Bagaimana Keadaan Dunia Jika Tidak Ada Listrik, Apa yang Menjaminnya Tetap Ada?

Bagaimana Keadaan Dunia Jika Tidak Ada Listrik, Apa yang Menjaminnya Tetap Ada?

Tanpa ada , rumah dan jalanan akan menjadi gelap gulita. Gedung di kantor kita akan berhenti beroperasi. AC dan TV tak berfungsi, membuat kita kepanasan juga kehilangan media informasi. Dan kita tidak bisa mengisi daya baterai handphone, apalagi mengakses jaringan internet. Jadi puasa media sosial deh.

Sejujurnya orang tidak bisa membayangkan hidup tanpa . Walau sesekali, kita pernah mengalami momen pemadaman . Apa yang dapat menjamin agar aliran itu tetap menyala, dan tidak tiba-tiba mati untuk selamanya?

Pada 2050, kebutuhan bakal melonjak tiga kali lipat daripada hari ini. Soalnya, urbanisasi dan industrialisasi bakal terus ada. Malah, mungkin jauh lebih pesat dari sebelumnya. Dan baru orang-orang untuk menggunakan peralatan serba elektrik, bakal semakin terjadi.

Yang penting diketahui soal pemakaian , konsumsi rumah tangga adalah yang jadi juaranya. Bahkan lebih tinggi dari pemakaian industri. Meski begitu ada sekitar 500 lebih rumah tangga di yang belum yang belum teraliri loh. Hmm, kenapa bisa begitu ya?

Baca juga  Termakan Doktrin Kiamat, 52 Warga Ponorogo Pindah Ke Malang

Kita mesti membayangkan ini, punya geografi negara yang . Sebuah kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, jelas adalah tantangan tersendiri dalam membangun infrastruktur elektrifikasi nasional. Tidak mudah membangun infrastruktur ke wilayah tertentu di sebagian timur.

Soalnya, wilayah-wilayah yang belum terjangkau itu berada di kondisi medan yang sulit dan di kawasan terpencil. Tapi, dalam 6 tahun terakhir sih, rasio elektrifikasi itu sudah meningkat. Dari sekitar 84% pada 2014, kini sudah 99,20% wilayah di yang tercatat mendapatkan pasokan listrik.

Meski, capaian 100% rasio elektrifikasi juga bukan segalanya. Karena masih ada masalah kualitas listrik, keberlanjutan, dan kemanfaatan akses energi listrik untuk ekonomi yang produktif setelahnya. Lantas, potensi apa yang punya untuk mengatasi ini?

Baca juga  Sistem Pendidikan Indonesia Di Masa Pandemi

Pemanfaatan energi terbarukan untuk listrik menjadi salah satu strategi penting dan merupakan momentum yang baik. Ini seperti mendayung perahu, dua pulau terlampaui. Ada beberapa alasan:

Pertama, kaya akan sumber potensi untuk energi terbarukan, namun belum optimal dimanfaatkan.

Sebab pemanfaatan energi baru dan terbarukan saat ini 11%, baru separuhnya dari target 23% pada 2025. Setidaknya ada potensi sekitar 422 GWh dari sumber energi terbarukan yang dapat diolah menjadi listrik. Itu setara hampir enam kali lipat dari konsumsi listrik kita saat ini.

Kedua, energi terbarukan dapat membantu di wilayah-wilayah yang tidak terjangkau listrik dan tidak tersedia sumber energi primer. Soalnya, membutuhkan investasi senilai sekitar $43,7 miliar untuk memperluas jaringan transmisi dan distribusinya. Ongkos yang besar itu punya alternatif lain dengan mengoptimalkan listrik dari sumber energi terbarukan.

Baca juga  8 Hal Yang Biasanya Dilakukan Oleh Orang Tionghoa Pada Saat Imlek

Ketiga, proyek energi terbarukan bisa jadi solusi untuk pemulihan pasca Covid19. Seperti contoh, pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap misalnya. Selain dapat menyerap tenaga kerja baru, proyek ini juga bisa memangkas subsidi listrik dalam jangka panjang.

Kalau hal ini terus didorong, bukan hanya jaminan aman kebutuhan listrik yang terjadi. Tapi juga transisi ke energi yang bersih, artinya sebenarnya memiliki potensi diversifikasi energi yang sangat baik. Cuma, itu tergantung dengan kita semua. Mau dimanfaatkan dengan baik atau tidak. Dan, perlu banyak sekali inovasi untuk mendorongnya.

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Hafizh