Awas Salah Dikit Kena “Cancel Culture”

Awas Salah Dikit Kena “Cancel Culture” 1

Sering sekali kita mendengar berita terkait idola K-Pop yang terjerat kasus negatif, misalnya menjadi pelaku kekerasan seksual. Sekarang ini lagi heboh perkara kasus yang menjerat artis Korea Selatan yang sedang booming yaitu Kim Seon Ho, salah satu pemain drama korea Hometown Chachacha yang baru saja selesai tayang. Mulai dari kasus yang menyuruh mantannya untuk aborsi hingga tingkahnya yang suka mengejek sesama rekan kerjanya di belakang kamera. Kini tengah ramai netizen Korea yang mengumpulkan massa untuk memboikot artis yang terkena kasus negatif di industri dunia hiburan.    

Netizen Korea Selatan dinilai sangat beringas dan strict mengenai nilai-nilai kesempurnaan yang harus dijunjung sebagai artis. Misalnya, nilai kesopanan hingga masa lalu harus bersih dari perbuatan yang negatif. Jika memiliki track record yang jelek pada masa lalunya dan terekspos oleh publik, maka netizen tidak segan-segan untuk memblacklist artis tersebut di industry hiburan. Istilah kerennya adalah cancel culture. Jadi, apa sih cancel culture dan bagaimana implikasinya?

Sering sekali kita mendengar berita terkait idola K-Pop yang terjerat kasus negatif, misalnya menjadi pelaku kekerasan seksual. Sekarang ini lagi heboh perkara kasus yang menjerat artis Korea Selatan yang sedang booming yaitu Kim Seon Ho, salah satu pemain drama korea Hometown Chachacha yang baru saja selesai tayang. Mulai dari kasus yang menyuruh mantannya untuk aborsi hingga tingkahnya yang suka mengejek sesama rekan kerjanya di belakang kamera. Kini tengah ramai netizen Korea yang mengumpulkan massa untuk memboikot artis yang terkena kasus negatif di industri dunia hiburan.

Cancel culture adalah suatu praktik yang dilakukan sekelompok masyarakat untuk memboikot atau menarik dukungan secara terang-terangan terhadap individu, organisasi, tokoh publik, dan sebagainya. Sebenarnya budaya ini sudah lama diterapkan  Aksi tersebut terjadi karena tokoh tersebut melakukan perbuatan yang melenceng yang dianggap menyalahi norma yang berlaku di masyarakat. Maka, publik murka dan tidak menerima orang tersebut sebagai panutan (role model) yang patut untuk dicontoh.

Tak bisa dipungkiri bahwa kita telah hidup di era serba digital. Hal ini berarti setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengekspresikan diri atas situasi yang terjadi. Akses ke media sosial yang bebas memungkinkan siapapun untuk berbagi pendapat, komentar, kritik, hingga kecaman yang seringkali diunggah tanpa filter. Beberapa pengguna media sosial juga bersembunyi di akun-akun palsu, terutama bagi mereka yang merencanakan ujaran kebencian (spread hate) yang menimbulkan kontroversi kepada pihak yang ditargetkan.

Lumrah hukumnya melakukan cancel culture seperti ini. 

Cancel culture ini biasanya ditujukan pada tokoh terkenal. Jika kita melihat dari perspektif netizen, tokoh publik akan cenderung dihujat ketika melakukan suatu  kesalahan. Tidak peduli 1001 kebaikan yang telah diperbuat, jika salah sedikit pasti akan terlihat. Lalu, netizen akan beramai-ramai untuk mengingatkan dengan baik. Masalah ini terletak pada manner dari tokoh publik yang dicap salah itu.   

Setiap tindakan yang dilakukan memiliki konsekuensi, apalagi jika orang tersebut disorot kamera dalam kesehariannya. Sebagai artis dituntut serba sempurna, tetapi kita jangan sampai gelap mata. Kita tidak tahu bagaimana tabiat asli dari artis tersebut. Bisa saja didepan kamera, ia adalah orang yang sopan, ramah, dan suka senyum. Namun, ia bisa berubah 180 derajat berbeda di belakang kamera. Memang jadi artis itu gampang gampang susah, apalagi jadi artis Korea. Apabila berita negatif telah dikonfirmasi, maka bersiap-siaplah semua reputasi, citra, dan karier yang dibangun dengan susah payah akan tetap sirna. Sulit untuk naik pamor lagi.Berbeda kalau artis atau selebriti Indonesia tersandung kasus negatif, bukannya malah meredup kariernya justru mereka semakin terkenal di TV. Terkadang miris, sepertinya Indonesia belum bisa menerapkan cancel culture.

Jadi, bagaimana kita menyikapi ketika selebriti yang kita sukai tersandung kasus negatif semacam itu?

Pertama, kita harus mengakui terlebih dahulu. Jangan pernah menolak (denial), seolah ia memang sesuai yang kamu bayangkan. Misal, citra artis ketika main di drama adalah sebagai anak baik, manis, ga mungkin melakukan hal ini itu. Dengan kamu berani mengakui, posisi kamu menjadi lebih netral dan fair dalam merespon keadilan atas situasi yang terjadi.

Kedua, tahan emosi. Kalau kamu memang fans dari selebriti tersebut, coba munculkan rasa empati kepada korban yang telah berani speak up atas masalah yang dihadapinya. Sebagai fans, mungkin kita merasa kesal atau tidak terima ketika tau kebenarannya. Tetapi, harus diingat bahwa ada loh korban yang berjuang untuk melawan rasa traumanya.

Ketiga, meski sulit untuk diterima, perlu diingat bahwa posisi korban itu rentan. Apalagi jika korbannya adalah perempuan, dimana posisi perempuan menjadi selalu dipinggirkan di struktur patriarki masyarakat. Selain itu, korban juga berbicara tentang keadilannya. Tujuan utama korban melaporkan suatu kasus yang dialaminya itu sebagai upaya untuk mendapatkan pemulihan. Sementara, hancurnya karier pelaku adalah suatu konsekuensi atas apa yang ia perbuat.

Keempat, siapkan diri untuk menerima faktanya. Jangan terlalu silau dengan citra baik yang telah diciptakan oleh media. Semua kasus negatif yang menyangkut selebriti telah berulang kali terjadi. Jadikan itu pembelajaran yang membawamu pada kesadaran untuk menempatkan posisimu sebagai korban, dimana kamu akan memprioritaskan hak-hak korban. Hal ini penting agar kita bisa belajar lebih peka dan berempati dengan sekitar.

Gimana nih? Sekarang jadi tau kan cancel culture seperti apa? Jadilah pengguna media sosial yang bijaksana. Ketika kita melihat berita yang sedang trending, kalian dapat berhenti sejenak. Merefleksi dan tidak langsung bereaksi terhadap berita tersebut. Tanyakan pada diri sendiri, apa yang ingin saya capai dari berkomentar? Seperti pepatah: “Mulutmu adalah harimaumu,” tetapi hari ini diganti menjadi “Jarimu adalah harimaumu,”. Selalu bersimpati kepada korban dan melihat berbagai sudut pandang. Kalau selebriti yang kita sukai terjerat kasus, jangan sampai kalian menyalahkan korban ya.

 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Winda Nurmalita