Being Happy in Pressure


Being Happy in Pressure 1

Leostrada adalah seorang anak SMA di kota Bandung yang sangat urakan. Ia suka membuat ribut dan berani menantang gurunya. Leo membawa mobil sendiri dan sering pergi bersama kawan-kawannya. Cowok itu sering terlibat baku hantam dengan anak muda lain dan merusak barang-barang mereka, atau sekadar mencoret-coret mobil dengan sprayer (pilox). Semuanya atas nama balas dendam.

Being Happy in Pressure 3

Namun, seperti Dilan, Leo siswa yang cerdas. Catatan absennya panjang tapi dalam beberapa mata pelajaran dia unggul, bahkan sering mendebat keterangan gurunya dan mengkritik cara mengajar mereka yang Leo anggap kolot dan jauh dari kekinian.

Dilihat dari tampilan luar, Leo merupakan sosok idaman wanita. Ia tampan karena terbentuk dari gen milik ibunya yang asli Jepang bercampur DNA sang ayah yang berdarah campuran. Keduanya adalah ekspatriat yang memiliki jaringan perusahaan berskala nasional.

Karena sosoknya yang outstanding, banyak cewek naksir Leo. Namun, Leo tidak bisa memalingkan hatinya dari Iris, malaikat yang telah mengulurkan tangannya untuk Leo. Iris yang meninggal karena kecelakaan mobil terus membayangi keseharian Leo.

Being Happy in Pressure 4

Sekilas, hidup Leo seolah sempurna, tapi sesungguhnya ia adalah korban rumah tangga yang amburadul―broken home. Ia membenci orangtuanya karena mereka dianggapnya gagal akibat saling menelikung dan menyakiti, bahkan di depan anak-anak mereka.

Kemarahan Leo selama bertahun-tahun membuatnya kabur dari rumah dan memilih tinggal di apartemen yang ia sewa dengan tanggungan sang kakak. Ia hidup semaunya dengan menyimpan dendam pada okasan (ibu) dan otosan (ayah)-nya. Pada klimaks cerita, okasan Leo yang sudah tidak tahan dengan goncangan di keluarganya menembak dada suaminya, kemudian secara dramatis menembak kepalanya sendiri.

Being Happy in Pressure 5

Akibat kejadian itu, otosan Leo yang terluka parah namun selamat akhirnya ‘menyerah’ dan mengakui kesalahannya. Begitu pun Leo, yang di saat-saat terakhir menjadi dekat dengan sang ibu, menyadari bahwa ia memiliki cara pandang yang keliru.

Leo mengkiaskan dirinya seperti orang yang lama terpejam, sehingga yang dilihat hanya kegelapan. Namun begitu ia membuka mata, semua nampak jelas dan terang benderang. Oh, ternyata dunia begitu penuh warna dan tidak hanya hitam. Karena ia menutup matalah semua keindahan tidak terlihat.

Cerita menggetarkan ini adalah kisah Leo dalam novel Dan Hujan Pun Berhenti karangan Farida Susanti, yang ditulisnya di masa SMA. Walau begitu, karena karakteristik dan muatan nilai-nilai psikologisnya amat kuat membuat novel ini diganjar Khatulistiwa Literary Award kategori Penulis Muda Berbakat pada 2007.

Dari cerita Leo di atas kita akan tahu bagaimana seseorang yang terluka secara psikologis menjalani hidupnya. Okasan dan otosan Leo yang menikah bukan atas dasar cinta menyebabkan keduanya tertekan dan mencari pelarian dengan melakukan affair. Keluarga yang berantakan ini menyebabkan Leo, si anak tengah harus menelan kepahitan atas sikap mereka. Ia merasa kehilangan kasih sayang keduanya dan mencari kebahagiaannya sendiri dengan bertingkah semaunya, kasar, dan secara alami tumbuh dengan berbagai kelicikan.

Kisah Leo tersebut memang hanya karangan semata, tapi pesannya sangat dalam dan menyentuh. Setiap orang pasti akan mengalami tekanan dalam hidupnya, entah itu dari keluarga, lingkungan atau bahkan diri sendiri. Kita bisa memilih untuk menghindari tekanan itu dan hengkang, atau menghadapi, melawan serta menaklukkannya.

Pada tahap awal, Leo memilih melawan secara brutal namun perlahan menyerah karena harga dirinya amat terluka. Orang yang ia harapkan menjadi teladan dan pelindungnya malah menganggapnya pecundang dan sampah. Ini menyebabkan Leo hengkang dan mencari kebahagiaan di luar rumah.

Namun perlahan―walau ia berusaha menolak―Leo bisa melunak sejak sang ibu mulai memperhatikan dan merawat anaknya itu kala terluka parah. Ia memilih berdamai dengan hatinya yang penuh dendam namun memendam rindu yang amat dalam pada orangtuanya. Pada akhirnya―meminjam istilah dari novelis Tere Liye―Leo pun mau memeluk semua rasa sakit yang dialaminya dan memaafkan otosan-nya. Ia bisa melihat bahwa bukan hanya dia yang terluka, kedua orangtuanya pun menderita.

Being Happy in Pressure 6

Di situlah titik balik bagi Leo. Ia yang dulunya hanya melihat gelap dan tidak percaya kebahagiaan, saat ini bisa dengan jelas memahami apa artinya bahagia. Yaitu, dengan membuka mata dan menyaksikan dunia dengan segenap cinta. Sehingga, apa yang kita pikirkan, kita ucapkan dan jalankan, semua atas dasar kejernihan mata hati yang dipenuhi cinta kasih.

Seandainya saat ini kita merasa begitu tertekan dan amat emosional, cobalah berhenti sejenak dari segala aktivitas. Luangkan waktu merenungi semua yang telah terjadi. Lihatlah lebih dekat dan cobalah berpikir dengan adil. Segala sesuatu memiliki sisi positif dan negatif. Fokuskan pada positifnya. Sekali lagi, fokuskan lensa hati kita pada sisi positifnya saja, dan lupakan keberadaan sisi negatifnya, anggaplah ia nihil. Sampai yang kita lihat hanya kebaikan. Lalu mulailah untuk melakukan penerimaan.

Memang berat di awal, tapi ingatlah nasihat Elbert Hubbart, bahwa kebahagiaan adalah suatu kebiasaan, maka kembangkanlah kebiasaaan itu. Sampai, yang kita rasakan hanya bahagia dan bahagia, biarpun berada di bawah tekanan.

Semoga, mata hati kita senantiasa terbuka dan bisa memandang segala sesuatu dengan bening tanpa keruh prasangka. Untuk menuju itu semua, start-nya adalah dengan belajar mengalah serta memaafkan.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Athi Suqya Rohmah

   

Seeker of Cosmic Revolution IG: @khurun.ngin

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap