Bahaya Jejak Karbon Industri Fashion pada Keanekaragaman Hayati Dunia

Bahaya Jejak Karbon Industri Fashion pada Keanekaragaman Hayati Dunia

Peningkatan konsumsi fashion, memunculkan fast fashion, yakni fashion yang menghasilkan koleksi tren terbaru dalam waktu singkat. Dilansir dari laman unece.org, industri ini menyumbang emisi gas rumah kaca secara global sebesar 2-8%.

Emisi ini dihasilkan dari jejak karbon yang dipengaruhi oleh penggunaan dan jenis energi yang digunakan. Efek gas rumah kaca mengancam kelangsungan hidup suatu spesies melalui dan perubahan iklim.

Akan tetapi, pernahkah terpikirkan olehmu apa yang akan terjadi bila mereka tidak dapat beradaptasi dengan perubahan? Yup, Kepunahan dan penurunan keanekaragaman hayati. Berdasarkan penelitian Wendy et al dalam PLoS ONE beberapa fitur biologis ini rentan terhadap perubahan iklim. ? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini ya…

Mikrohabitat

ilustrasi kecebong di perairan (pexels.com/@fox-58267)
ilustrasi kecebong di (pexels.com/@fox-58267)

Area kecil dalam habitat ini mewakili kondisi tempat tinggal yang lebih disukai oleh spesies tertentu sehingga menjadi lebih dari habitat sekitarnya. Adanya mikrohabitat ini menandakan bahwasanya hidup spesies tersebut terikat oleh kondisi dengan persyaratan tertentu serta lebih sensitif.

Oleh karena itu, ketika kondisi yang diinginkan tidak terpenuhi maka spesies menjadi lemah terhadap perubahan. Selain itu, sensitivitas di beberapa spesies akan meningkat sesuai dengan siklus hidupnya.

Toleransi lingkungan

ilustrasi tanaman eksotik di gurun pasir panas (pexels.com/@jonathanborba)
ilustrasi tanaman eksotik di gurun pasir panas (pexels.com/@jonathanborba)

Spesies dengan toleransi yang sempit memiliki fisiologis cenderung sensitif terhadap kondisi lingkungan tertentu. Seperti suhu, pH, kelembaban, dan kadar oksigen apalagi jika kondisi tersebut terpaut dengan perubahan iklim.

Akan tetapi, keadaan ini tidak menjadikan spesies dengan toleransi yang luas berada pada keadaan -baik saja karena, bisa saja toleransinya sudah mendekati ambang batas sehingga fungsi fisiologisnya cepat rusak.

Fenologi

ilustrasi kawanan burung bermigrasi (unsplash.com/@7bbbailey)
ilustrasi kawanan bermigrasi (unsplash.com/@7bbbailey)

Perubahan iklim dan musim akan berdampak pada pergeseran fenologi, yakni peristiwa biologis tahunan. Contohnya saja migrasi, hibernasi, reproduksi, dan mekarnya pada banyak spesies.

Pergeseran fenologi terkait dengan waktu dan faktor lingkungan, seperti peningkatan suhu di musim semi menyebabkan periode migrasi burung menjadi lebih sehingga memengaruhi musim kawin atau pendeknya periode hibernasi akibat musim dingin yang menghangat.

Interaksi biotik

ilustrasi laba-laba orb-weaver memangsa lalat (unsplash.com/@buddhapixel)
ilustrasi laba-laba orb-weaver memangsa (unsplash.com/@buddhapixel)

Bentuk interaksi dalam berupa jaring , penyerbukan, dan interaksi kompleks simbiosis ataupun parasit-inang.

Pada rantai makanan, curah hujan, kadar karbondioksida, dan suhu memengaruhi struktur vegetasi yang berdampak terhadap keberkelanjutan reproduksi dan kelangsungan hidup herbivora serta predatornya. Terutama spesies yang sangat bergantung pada sumber makanan tertentu.

Populasi kecil

ilustrasi beruang madu di lubang kayu (unspalsh.com/@veverkolog)
ilustrasi beruang madu di lubang kayu (unspalsh.com/@veverkolog)

Populasi kecil sangat rentan terhadap 3 hal yakni bencana alam, yang minim untuk pulih setelah kepunahan lokal, dan kecilnya laju pertumbuhan pada populasi dengan kepadatan rendah.

Ketiganya akan berdampak pada kelangkaan spesies, yang diperparah dengan perkawinan sedarah sehingga keturunannya lebih sensitif terhadap perubahan iklim.

Kemampuan penyebaran yang buruk

ilustrasi siput cokelat, si penjelajah kecil (pexels.com/@pixabay)
ilustrasi siput cokelat, si penjelajah kecil (pexels.com/@pixabay)

Adaptasi dan hambatan fisik merupakan parameter yang menentukan keberhasilan penyebaran suatu spesies. Rendahnya kapasitas adaptif sulit untuk menyesuaikan antara hadirnnya spesies dengan variabel bioklimat (suhu dan curah hujan) untuk menentukan relung iklim spesies di habitat baru.

Sedangkan hambatan fisik, terjadi saat spesies melakukan penyebaran atau kolonisasi jarak jauh maka akan menghadapi berbagai hambatan. Di antaranya hambatan alami seperti lautan, hambatan antropogenik misalnya bendungan, ketidaksesuaian faktor abiotik (arus laut dan suhu), dan iklim.

Nah, sekarang kamu sudah tau bukan bagaimana kontribusi kita baik secara sadar ataupun tidak mampu mengancam kepunahan serta penurunan keanekaragaman hayati.

Oleh karena itu, untuk mengantisipasi keduanya pemangku , industri, pengecer, dan konsumen perlu mengambil langkah sesuai perannya. Sebagai konsumen, maka bijaklah dengan menerapkan sustainable fashion sebagai bentuk pedulimu pada lingkungan.


Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Haniyatul Huda