Balap Liar dan ‘Gejolak Kawula Muda’

Balap Liar dan 'Gejolak Kawula Muda' 1

‘Gejolak kawula muda’, mungkin inilah kalimat yang tepat menggambarkan merebaknya trend dan fenomena balap liar oleh sebagian pemuda tanggung di kota besar. Aksi  koboi di atas  motor sekaligus berjudi dengan maut ini seolah menjadi gaya hidup yang kian melekat bagi remaja di kota besar dan menengah. Seolah bersepakat, sebagian  remaja di kota di seantero Indonesia semakin menggandrungi dan memuji muja trend satu ini. Tak cukup sampai disitu , selain melakukan kebut liar, sekelompak remaja tanggung ini juga kadang bermain dalam pertaruhan menebak siapa sang juara.

Tak hanya aparat kepolisian yang harus dipusingkan dengan trend berbahaya ini, orang tua dan masyarakat lainpun ikut cemas jika anak atau keluarganyanya harus ikut bertaruh nyawa demi aksi kebut kebutan jalanan ini. Bagaiamana tidak, kebiasaan menggeber motor dengan kecepatan tak terkendali ini sama sekali tidak memikirkan keselamatan pelakunya. Kadang mereka harus terjun dalam kondisi mesin sepeda motor yang belum teruji, kondisi jalan yang tak sesuai, tidak memakai atribut keselamatan seperti helm dan pelindung tubuh lainnya. Bak seorang gladiator pemberani mereka nekat mengadu nyali di jalanan demi sebuah hasrat jiwa muda yang bergejolak kuat. Bahkan pada banyak kasus, kebiasaan dan perilaku ini dengan kasarnya dibawa dalam berkendara di jalan raya yakni bergerak lincah nan cepat bersaing dengan pengendara lainnya. Tak sedikit pengendara jalan yang merasa punya kewajiban berbagi dengan pengendara lain ikut menyumpah geram perilaku ugal ugalan ini.

Memang banyak sekali factor yang mungkin mendorong lahirnya aksi pacu gas dan mesin di jalanan ini. Salah satu kemungkinannya adalah sebuah sarana dan wadah bagi sebuah aktualisasi diri yang ceroboh mencari jalannya. Proses pencarian dan pembentukan jati diri dan citra diri oleh banyak remaja tanggung inilah yang kemudian berbelok keluar mencari bentuknya dalam aksi kebut kebutan jalanan. Mereka merasa telah menjadi seorang pemuda dan bertransormasi menjadi remaja seutuhnya jika dianggap berani menjalankan ritual adu kencang ini. Mereka merasa menjadi pemuda yang memiliki identitas kuat jika menjadi kampiun dalam perlombaan tancap gas ini. Padahal semua ini tak sebanding dengan bahaya dan maut yang mengancam di ujung garis finish kebut kebutan liar.. Gejolak dan hasrat pemuda seusai masa akil balik ini mendorong mereka turun di jalanan melakukan aksi nekat nan berbahaya tak sedikitpun menghiraukan keselamatan jiwa. Kebutuhan remaja yang condong pada rasa haus akan pembuktian dan pengakuan dari lingkungannya memaksa mereka harus mengikuti standar yang seolah sudah ditetapkan di komunitas sepergaulannya.  Mungkin juga mereka tak menemukan jawaban kegelisahaan di dalam keluarga dan pergaulan sosial sehingga harus membentuk sebuah wahana pengakuan diri yang tak lazim.

Yah memang, banyak yang berkata masa muda adalah masa penuh warna. Gairah dan gejolak tak tertahankan rentan menjerumuskan para pemuda tanggung mencari sensasi yang tak pikir panjang.  Masa pencarian , pembuktian dan rasa gelisah yang membuncah seakan tak mampu dituangkan dalam sebuah wujud kreasi dan aspirasi yang tepat melahirkan pelarian yang justru melahirkan masalah baru. Pun demi gengsi dan menjadi pusat perhatian lawan jenis apapun akan dilakukan.

Tak kurang kurangnya, bahkan pemerintah dan aparat didalamnya seperti polisi dan instansi terkait sudah memikirkan wahana yang tepat seperti diberinya sirkuit legal dan kejuaraan balap motor terakreditasi. Selain juga banyak digelarnya juga perlombaan lain yang kiranya mampu memberikan wadah generasi muda menyalurkan kreasi dan bakatnya. Kini semua dituntut untuk saling memperhatikan. Baik orang tua dan keluarga sudah saatnya mendengar dan mewadahi anak kesayangannya membangun dan menuangkan bakat dan hasrat terpendamnya di jalur positif. Juga memberi penerimaan , penerimaan dan penghargaan sesuai porsinya.  Pun dengan masyarakat kini dituntut untuk lebih memberikan kesempatan dan ruang bagi remaja untuk mengaktualisasikan diri di bidang yang digemarinya. Segenap kegemaran bakat dan minat kalangan muda tetap masih berkesempatan menyala dan berkobar di jalur dan wahana yang tepat tanpa harus mengorbankan diri demi secuil pengakuan. (NATA)

“Salah satu kemungkinannya adalah sebuah sarana dan wadah bagi sebuah aktualisasi diri yang ceroboh mencari jalannya. Proses pencarian dan pembentukan jati diri dan citra diri oleh banyak remaja tanggung inilah yang kemudian berbelok keluar mencari bentuknya dalam aksi kebut kebutan jalanan”

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Christof Nata