arwah Gantung Diri Penunggu Rumah Kosong yang Suka Usil


Arwah Gantung Diri Penunggu Rumah Kosong yang Suka Usil 1

Hujan tak kunjung berhenti di sebuah desa yang asing bagiku. Aku pun tampak kebingungan mencari tempat untuk berteduh. Sementara malam kian larut dan tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.

Aku merasakan malam itu sungguh berbeda dari biasanya. Begitu gelap dan amat mencekam hingga membuat bulu kudukku berdiri. Sungguh sial nasibku malam ini mesin motor yang terkena hujan sedari tadi membuatnya mati dan tidak bisa jalan.

“Sial!” Kataku kesal sambil memukul jok motor.

Sambil mendorong mobil yang mogok, aku masih mencari tempat untuk berteduh. Syukurlah, di ujung jalan aku menemukan sebuah rumah. Rumah itu tampak sepi dan kurang terawat. Namun, masih ada lampu remang-remang yang menyinari teras depan rumah itu.

“Permisi, Pak Bu. Saya mau menitipkan motor dan berteduh di sini?”

Namun, tidak ada seorang pun yang menyahut.

“Ah, sudahlah mungkin orang di dalamnya sudah tertidur lelap.” Kataku kembali.

Setelah aku menaruh motor di tempat yang tidak terkena hujan, lalu aku duduk saja dengan santai di teras rumah yang tak kuketahui siapa penghuninya.

Sambil menunggu hujan reda. Aku mencoba menghangatkan tubuhku yang cukup kedinginan dengan merokok. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba aku mencium bau yang aneh dan terasa menyengat sekali di hidung.

“Bau apaan nih?!” Kataku sambil mengendus dan mencari darimana sumber bau yang menyengat itu.

Namun, aku tak berhasil menemukan apa-apa. Selang beberapa saat setelah ada bau menyengat. Tiba-tiba aku mendengar suara gaduh yang cukup keras dari dalam rumah.

“Gubrak!”

“Apa tuh?” Kataku kaget dan terbangun.

Seketika aku pun penasaran dan mencari sumber suara tadi. Namun, lagi-lagi aku pun tak berhasil menemukan apapun.

Hujan masih saja belum berhenti dan aku masih terjebak di rumah yang seolah tak berpenghuni ini. Rumah yang jika diilihat-lihat cukup angker, tetapi apa boleh buat aku tidak ada pilihan kecuali harus berteduh di rumah ini.

“Cekrek!” Mendadak pintu rumah itu terbuka dengan sendirinya.

Dengan segala keberanian, akhirnya aku perlahan mendekati pintu yang terbuka sendiri. Namun, belum sempat aku menjangkau gagang pintu dan penasaran ingin melongok keadaan rumah itu. Pintu seketika menutup kembali seakan ada orang yang menutupnya dari dalam.

“Jebret!”

“Astaghfirullah!” Kataku terkaget-kaget sambil mengelus dada.

Kejadian demi kejadian yang janggal, membuatku merasa kalau rumah ini tidak beres. Aku kemudian melihat jam di tanganku dan waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.

Tengah malam, hujan deras dan hawa yang semakin mencekam membuatku jadi merasa ketakutan yang luar biasa.

Belum lagi suara burung hantu ikut terdengar di tengah malam itu.

“Kikuk…kikuk….kikuk!”

Rasa ketakutanku semakin jadi dan rasanya ingin pergi dari rumah kosong ini. Namun, apalah daya hujan masih saja turun cukup deras. Masih belum hilang rasa takutku, tiba-tiba aku mendengar suara seorang laki-laki.

“Mas, punya rokok nggak? Saya minta satu batang saja.”

“Si…si…siapa tuh?” Kataku sambil menoleh ke belakang.

Saat aku menoleh ke arah belakang ternyata aku tidak melihat apa-apa. Aku pun berteriak “Hantuu!” sambil berlari menerjang hujan yang cukup deras.

Aku terus saja berlari tanpa arah dan tujuan. Hingga di pertigaan aku menemukan sebuah Pos Ronda dan berhenti.

Syukurlah di Pos Ronda itu ternyata ada tiga orang warga yang sedang jaga malam. Dengan nafas yang terengah-engah, muka pucat dan jaket yang basah aku meminta tolong pada warga.

“Pak, tolong bantu saya? Di rumah itu ada hantunya!”

“Rumah yang mana, Mas?” Tanya bapak yang bertopi hitam.

“Rumah kosong dekat ujung jalan itu, Pak?” Kataku dengan tangan gemetaran.

“Waduh! Rumah kosong itu mah memang angker, Mas. Dulu, katanya ada seorang laki-laki seumuran saya gantung diri dan arwahnya masih gentayangan di rumahnya.”

Mendengar penjelasan dari bapak yang pakai topi hitam. Aku langsung lemas dan tidak berani untuk mengambil motor yang kutinggal di sana.

“Terus, motor saya bagaimana Pak?”

“Saran saya sih, motor Mas biarkan saja di sana. Kalau mau diambil besok pagi saja. Saya juga nggak berani kalau sudah malam-malam begini.” Timpal bapak bertopi hitam lagi.

Di Pos Ronda itu, mereka bercerita kalau hantu laki-laki yang tewas karena gantung diri itu memang suka usil. Ada cerita juga bahwa seorang ibu-ibu pulang dari pasar dan lewat depan rumah itu dia dilempari puntung rokok.

Lalu, ada cerita lain juga kalau arwah gentayangan laki-laki itu juga suka menampakkan diri dengan muka pucat dan ada tali bekas gantung diri yang masih melekat di lehernya.

“Untung saja Mas cuma digangguin, coba kalau sampai dicekik sama hantu itu?” Bapak yang pakai jaket hitam justru membuat nyaliku semakin ciut.

Sebab, sudah pukul 2 malam. Aku meminta ijin pada mereka untuk menginap malam ini di Pos Ronda. Soalnya besok pagi aku harus mengambil motorku yang tertinggal di rumah kosong berhantu.

“Pak, boleh tidak saya numpang tidur di sini. Besok saya mau ambil motor di rumah kosong itu?” Tanyaku.

“Oh, boleh silakan saja Mas,” kata mereka.

Esok pagi pun tiba. Tepat pukul 6 pagi, aku langsung buru-buru mengambil motor yang kutinggal di rumah kosong berhantu itu.

Sesampainya di sana, nyaliku sedikit ciut lagi. Namun, dengan segenap keberanian akhirnya aku mengambil motor yang kutaruh di samping rumah.

Memang benar, aura horor sungguh terasa di rumah kosong ini bahkan di pagi hari sekalipun. Tanpa basa-basi karena aku takut hantu itu akan muncul. Segera saja aku menyalakan mesin motor dan berlalu pergi.

Sebelum meninggalkan rumah kosong itu dan berpacu dengan motor. Aku sempat menengok ke arah belakang. Bukan main kagetnya diriku saat melihat arwah laki-laki penghuni rumah kosong itu tersenyum padaku sambil melambaikan tangan.

“Astaghfirullah!” Kataku sambil berlalu pergi.

Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Mericy. S

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap