Belajar Psikologi Masa Kini dari Novel Paradigma

Belajar Psikologi Masa Kini dari Novel Paradigma 1

Salah satu novel karangan anak bangsa ini memang patut diapresiasi. Selain menggunakan bahasa dan kisah kekinian yang menyesuaikan dengan selera anak muda, karya Syahid Muhammad ini juga sarat akan kandungan ilmu psikologinya. Ya, akhir-akhir ini di media sosial kita sering disuapi dengan unggahan yang mengandung pengetahuan tentang kesehatan mental, ilmu kejiwaan, dan hal-hal seputar psikologi lainnya terutama di masa pandemi saat ini.

sumber gambar pribadi
sumber gambar pribadi

Gangguan cemas, depresi, stress, insecure, trauma dan lain sebagainya menjadi term atau istilah yang tidak asing lagi bagi orang awam. Sisi positifnya, kita jadi tahu dan semakin tahu bahkan lebih menghargai sesama atau diri sendiri.  Begitupun dengan buku novel yang satu ini. Dengan sampul warna hitam dan bergambar ombak terbalik dengan latar belakang yang berwarna hitam pula, novel ini justru memiliki ketertarikannya sendiri. Meskipun mengandung nuansa roman remaja, namun novel ini berbeda dengan novel roman remaja kebanyakana. Di mana biasanya, novel-novel tersebut menggunakan sampul menarik dengan warna mencolok atau soft dan bergambar khas kisah cinta, tapi novel paradigma ini lain daripada yang lain.

Novel ini berkisah tentang hubungan percintaan di kalangan mahasiswa yang duduk di bangku kuliah. Gaya bahasanya tidak kaku dan menyesuaikan dengan cara kita-anak milenial dan gen Z sehari-hari. Penuh dengan kutipan kata-kata puitis yang instragamable dan makna mendalam, novel paradigma sangat cocok untuk mengisi waktu luang kita di kala penat atau  jeda di antara kesibukan aktivtas.

Selain tentang kisah cinta anak muda, novel ini tidak terlalu over dalam menceritakan nuansa romantikanya. Ia lebih mengarah pada nilai-nilai kehidupan jika kita benar-benar jeli atau teliti dalam membacanya. Selain itu, hal yang paling membuat kaget adalah alurnya. Di mana dua tokoh di dalamnya yang bernama Rana dan Ikrar diceritakan sebagai sosok anak muda yang menjadi contoh penderita gangguan mental selama bertahun-tahun. Mereka memiliki kepribadian ganda akibat pengalaman yang dinilai cukup traumatis dan membekas hingga dewasa sampai-sampai mampu merubah gelagat mereka secara tiba-tiba.

Ada part yang bercerita mundur dan membahas masa lalu kakak beradik tersebut. Selain memiliki keistimewaan di mana keduanya mampu menggambar objek yang sama persis meski di tempat yang berbeda, namun sisi pahitnya adalah ketika mereka harus mengalami guncangan hebat akibat ditinggal Bunda dan disusul dengan kematian Papanya. Kehilangan sosok kedua orang tua tentu adalah hal terberat bagi setiap hati anak di dunia ini.  Begitupun dengan dua tokoh di atas, ditambah lagi dengan beban hidup dan kasih sayang yang timpang. Belum lagi tokoh Rana yang mendapat olok-olok sebagai seorang gay di kampusnya karena sikap lemah lembutnya serta cenderung bergaul dengan teman perempuannya, yang lalu harus senantiasa menahan hal tersebut sendirian. Ya, sekalipun Rana memiliki sahabat dekat dan kekasih, namun tentunya hal tersebut masih belum bisa mengobati rasa sakit yang ia jalani sejak kecil yang mana kian hari kian bertambah.

Di sini, Rana diceritakan sebagai sosok dengan gangguan mental Dissociative Identity Disorder atau tidak lain adalah kepribadian ganda. Kepribadiannya yang lain adalah menjadi sosok ibu yang tidak lain adalah Bundanya sendiri. Ia sangat mengalami trauma mendalam hingga menjadi “berbeda” sejak kepergian sang ibu. Pun sama dengan adiknya, Ikrar. Ia memiliki kepribadian ganda dengan sosok lainnya ialah Papa mereka. Ada satu tokoh perempuan lagi dalam novel ini yang memiliki gangguan mental pula akibat pengalaman traumatis masa remajanya dulu, di mana gadis ini mempunyai gangguan kecemasan. Ditambah hidup sendiri di kota, serta membiayai hidup dan kuliahnya dengan bekerja paruh waktu membuatnya sering mengalami kecemasan di waktu tertentu atau saat sakitnya tersebut kambuh. Akibatnya, ia sering meminum obat penenang dan tentu saja, efek kesepiannya tersebut dapat terusir saat takdir menemukannya dengan Rana.

Intinya, Rana dan gadis ini memiliki kecocokkan dalam mengusir “rasa sakit” dalam diri mereka dengan kegiatan yang mereka sukai. Meskipun sering mendapat cemooh dari satu kampus bahkan, mereka tetaplah manusia yang kadang tidak kuat ditambah harus menahan rasa sakit yang berlipat-lipat. Rana sendiri pun justru memiliki ruang untuk menampung bahkan turut membantu para penderita yang memiliki gangguan seperti mereka untuk menerapinya dengan kegiatan seni ala kadarnya.

Meskipun novel ini memusat pada tokoh Rana yang memiliki beban paling berat, namun sudut pandang dalam cerita ini beragam. Yakni tidak lain ialah dari orang-orang terdekatnya. Ending dari cerita ini pun cukup baik, di mana tokoh Rana akhirnya memperoleh kepedulian meskipun sempat dibully oleh mahasiswa satu kampus karena diviralkan oleh mantan kekasihnya sendiri. Masih ada dosen yang memberikan penanganan ahli untuk mengatasi masalah kejiwaannya dan sahabat yang senantiasa mensuportnya untuk dapat sembuh. Begitu pun dengan sang mantan, di mana ia menyesal karena tidak mengetahui latar belakang pacarnya dulu dan terlalu termakan dendam serta salah dalam menerima saran dari lingkungannya.

Novel ini sangat cocok bagi kalian yang antusias dengan pegetahuan terkait ilmu jiwa yang dibumbui begitu halus dengan kisah roman di usia remaja. Pas sekali bagi anak-anak muda.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.