Bagaimana Kata Para Ulama Soal Lailatul Qadar?


Bagaimana Kata Para Ulama Soal Lailatul Qadar? 1

Lailatu al-qadar, secara faktual telah dengan eksplisit Allah Swt firmankan dalam surah al-Qadr, “Lailatu al-qadri khairun min alfi syahr.” (malam al-qadar lebih baik dibanding seribu bulan).

Disebut lailatu al-qadar, karena Allah Swt menakdirkan sesuatu yang Allah Swt kehendaki dari segala urusan-urusanNya, yaitu di antaranya mengenai kematian (ajal), rezeki makhlukNya, dan sebagainya. Definisi lain menyebutkan, sebagian memaknainya dengan lailatu al-hukm (malam keputusan). Versi lain menyebutkan, lailatu al-qadar adalah lailatu al-syarf (malam kemuliaan), disebabkan mulia dan keagungan malam itu.

Imam al-Azhari atau yang sependapat dengannya berkata, “Sesungguhnya kemuliaan lailatu al-qadar pada hakikatnya terletak –atau kembali– pada individu-individu manusia yang melakukan ketaatan di malam itu.” Jadi, siapa saja yang beramal kebajikan (shalih) di waktu itu, maka jadilah ia meraih kemuliaan dan keagungannya. Jelasnya, menurut Imam al-Azhari, kemulian malam lailatu al-qadar dapat direngkuh dan  kembali pada perbuatan (amal shalih) masing-masing orang.

Sebagaimana tersurat dalam surat al-Qadr, “Lailatu al-qadri khairun min alfi syahr..” Kemuliaan satu malam lailatu al-qadar setara dengan kemuliaan 83 tahun 4 bulan lamanya. Dan demikian tersebut kompensasi khusus untuk umat Muhammad. Nabi Saw bermunajat, “Ya Allah, Engkau jadikan umatku pendek umurnya dan sedikit amalnya.” Kemudian, Allah Swt mengabulkannya dengan menganugerahi beliau satu malam, yang kemuliaannya lebih dahsyat dibanding seribu bulan, yaitu lailatu al-qadar.

Ada ragam ikhtilaf mengenai kapan jatuhnya malam lailatu al-qadar. Sebagian berinterpretasi, bahwa ia jatuh papa malam ke-19 bulan Ramadhan. Ada yang berpendapat, malam ke-17. Ada pula yang berpandangan, jatuh pada malam pertengahan bulan Ramadhan.

Versi lain menyebutkan, ia jatuh sebulan penuh di bulan Ramadhan. Bahkan, versi lain menyatakan, jatuh pada setahun penuh (sairi al-sanah). Ada juga ulama yang berpandangan, lailatu al-qadar jatuh pada malam kesepuluh terakhir. Pendapat yang terakhir ini menjadi pilihan khusus banyak ulama, berdasar pada satu hadits, “Hiya min asyri al-awakhiri min ramadhan” (ia jatuh di sepuluh akhir bulan Ramadhan).

Imam Nawawi al-Jawi dalam Tafsir Murah Lubid menjelaskan, bahwa lailatu al-qadar terjadi pada malam ke-24 bulan Ramadhan sebagaimana Allah menurunkan paket Al-Quran dalam jumlah satu dari Lauh Mahfuz ke atmosfir dunia. Ibnu Abbas menuturkan, jumlah huruf lailatu al-qadar sebanyak 17 huruf (meski yang lain berpandangan ada 19 huruf) dengan tidak menghitung huruf-huruf kembar. Darinya, kata Ibnu Abbas, “Salah seorang mengabariku, dia merasakan air laut tawar di malam ke 17 bulan Ramadhan, maka aku sampaikan padanya, malam itu terjadi lailatu al-qadar.” (Lihat, jilid 2 halaman 650)

Berbeda dengan pandangan yang telah disinggung di atas, adalah pendapatnya Imam Al-Bujairami, beliau berkata, “Jika lailatu al-qadar jatuh pada malam ke-21, maka lailatu al-qadar jatuh pula pada setahun penuh, tepatnya di tiap-tiap malam tanggal 21.”

Ada juga ulama lain berpendapat, bahwa lailatu al-qadar jatuh pada tiap-tiap tanggal ganjil di malam ke-10 akhir bulan Ramadhan, yaitu tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Syafi’i yang kemudian dipilih oleh Imam Nawawi.

Imam Al-Ghazali memiliki pendapat yang berbeda dari kebanyakan ulama lainnya, beliau memandang bahwa jatuhnya malam lailatu al-qadar memiliki keterkaitan dengan –atau tergantung pada– hari awal masuknya bulan Ramadhan. Beliau merinci, jika awal bulan Ramadhan jatuh pada hari Ahad dan Rabu, maka lailatu al-qadar jatuh pada malam ke-29.

Jika awal masuk bulan hari Senin, maka ia jatuh pada malam ke-21. Jika hari Selasa, maka jatuh pada malam ke-27. Jika hari Kamis, maka jatuh pada malam ke-25. Dan, jika awal masuk Ramadhan jatuh pada hari Jum’at dan Sabtu, maka lailatu al-qadar jatuh pada malam ke-23.

Ada lagi salah satu ulama yang memukakan pendapat, bahwa lailatu al-qadar jatuh pada nishfu Sya’ban (pertengahan bulan Syaban). Namun, mayoritas ulama (jumhur ulama) mengomentarinya, bahwa pendapat tersebut merupakan pendapat yang “syadz” (nyeleneh) dan tidak layak digunakan.

Ditegaskan dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, bahwa lailatu al-qadar akan selamanya ada dan terjadi (baqiy daim) berlangsung hingga hari kiamat. Meski begitu, ada salah seorang ulama yang berpendapat, malam lailatu al-qadar telah diangkat atau dicabut (yurfa’).

Menurut pendapat ini, segala peristiwa penting, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Quran surah al-Qadr hanya terjadi pada masa Nabi Saw, bukan sebuah peristiwa yang kontinyu hingga terus berlangsung dari zaman ke zaman pasca kenabian. Namun pendapat ini kontra dengan pendapat ulama masyhur yang mu’tabarah. Bahkan, disinyalir pendapat tersebut adalah pendapat kaum Rafidhah, sebuah massa yang berafiliasi pada penganut dan berpaham Syi’ah.

Allah Swt tidak menampakkan jatuhnya lailatul al-qadar dengan pasti, tidak seperti halnya Malam Jum’at, agar dengan begitu manusia akan selalu berupaya melaksanakan amal ketaatan. Jika ditampakkan, maka kemudian yang akan terjadi mereka melakukan ketaatan pada saat tertentu, lalu mengaku telah meraih kemuliaan lailatu al-qadar dan menganggap dirinya telah diampuni Allah dan mendapatkan surga hingga dirinya merasa tak perlu lagi melakukan ketaatan.

Demikian ini, sama halnya dengan Allah merahasiakan ajal (waktu kematian) manusia. Seandainya Allah tampakkan, maka yang terjadi manusia menjadi gemar melakukan kemaksiatan selagi batas umurnya masih jauh, lalu bertaubat dan melakukan ketaatan setelah ajalnya mendekat. Maka, semua akan menjadi rancu dan rusak. Begitu Syekh Abdul Qodir al-Jilani menjelaskannya dalam al-Ghuniyah.

Meski begitu, dalam kitab yang sama, Syekh Abdul Qodir al-Jilani memberikan sinyalemen akan tanda-tanda lailatu al-qadar, bahwa pada malam itu udara terasa tidak panas dan tidak juga dingin.  Pendapat lain, pada malam itu tidak terdengar gonggongan anjing, dan matahari terbit di waktu subuh, tanpa adanya pancaran cahaya yang nampak seperti berkilauan.

Keajaiban malam itu dapat dirasakan oleh pemilik hati yang lembut, para wali, dan orang-orang yang taat yang telah Allah kehendaki dari hamba-hambaNya yang mukmin sesuai kadar perilaku, tingkat, dan derajat mereka dalam bertaqarrub kepada Allah Swt.

Akhiran, malam lailatu al-qadar merupakan bagian gaib dan rahasia. Ia semacam alam malakut yang tak mudah tersingkap. Saking tak mudahnya tersibak, Nabi sendiri melaksanakan aneka ibadah di sepanjang bulan Ramadhan dengan penuh, tanpa memberikan pembatasan khusus di antara malam yang satu dengan yang lainnya. Wallahu A’lam.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Holikin

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap