Bangkitlah… dan Move On!


Bangkitlah… dan Move On! 1

Move on menurut Kamus Inggris-Indonesia karya John M. Echols dan Hassan Shadily berarti ‘berjalan terus’. Maknanya, tak berhenti bergerak. Gerakan itu beranjak dari sebuah keadaan yang memiliki kecenderungan negatif menuju keadaan dengan kecenderungan positif. Istilah ini umum dipakai untuk merujuk pada usaha bangkit dari sebuah keadaan setelah mengalami patah hati dengan seseorang. Bisa juga ketika mengalami kesedihan atau kehilangan dan pengkhianatan.

Namun, istilah move on menjadi bermakna lebih luas dengan pemakaian bukan khusus untuk bab cinta-cintaan saja, tapi segala hal yang menyebabkan kita berada pada titik negatif emosi kita. Dari hal sederhana sampai hal yang menguras emosi. Suatu keadaan bernilai negatif dalam diri kita yang mana hal itu cenderung destruktif, maka move on haruslah disegerakan.

Istilah move on juga sama pengertiannya dengan hijrah. Dalam Kamus Al-Munawwir dijelaskan bahwa akar katanya ialah ta-ro-ka yang memiliki arti meninggalkan. Hijrah dilakukan ketika di tempat kita berdiri sekarang tidak kita dapati perbaikan dalam diri kita, sehingga kita memerlukan tempat dan keadaan yang mendukung kita untuk melakukan perubahan.

Orang banyak hijrah ke kota, bahkan The Changcuters sampai hijrah ke London, untuk memperoleh proses kehidupan yang lebih baik. Proses itu meliputi perbaikan kualitas diri, sosial maupun ekonomi. Rasulullah pun hijrah ke Madinah, tempat di mana agama Islam lebih disambut dibandingkan tanah kelahiran beliau, yaitu Makkah.

Bangkitlah… dan Move On! 3

Akan tetapi, berpindah tempat bukanlah satu-satunya hal yang bisa kita hijrahkan. Dalam keterangan di buku Hijrah, Gerbang Kesuksesan, KH. Abdullah Gymnastiar menulis bahwa hijrah adalah berpindah keadaan menjadi lebih bernilai.

‘Keadaan lebih bernilai’ ini tentu meliputi semua bidang. Dalam bidang sosial, keberadaan kita bisa memberikan lebih banyak kebermanfaaatan bagi lingkungan. Jika belum bisa, minimal bagi diri sendiri dan keluarga. Di ranah keuangan, kita bisa mencapai penghasilan yang jauh lebih baik dari sebelumnya, atau jika Anda adalah praktisi bisnis, barangkali Anda sudah mampu berpindah kuadran.

Namun sebelum kita bisa mencapainya, sebagaimana yang terjadi pada umumnya orang, saat mereka sedang mengalami keterpurukan akan cenderung kesulitan melakukan kontrol diri. Kemampuan menguasai diri dalam kondisi negatif tidak sama levelnya pada tiap orang. Hal itu bergantung pada tingkat penerimaan masing-masing individu. Saat seseorang belum sampai pada penerimaan penuh dalam hidupnya, hal kecil dan remeh dengan mudah membuat jatuh dan sulit untuk bangun sendiri.

Bangkitlah… dan Move On! 4

Sebaliknya, bila seseorang sudah mampu menerima dan bersedia melakoni apapun perannya dalam panggung kehidupan ini, maka badai besar pun tidak akan cukup mampu untuk menggoyahkannya. Sayang, rata-rata kita belum menjadi jenis yang kedua, sehingga kita masih sering mengalami keterpurukan emosional yang melelahkan pikiran.

Lalu bagaimana agar kita bisa segera bangkit dan move on?

Hal pertama yang bisa kita lakukan untuk memulai proses move on adalah menilai diri kita sendiri. Proses yang disebut juga dengan muhasabah ini mengajarkan untuk mengenal diri lebih dekat, menunjukkan di mana posisi kita sekarang, di segala bidang kehidupan. Agama, keahlian, kecerdasan sosial, keuangan, dan lain-lain.

Proses ini akan membedah setiap kekurangan yang menjadi penyebab masalah, lalu menelusuri diri untuk kelebihan yang merupakan perangkat solutif untuk mengatasinya. Muhasabah seyogianya dilakukan setiap hari.

Setelah menemu plus-minus diri sendiri, langkah selanjutnya adalah menentukan tujuan perbaikan. Apa yang hendak kita servis dalam ‘bengkel’ jiwa? Apakah hati kita yang penuh kekecewaan dan seolah tak berpihak untuk kebahagiaan? Atau gempuran pikiran negatif yang membelit tubuh kita hingga gagal bertindak secara positif? Atau kondisi sosial-ekonomi kita yang kurvanya masih landai?

Langkah-langkah perbaikan ini bisa kita temukan dalam berbagai kitab klasik ulama atau buku-buku ilmiah. Untuk membina jiwa, bukalah Mukhtashar Ihya Ulumiddin, ringkasan dari mahakarya al-Ghazali atau Shahih at-Targhib wa Tarhib karya al-Albani. Dalam mengatasi peliknya urusan duniawi, serahkan pada para praktisi pengembangan diri seperti Brian Tracy, profesor psikologi seperti Richard Wiseman, atau pakar konseling keluarga seperti Virginia Satir, juga Bapak Psikologi Modern, William James. Luaskanlah wawasan dan cara pandang, terutama di bidang pemberdayaan pikiran.

Bangkitlah… dan Move On! 5

Di rutinitas sehari-hari, eksisnya masalah yang berat bisa membuat kita down dan kehilangan ghirah (semangat) untuk beraktivitas. Sedangkan kita tahu, justru aktivitas merupakan satu obat manjur untuk memulihkan jiwa dari keterpurukan. Semakin besar ‘badai’ dalam hidup kita, maka semakin kita harus meleburkan diri dalam berbagai aktivitas bernilai positif. Fokuskan diri pada tujuan-tujuan besar yang menjadi visi hidup kita.

Jika kita belum memiliki gambaran aktivitas apa yang pantas dimulai sebagai ‘pintu keluar darurat’, maka tafakur sejenak dapat dicoba. Aktivitas ini mampu melahirkan ide-ide kognitif yang barangkali sulit kita dapatkan di waktu-waktu bising. Setelah agak nampak gambarannya, tentukan secara detail dan spesifik. Manfaatkan teknik mind-mapping. Gunakan perangkat pengaturan disiplin seperti to-do-list atau jurnal harian untuk memperbaiki efektivitas penggunaaan waktu kita.

Bangkitlah… dan Move On! 6

Selanjutnya, cobalah untuk istikamah bangun pada dini hari, demi merasai keheningan malam yang tenang. Dirikanlah salat sekira dua rekaat saja. Lalu setelah itu berdoa. Mintalah kekuatan untuk dapat move on dari hal-hal yang mengancam diri kita jatuh dalam keterpurukan atau keburukan. Libatkanlah Allah untuk memecahkan persoalan hati dan pikiran kita. Dengan begitu, kita akan beroleh ketenangan untuk bisa bangkit dan bersegera menuju titik di mana kebahagiaan dan kesuksesan hidup menanti kita. Insya Allah.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Athi Suqya Rohmah

   

Seeker of Cosmic Revolution IG: @khurun.ngin

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap