Balada “Nyi” Dahlan Iskan & Penggunaan Dhamir yang Risih


Balada "Nyi" Dahlan Iskan & Penggunaan Dhamir yang Risih 1

Dalam gramatika Arab, kata ganti diistilahkan dengan sebutan dhomir. Penggunaan dhomir dapat meringkas kata-kata, yang jika tidak diganti dengan menggunakan dhomir niscaya kalimatnya menjadi panjang. Hal ini disebut ithnab (bertele-tele). Demikian ini sangat ditentang dalam sastra Arab, terkhusus dalam ilmu Balaghah.

Para cendekia Muslim, khususnya di bidang gramatika (ilmu al-nahwi) sangat konsen dengan masalah penggunaan dhomir, karena penggunaannya yang tepat dapat meningkatkan tingkat keakuratan makna yang sebenarnya. Dapat juga dipahami dengan sebenarnya, hingga tidak fatal memahami teks. Apalagi para mufassir (ahli tafsir) memasukkan permasalahan dhomir ini sebagai satu pembahasan khusus di dalam manuskrip kebahasaan mereka.

Misalnya, Imam al-Zarkasy, dan Imam Ibnu al-Anbariy. Kedua pakar tafsir ini menulis sebuah kitab khusus yang menjelaskan penggunaan dhomir (kata ganti) hingga berjilid-jilid. Artinya apa, pelajaran tentang tempat kembalinya dhomir berikut penggunaannya sudah menjadi perhatian serius para pendahulu kita.

Khusus persoalan ini (kata ganti), sedikit saya ingin mengomentari gawe “besar” Pak Dahlan Iskan. Dalam catatannya, yang ditulis pada Rabu 25 September 2019, Pak Dahlan berencana membedakan dalam menulis “nya”. Kata beliau, “akan ada “nya” dan akan ada “nyi”. Rupanya, demikian itu kelanjutan dari garapan beliau tahun lalu. Kemudian, hingga detik ini beliau lakukan secara konsisten. Bahkan, sangat istikomah.

Pak Dahlan telah menetapkan, “nya” untuk laki-laki dan “nyi” untuk perempuan. Tak hanya itu, beliau juga menetapkan yang sebelumnya sempat ragu-ragu mengenai penggunaan “dia” untuk perempuan dan “ia” untuk laki-laki. Namun, atas usulan pembaca DI’s Way, beliau menjadi mantap.

Hingga hari ini, saya tidak tahu alasannya. Untuk “nya” dan “nyi”, mengapa tidak dibalik saja. “Nyi” untuk laki-laki dan “nya” untuk perempuan, toh tidak ada salahnya? Pak Dahlan menyadari, bahwa perbedaan penggunaan kata ganti untuk laki-laki dan perempuan, kususnya penggunaan “dia” dan “ia” tidak menjadi perhatian serius khalayak, termasuk insan kampus.

Akan tetapi, Pak Dahlan tetap ngotot, “Mulai tanggal 1 Oktober nanti, kalau saya menulis “katanya”, berarti yang mengatakan adalah sosok laki-laki. Kalau saya nanti menulis “katanyi” berarti yang mengatakan adalah sosok wanita. Demikian juga dengan “miliknya” (pemiliknya laki-laki) dan “miliknyi” (pemiliknya perempuan).” begitu tulisnya.

Menariknya, alasan Pak Dahlan mengenai perbedaan penggunaan kata ganti tersebut, agar karya-karya tulis Indonesia bisa mendunia. Lewat Google Translate. Dengan terjemahan yang akurat, lanjutnya. Katanya lagi, “Kalau saya menulis “katanya” sering diterjemahkan dengan “he said”. Padahal yang mengatakan itu wanita.” Akan tetapi, saya tidak yakin, kalau misal nanti karya tulis Indonesia atau Bahasa Indonesia sendiri benar-benar mendunia karena ini. Karena ketidakseragaman penggunaan kata ganti laki-laki dan perempuan ide Pak Dahlan ini.

Ada banyak faktor sebuah bahasa mendunia. Barangkali nanti bahasa Indonesia digunakan dalam bahasa diplomasi dan perdagangan internasional. Atau nanti merambah menjadi bahasa ilmu pengetahuan. Sehingga bahasa Indonesia nanti diserap oleh pelosok dunia. Dipelajari, dipahami, kemudian dipakai ramai-ramai. Baik dalam karya tulis, atau penuturan sehari-hari. Tidak hanya di Asean, tapi juga dunia. Siapa tahu.

Namun, apapun niat baik Pak Dahlan Iskan mengenai penggunaan kata ganti yang berbeda tersebut, terlebih penggunaan “nyi” untuk kata ganti yang merujuk pada perempuan. Jujur, saya agak risih. Alasannya, pertama, penggunaan istilah dalam ilmu gramatika termasuk juga penggunaan kata ganti tidak semudah mengubah huruf “a” menjadi “i”. Butuh landasan teoritik yang melatari dan ini sangat panjang dan lebar. Sebagaimana penggunaan dhomir (kata ganti) dalam gramatika Arab yang prosesnya cukup panjang. Bahkan, dilatarbelakangi dengan perdebatan pelik. Hingga disimpulkan sebuah kaidah, “hiya” untuk perempuan dan “huwa” untuk laki-laki dengan perubahan-perubahan khusus lainnya. Termasuk juga ditemukan sebuah kaidah dua dhomir, yaitu muttashil (tersambung) dan munfashil (terputus). Semua butuh proses yang menguras banyak daya.

Kedua, bagaimana kalau kata ganti (dhomir) “nyi” terhubung dengan kata yang berakhiran bunyi yang sama? Misal, “nyanyi”. Maka, akan menjadi “nyanyinyi”. Sangat mengganggu pendengaran sekaligus agak risih bila dilafalkan, apalagi jika kata tersebut ada di sebuah lirik lagu. Risih dalam melafalkan kata, istilah sastra Arab disebut tanafur (menyulitkan). Dan, ini perlu dihindari.

Sayangnya lagi, ide Pak Dahlan tidak konprehensif. Bagaimana penggunaan untuk kata ganti kedua, “kamu”? Mengapa tidak dibuat perbedaan, sebagaimana dalam bahasa Arab, “anta” (untuk laki-laki) dan “anti” (untuk perempuan)? Atau, “kamu” untuk laki-laki dan “kamyu” untuk perempuan, misalnya?

Pada dasarnya, penggunaan bahasa merupakan kesepakatan bersama yang terkadang membutuhkan proses alam yang berjalan mengalir. Namun terkait ide Pak Dahlan Iskan, rupa-rupanya sedikit melabrak pakem bahasa yang telah disepakati sejak lama. Di sana, jelas, butuh proses yang tidak tanggung. Butuh proses pelik, dan tentu pula perlu perdebatan panjang di kalangan ahli bahasa. Pak Dahlan, kiranya perlu ‘meyakinkan’ mereka semua.
*)Guru dan Penulis asal Pulau Mandangin, Sampang.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Holikin

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments