Belajar Dari Kegigihan Nelayan Jepang


Belajar Dari Kegigihan Nelayan Jepang 1

Saat masalah datang secara otomatis naluri kita menggerakkan pikiran maupun tubuh kita untuk segera mencari solusi atas masalah yang sedang kita hadapi, baik sadar maupun tidak sadar secara otomatis kita akan berusaha untuk menyelesalkan masalah tersebut, banyak dari kita yang mengeluh dan berkeluh kesah atas masalah yang dihadapinya, bahkan banyak pula yang melakukan tindakan tidak normal seperti bunuh diri, melarikan diri dan lain – lainnya.

“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya” (QS. Al-baqarah :286)

Namun pada kodratnya masalah yang hadir dan menimpa kita adalah sebuah proses hidup yang harus diselesaikan, saat kita salah dalam mengambil keputusan atas suatu masalah maka keputusan yang kita laksanakan relatif memiliki efek bagi diri kita, keluar, saudara hingga orang lain. Jadi dalam menghadapi masalah kita butuh mencari solusi bukan meninggalkan masalah tsb.

Saat kita melepaskan akan membiarkan masalah tersebut tanpa memikirkan solusi penyelesaian secara tidak langsung kita membiarkan citra nama kita, keluarga dan saudara kita memburuk, serta sejarah atas penyelesaian masalah tersebut akan menjadi buah bibir dan kajian orang lain, bahkan bisa menjadi trending topic dalam setiap pembahasan baik dunia nyata dan maya. Maka seyogyanya kita harus menyelesaikan masalah tersebut agar tidak menimbulkan efek kedepan harinya baik untuk kita dan untuk orang selain kita.

Sebenarnya kehadiran masalah dalam hidup adalah sebuah proses untuk melatih diri kita untuk lebih mumpuni dan lebih berpengalaman dalam menjalankan kehidupan, saat masalah tidak hadir kita otak kita tidak akan berusaha berputar mencari solusinya akibatnya kita akan terpukau pada posisi zona nyaman, saat kita terlalu lama berlama – lama dalam zona tersebut, kita akan menjadi vakum baik secara komunikasi maupun sosialisasi baik dalam keadaan oposisi maupun koalisi.

Sedikit kita belajar pada nelayan jepang, di jepang setiap nelayan berusaha memahami pada kondisi mana ikan yang mereka hasilkan enak dan bergizi untuk dikonsumsi oleh para konsumen, contoh kasusnya adalah ikan salmon, pada prisnipnya ikan salmon dagingnya akan lebih nikmat dan bergizi saat dikonsumsi bila ikan salmon tersebut tidak masuk kedalam kulkas atau lemari pembeku, serta di peti es kan, serta saat ikan salmon dijual masih dalam keadaan hidup harganya lebih mahal dibandingkan dengan ikan salmon yang sudah mati dan dipeti es kan. Kebanyakan dari nelayan jepang berusaha mencari solusi bagaimana caranya agar ikan salmon tersebut tetap hidup saat mereka menjualnya pada pembeli.

Belajar Dari Kegigihan Nelayan Jepang 3

Akhirnya mereka mendapatkan solusi yaitu dengan cara membuat bak yang di isi air untuk menjaga agar ikan salmon tersebut agar tetap bertahan hidup sampai ditempat penjualan atau sampai pada konsumen, pada saat pertama kali menggunakan bak air tersebut masih banyak ikan salmon hasil tangkapan mereka mati bahkan di angka 50% ikan salmon hasil tangkapan mereka mati didalam bak tersebut, hal itu mereka syukuri dan kebiasaan untuk membawa dan membuat bak air untuk menjaga agar ikan salmon yang mereka tangkap tetap hidup.

Namun ada satu nelayan yang tidak merasa tidak puas akan penemuan atau solusi yg telah lahir dan di budidayan nelayan jepang tersebut, menurut nelayan tersebut solusi yang ada belum memberikan kepuasan sebab ada kalanya bukan 50% ikan salmon yang mampu bertahan hidup dalam bak air tsb, namun terkadang ikan salmon mati didalam bak perahunya sampai mencapai 50% sampai 80%, hal itulah penyebab beliau belum merasa puas, banyak buku yang dibacanya dan banyak orang yang ditanya nya terkait usaha untuk mempertahankan kehidupan ikan salmon tangkapan nelayan, sampai iya menemukan kesimpulan bahwa ikan salmon akan cepat mati saat tubuhnya tidak melakukan pergerakan.

Saat dia melaut dan mendapatkan hasil tangkapan nelayan tersebut memerintahkan anak buahnya untuk tetap memukul – mukul air di dalam bak tempat ikan salmon di simpan sampai ke dermaga tempat penjualan ikan, hal itu dilakukan oleh anak buah tsb meskipun ada rasa jengkel dan merasa dibodoh – bodohi oleh bosnya, namun apapun ceritanya hal tersebut harus dilakukannya sebab dirinya merasa takut dipecat oleh bosnya.

Sesampainya di pelabuhan dermaga penampungan ikan hasil tangkapan nelayan, ikan salmon yang didalam bak yang airnya terus saja dipukuli oleh anak buah perahu menuai hasil, dari 100% ikan salmon yang dimasukkan kedalam bak hanya mati 10%, setelah hasil tangkapan terjual, nelayan tersebut pulang dengan beban pikiran yang baru pula, yaitu bagaimana membuat ikan salmon di dalam bak air tetap melakukan pergerakan, belum sampai di rumahnya beliau melihat seekor anjing galak yang menggonggong dan Nampak mulai bergarak mengejarnya, spontan nelayan tersebut lari pontang panting ketakutan melarikan diri dari anjing galak yang sudah bergerak mengejarnya, nelayan tsb lari sampai didepan pagar rumahnya, langsung masuk dan menutup pintu agar anjing galak tak masuk ke pekarangan rumahnya.

Tragedy anjing galak tersebut memberikan pelajaran baru dalam hidupnya bahwa setiap makhluk memiliki rasa takut atas kesakitan ataukah kematian hal itu tidak luput pada manusia. Seolah mendapat hidayah dia mendapat ide baru untuk mempertahankan agar salmon hasil tangkapan nya tetap hidup.

Keesokan harinya mereka berangkat melaut, sang nelayan melabuhkan jalanya di daerah laut yang diketahui penduduk setempat banyak dihuni ikan hiu pemangsa. Setelah melabuhkan jalanya sebentar sang nelayan memerintahkan anak buahnya untuk mengangkat jala tidak ditemukan seekor ikan salmon pun kecuali 4 ekor anak ikan hiu pemangsa, setelah jala selesai ditarik si nelayan memerintahkan anak buahnya memasukkan anak hiu pemangsa pada bak air tempat mempertahankan kehidupan ikan salmon hasil tanggapan, hal itu dilakukan si anak buah dengan mimik wajah bingung, ingin bertanya tapi takut dimarahi oleh si nelayan.

Setelah itu si nelayan mengarahkan haluannya menuju lokasi yang diketahui banyak ikan salmonnya, mulailah aktifitas penangkapan ikan salmon dilakukan, hasilnya hingga akan pulang lumayan banyak, namun hal yang membuat bingung anak buahnya adalah kenapa ikan salmon diletakkan di bak air yang sudah diisi ikan hiu, secara waras ikan salmon pasti dimangsa oleh ikan hiu tsb, namun anak buah nelayan tersebut tidak memiliki keberanian yang cukup untuk bertanya.

Setelah aktifitas penangkapan ikan selesai si nelayan menyuruh anak buahnya istirahat beliau pun mengarahkan haluan menuju pulang, sesampainya di daratan, hal yang mengejutkan terjadi, semua ikan salmon yang berada didalam bak itu hidup Cuma beberapa ekor saja yang mati akibat dimangsa sianak hiu pemangsa.

Artinya keberadaan hiu pemangsa di bak air bukanlah untuk memangsa seluruh ikan namun keberadaannya untuk memaksa ikan salmon untuk melakukan pergerakan dari satu sisi ke sisi lainnya agar terhindar dari sihiu pemangsa, saat ikan salmon terus bergerak akibat rasa takutnya potensi untuk tetap hidup, namun saat ikan salmon tadi tidak melakukan pergerakan potensi kematian padanya tinggi.

Begitu juga dengan menjalani kehidupan, kita adalah salmon dan masalah adalah hiu pemangsa, jadi untuk kita bertahan hidup kita harus tetap bergerak menyelesaikan masalah yang kita hadapi, dan menghindari masalah yang akan datang pada kita.

Kita harus mengetahui potensi untung rugi atas sebuah masalah dan efek sebuah masalah, lalu awal masalah (dasar masalah) penyelesaian masalah, setiap masalah akan terselesaikan apa bila kita tidak jemu untuk mencari solusi atas sebuah masalah dan menyusun strategi dan rencana penyelesaiannya, sehingga kita bisa memilih memperkecil efek negative dan memperbesar efek positif atau kah memperkecil efek positif dan memperbesar efek negative, semua terletak pada manusia yang menghadapi masalah tsb.

Setelah saya mengambil kisah dari perjalanan seorang nelayan jepang, mohon ijinkan pula saya mengambil satu semboyan dari jepang :

“manusia adalah harta yang paling pokok dalam menjalankan sebuah usaha”


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Sahabat Ahmad Sofwan

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap