Belajar Jiwa Entrepreneur Dari Mail, Tokoh Dalam Film Kartun Ipin Upin


Belajar Jiwa Entrepreneur Dari Mail, Tokoh Dalam Film Kartun Ipin Upin 1

Siapa yang tidak kenal dengan Ipin Upin? Kartun anak-anak asal negeri Jiran yang sudah lama menghias layar kaca. Ipin dan Upin adalah kakak beradik yang kembar identik. Mereka sudah yatim piatu sejak kecil. Sehari-hari Ipin dan Upin diasuh oleh opanya (neneknya) dan kakaknya yang bernama Ros. Ipin dan Upin mempunyai teman sekolah di TK Tadika Mesra yang bernama Mail. Mail ini meski kecil-kecil sudah pintar mencari uang, cukup pantas kita belajar jiwa entrepreneur dari Mail, tokoh dalam film kartun Ipin Upin ini.  Apa saja, dalam pikiran Mail harus menjadi uang. Keseharian dia berdagang ayam goreng bersama ibunya di pasar. Teriakannya, yaitu “dua singgit…dua singgit” menjadi ciri khas.

Berbeda dengan teman-temannya yang selalu ingin bermain, Mail lebih banyak tertarik untuk berdagang. Bocah yang digambarkan selalu memakai baju warna hijau ini memang mempunyai bakat entrepreneur sejak kecil. Tanpa malu dia menawarkan dagangannya pada siapa saja. Dia juga teliti dalam perhitungan agar tidak rugi. Mail juga banyak akal untuk menjadikan apa saja sebagai uang.

Ketika musim libur tiba dan dia mengetahui bahwa Ipin dan Upin pergi ke kebun kelapa bersama Atuk Dalang, adik dari opanya, di pikiran Mail langsung terlintas, bagaimana semua bagian pohon kelapa menjadi  uang. Perhitungannya sangat matang. Dia membidik turis yang datang untuk berlibur di pinggir pantai sebagai target market. Kelapa muda dan mainan dari sabut serta kulit kelapa dijualnya dengan harga fantastis.  Keuntungan besar di depan mata.

Ketika ada perayaan dan pasar malam, anak-anak seumurnya sibuk naik aneka permainan di arena bermain, dia memilih sibuk menjajakan dagangannya. Tidak ada hal yang tidak bisa menjadi uang di matanya.

Bocah yang cenderung polos ini juga tanpa malu-malu ikut dalam kerumunan orang dewasa yang mengais rezeki. Baginya, karena mencari uang dapat membuatnya dewasa sebelum waktunya. Rasa tanggung jawab besar untuk membantu ibunya menjadikan dia bocah kecil yang tangkas dan cekatan. Semangat dagang yang diwariskan ibunya terus berkobar.

Foto: jurnaba.co
Foto: jurnaba.co

Jiwa entrepreneur teman Ipin Upin ini sangat besar. Setiap berbicara dengan siapa saja, pikirannya langsung bergerak cepat, apa yang bisa dijadikan uang? Bukan bocah mata duitan, tetapi bocah yang paham bahwa untuk mendapatkan sesuatu harus melalui perjuangan.

Bakatnya berjualan diasah oleh sang ibu yang mengajaknya setiap kali berdagang. Awal mula, Mail kecil juga malu-malu ketika menawarkan ayam gorengnya sehingga tidak ada satu pun pembeli yang datang. Teriakannya ketika menawarkan dagangan waktu itu seolah hanya bisa didengar oleh dia sendiri karena terlalu lirih. Sampai kemudian dia menyadari, harus mengubah caranya berpromosi. Dibuangnya jauh-jauh rasa malu ketika menawarkan dagangan. Kemudian dengan suara keras dia coba merayu pengunjung pasar untuk mendekati dagangannya. Satu per satu ayam gorengnya mulai laku. Akhirnya dia paham trik agar dagangannya dilirik pembeli.

Bocah kecil ini juga pintar berstrategi. Tak jarang dia mempromosikan dagangannya dengan berbagai bonus kepada pelanggannya. Ini membuat pelanggannya care kepadanya dan terus membeli ayam gorengnya.

Mail juga pernah mengajak Ipin dan Upin untuk membantunya berdagang, tentu dengan imbalan yang sudah ditentukan. Sayangnya, Ipin dan Upin kurang terampil, bahkan pernah keliru menjual dagangannya dengan harga di bawah seharusnya. Mail langsung menghitung modal dan menyampaikan bahwa dia rugi karena harga jual yang diberikan Ipin Upin kepada pelanggan di bawah harga produksi. Mail sempat kecewa kepada kedua temannya karena membuatnya rugi.

Ibunya, yang merupakan guru dalam berdagang menghiburnya. Tidak apa sesekali merugi, hitung-hitung bersedekah agar dagangan semakin berkah. Mail kembali bersemangat. Kepada  Ipin Upin pun Mail tidak marah lagi. Baginya ini juga pelajaran menjadi bos, bagaimana memberi instruksi yang benar kepada anak buah sehingga tidak melakukan kesalahan.

Pelajaran dari ke-entrepreneur-an Mail sebenarnya sangat sederhana. Namun belum tentu kita yang dewasa mampu menjalani. Karena yang melakukan seorang bocah, tentu terasa luar biasa. Dalam hal ini, ibu Mail tidak bermaksud meng-ekspoitasi anaknya untuk bekerja. Tetapi kondisi yang mengharuskannya survive, mau tidak mau melibatkan anaknya dalam menjalankan usaha.

Di sisi lain, tindakan ini justru berdampak positif bagi Mail. Dia tetap tidak kehilangan masa anak-anaknya untuk bermain dengan teman-teman. Terbukti beberapa kali dia juga terlibat permainan dengan temannya yang lain seperti Mei-Mei yang berasal dari Cina, Susanti yang berasal dari Indonesia, Jarijit yang berasal dari India dan Ihsan, sang ketua kelas di TK Tadika Mesra dan yang pasti dengan Ipin Upin juga.

Inti dari jiwa entrepreneur yang diwakili oleh Mail adalah bahwa kesuksesan dapat datang pada siapa saja tanpa memandang umur asal mau berusaha, selalu mau belajar dan mencoba, perlu ketekunan untuk mendapatkan hasil seperti yang diinginkan, rela mengorbankan waktu untuk mencapai kesuksesan, harus detail ketika memberi instruksi sehingga tidak timbul kesalahan dan masih banyak lagi. Cukup pantaslah kita belajar jiwa entrepreneur dari Mail, tokoh dalam film kartun Ipin Upin ini.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Isnaini

   

Mantan bankir, ibu rumah tangga yang mempunyai hobi menulis dan merajut. Menulis merupakan cara untuk menambah teman, ilmu dan wawasan.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap