Bandwagon Effect Dalam Fenomena Sulitnya Matematika

Bandwagon Effect Dalam Fenomena Sulitnya Matematika 1

Tentu bukan hal baru lagi jika matematika sering dianggap sebagai mata pelajaran yang paling sulit di sekolah bahkan menjadi mata kuliah tersulit saat perkuliahan. Saya tentu tidak mengeneralisir pandangan ini pada semua siswa atau mahasiswa tetapi narasi yang mengatakan bahwa matematika sulit itu dapat kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari.

Anggapan bahwa matematika sulit juga didukung oleh data survey yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) pada 65 negara di dunia tahun 2012. Kurang dari 1 persen siswa Indonesia yang memiliki matematika yang bagus. Angka ini tentunya sangat memprihatinkan.  

Matematika terkadang dinilai kurang relevan dalam kehidupan karir dan pekerjaan, padahal sebenarnya klaim ini salah karena matematika sebetulnya memiliki banyak manfaat bahkan bisa dikatakan hampir di semua aspek.

Mengapa? Karena dengan belajar matematika berarti kita akan memahami dan melatih secara tidak langsung cara berpikir rasional dan tentu saja cara berpikir ini dibutuhkan di hampir semua aspek terlebih dalam proses pengambilan keputusan.

Benarkah pelajaran matematika ini sulit? Mengapa banyak pandangan yang kemudian melihat matematika ini sulit? Ada apa  dengan matematika?

Howard Gardner merupakan seorang ahli dari Harvard university yang pertama kali memperkenalkan tentang 9 jenis kecerdasan manusia atau yang dikenal dengan istilah kecerdasan majemuk atau multiple intelligences.

Salah satu dari 9 jenis kecerdasan ini adalah kecerdasan matematis yakni jenis kecerdasan yang berkaitan dengan kemahiran mengolah angka dan menggunakan logika. Apakah setiap manusia memiliki semua jenis kecerdasan ini? tentu saja tidak tetapi setiap manusia sangat bisa melatih setiap kemampuan ini.

Kita kembali pada matematika. Benarkah matematika sulit? Ya, benar untuk sebagian orang yang kecerdasan matematisnya dibawah rata-rata. Artinya orang tersebut memiliki kecerdasan yang dominan pada jenis kecerdasan lain selain kecerdasan matematis.

Namun, dalam banyak kasus siswa atau calon siswa selalu menggangap matematika, fisika dan ilmu eksakta lainya sebagai pelajaran yang sulit dan akhirnya mereka tidak memilih untuk menjadi anak MIPA.

Artinya bahkan sebelum mereka mempelajari matematika secara serius atau fisika dan sebagainya, mereka sudah terlebih dahulu mengklaim bahwa matematika itu sulit atau susah.

Mengapa hal ini terjadi? Yah ini tidak lain adalah adanya sterotipe yang diturunkan oleh senior-senior atau orang-orang yang awal sekali menggangap matematika itu sukar dikerjakan kemudian ini menjadi suatu pandangan umum yang diadopsi oleh orang lain.

Fenomena ini disebut dengan bandwagon effect yakni suatu kecenderungan mengikuti gaya, sikap dan perilaku hanya karena orang lain juga melakukan hal yang sama. Sayangnya, tidak sedikit orang-orang yang sebetulnya memiliki kecerdasan matematis ikut terjebak dalam fenomena ini.

Bandwagon Effect Dalam Fenomena Sulitnya Matematika 3

Dari fenomena ini kita bisa melihat bahwa sebelum mempelajari matematika banyak siswa justru berangkat dari pemahaman bahwa matematika itu sulit.

Dengan pandangan dasar seperti ini tentu saja akan membuat siswa menjadi tidak berminat dan akan sangat terpaksa belajar matematika karena hanya tuntutan materi. Pemahaman dasar ini  sangat berpengaruh pada  hasil yang dicapai.

Berkaca dari fenomena ini, sangat diharapkan agar siswa atau siapapun yang merasa dirinya tidak mampu dalam bidang matematika tidak menyebarkan suatu statement apalagi berusaha mempengaruhi atau meyakinkan orang lain untuk percaya bahwa matematika itu sulit.

Biarkan saja setiap orang menemukan pelajaran apa yang dia senangi tanpa harus mengikuti pelajaran yang anda senangi.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Rinto Kaleka