Belajar Mengalami Pencerahan Yang Membebaskan Dari Buddhisme

Belajar Mengalami Pencerahan Yang Membebaskan Dari Buddhisme 1

Pada awal mula Buddhisme, para penganutnya selalau menunjukan pengalaman ini; Budha yang selalau mengalami pengalaman pencerahan. Budha berarti “yang sudah dicerhi” dan pencerahan itulah bodhi. Budha dan bodhi berasal dari kata yang sama: budh, menyadarkan.  Ajaran Budha berdasarkan pencerahan membangunkan dan tujuannya, membimbing orang menuju keselamatan.

Pengalaman sentral dalam hidup Budha disebabkan oleh situasi atau keadaan sekitar yang mengejutkan. Dilahirkan di tengah keluarga bangsawan, Sidharta dibebaskan dari kemewah. Ayahnya menghendaki agar menghindari dia dari segala ancaman dan penderitaan dunia. Tetapi  pada suatu hari ia berjumpa dengan, sorang tua, seorang sakit, susung jenaza dan setiap kali penggiring-penggiringnya selalau berkata, “peristiwa ini akan menimpa setiap manusia”. Tiga kenyataan manusia yang tersingkap ini sangat bertentangan dengan Sidharta yang begitu mewah. Umur tua, sakait, dan mati adalah persoalan-persoalan yang coba dipelajari oleh manusia agar menjadi terbiasa dengannya meskipun itu berawal dengan maksud dan keinginannya. Pangeran Sidhartan menghadapi semuanya secara tiba-tiba dalam peristiwa perjumpaan yang mengejutkan dan mengerihkan. Realitas atau symbol ? Ini bukan soal yang jelas, Sidharta telah mengalami keadaan manusia yang fundamental, dalam tragedinya yang paling mendalam. Apalagi lebih dari itu, bukan terjadi hanya dalam hidup yang sekali ini.                                  

Menurut kepercayaan Hindu, yang sebagian besar diterima pulah oleh Budha, roda kehidupan dan kematian akan selalau berputar, mungkin seratus atau seribu kala. Setiap manusia ditentukan untuk reinkarnasi, menjelman kembali, tanpa bisa melarikan diri. Ada hukum sebab akibat “ karma”. Setiap tindakan selalu mendapatkan ganjarannya. Setiap individu terkait pada hasil perbuatannya dalam hidup sekarang dan hidup yang akan datang menjadi lebih baik atau lebih buruk. Ia terperangkap dalam suatu siklus kelahiran kembali dan kematian yang takan pernah berakhir.

 Jadi persoalan tentang penderitaan tanpa batas dan kematian dirasakan begitu hebat menekan, mendesak pangeran Sidharta, meninggalkan keluarganya, istrinya, untuk mencari kelepasan. Semua pertanyaan filsafat cuma abstrak yang sia-sia kalau penderitaan manusia tidak terpecahkan. Seorang penulis moderen, Comus mengatakan pengamatan yang sama “hanya ada satu persoalan filsafat  yang serius, yakni bunuh diri.       

Setelah enam tahun mencari, terang besar turun ke atas Budha dibawa pohon Bo, suatu kesadaran kosmis, suatu penglihatan menyeluruh dimana segalanya terletak ditempatnya masing-masing dan hasilnya; damai, kebahagiaan, kepastian, kepenuhan, kebebasan yang paling tinggi. Ia telah menemukan obat penawar bagi penderitaan, suatu jalan keluar dari lingkaran tanpa akhir dari kelahiran kembali, suatu jalan menuju kepada Nirwana.         

Tanpa ingin merahasiakan ini untuk dirinya sendiri, Budha, digerakan oleh rasa turut terlibat dalam penderitaan sesama manusia, memutuskan untuk menyebarkan ajarannya.  Undangan ajaranya ini merupakan undangan bagi setiap orang untuk berjalan dalam langkah-langkah yang membimbing manusia menuju kelepasan. Ajaran Buddhisme didasarkan pada pencerahan dan tujuanya adalah membimbing orang untuk mencapai kelepasannya menuju suatu pencerahan yang membebaskan.        

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.