Bagaimana Keadaan Dunia Jika Tidak Ada Listrik, Apa yang Menjaminnya Tetap Ada?

Bagaimana Keadaan Dunia Jika Tidak Ada Listrik, Apa yang Menjaminnya Tetap Ada? 1

Tanpa ada listrik, rumah dan jalanan akan menjadi gelap gulita. Gedung di kantor kita akan berhenti beroperasi. AC dan TV tak berfungsi, membuat kita kepanasan juga kehilangan media informasi. Dan kita tidak bisa mengisi daya baterai handphone, apalagi mengakses jaringan internet. Jadi puasa media sosial deh.

Sejujurnya orang tidak bisa membayangkan hidup tanpa listrik. Walau sesekali, kita pernah mengalami momen pemadaman listrik. Apa yang dapat menjamin agar aliran listrik itu tetap menyala, dan tidak tiba-tiba mati untuk selamanya?

Pada 2050, kebutuhan listrik bakal melonjak tiga kali lipat daripada hari ini. Soalnya, urbanisasi dan industrialisasi bakal terus ada. Malah, mungkin jauh lebih pesat dari sebelumnya. Dan gaya hidup baru orang-orang untuk menggunakan peralatan serba elektrik, bakal semakin terjadi.

Yang penting diketahui soal pemakaian listrik, konsumsi rumah tangga adalah yang jadi juaranya. Bahkan lebih tinggi dari pemakaian listrik industri. Meski begitu ada sekitar 500 lebih rumah tangga di Indonesia yang belum Indonesia yang belum teraliri listrik loh. Hmm, kenapa bisa begitu ya?

Kita mesti membayangkan ini, Indonesia punya geografi negara yang unik. Sebuah kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, jelas adalah tantangan tersendiri dalam membangun infrastruktur elektrifikasi nasional. Tidak mudah membangun infrastruktur listrik ke wilayah tertentu di sebagian Indonesia timur.

Soalnya, wilayah-wilayah yang belum terjangkau listrik itu berada di kondisi medan yang sulit dan di kawasan terpencil. Tapi, dalam 6 tahun terakhir sih, rasio elektrifikasi itu sudah meningkat. Dari sekitar 84% pada 2014, kini sudah 99,20% wilayah di Indonesia yang tercatat mendapatkan pasokan listrik.

Meski, capaian 100% rasio elektrifikasi juga bukan segalanya. Karena masih ada masalah kualitas listrik, keberlanjutan, dan kemanfaatan akses energi listrik untuk ekonomi yang produktif setelahnya. Lantas, potensi apa yang Indonesia punya untuk mengatasi ini?

Pemanfaatan energi terbarukan untuk listrik menjadi salah satu strategi penting dan merupakan momentum yang baik. Ini seperti mendayung perahu, dua pulau terlampaui. Ada beberapa alasan:

Pertama, Indonesia kaya akan sumber potensi untuk energi terbarukan, namun belum optimal dimanfaatkan.

Sebab pemanfaatan energi baru dan terbarukan Indonesia saat ini 11%, baru separuhnya dari target 23% pada 2025. Setidaknya ada potensi sekitar 422 GWh dari sumber energi terbarukan yang dapat diolah menjadi listrik. Itu setara hampir enam kali lipat dari konsumsi listrik kita saat ini.

Kedua, energi terbarukan dapat membantu di wilayah-wilayah yang tidak terjangkau listrik dan tidak tersedia sumber energi primer. Soalnya, Indonesia membutuhkan investasi senilai sekitar $43,7 miliar untuk memperluas jaringan transmisi dan distribusinya. Ongkos yang besar itu punya alternatif lain dengan mengoptimalkan listrik dari sumber energi terbarukan.

Ketiga, proyek energi terbarukan bisa jadi solusi untuk pemulihan pasca pandemi Covid19. Seperti contoh, pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap misalnya. Selain dapat menyerap tenaga kerja baru, proyek ini juga bisa memangkas subsidi listrik dalam jangka panjang.

Kalau hal ini terus didorong, bukan hanya jaminan aman kebutuhan listrik yang terjadi. Tapi juga transisi ke energi yang bersih, artinya Indonesia sebenarnya memiliki potensi diversifikasi energi yang sangat baik. Cuma, itu tergantung dengan kita semua. Mau dimanfaatkan dengan baik atau tidak. Dan, perlu banyak sekali inovasi untuk mendorongnya.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Hafizh