Benarkah Bitcoin Tak Ramah Lingkungan?

Benarkah Bitcoin Tak Ramah Lingkungan? 1

Pernyataan terbaru dari punggawa perusahaan ternama Tesla, Elon Musk membuat harga bitcoin terpuruk. Elon sendiri menyatakan niatnya untuk tidak lagi menggunakan bitcoin sebagai alat pembayaran, karena disinyalir mata uang kripto tersebut terlalu banyak menggunakan listrik yang berasal dari energi tak terbarukan. Sehingga Elon berpikir, bitcoin merupakan mata uang yang merusakan lingkungan, karena jelas penyebab kerusakan lingkungan paling berpengaruh saat ini, pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim, terjadi karena terlalu banyaknya manusia memanfaatkan energi tak terbarukan.

Kasus Elon Musk itu sendiri akhirnya menimbulkan banyak pertanyaan. Seperti apakah Bitcoin menggunakan terlalu banyak energi yang merusak lingkungan? Apakah mungkin untuk menambang bitcoin dengan menggunakan 100 persen sumber energi yang ramah lingkungan? Mari temukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Penambangan mata uang kripto di Islandia yang lebih ramah lingkungan karena menggunakan sumber energi yang berasal dari panas bumi. (dok.zipmex)
Penambangan mata uang kripto di Islandia yang lebih ramah lingkungan karena menggunakan sumber energi yang berasal dari panas bumi. (dok.zipmex)

Tak bisa dipungkiri, penambangan mata uang kripto seperti bitcoin memang menggunakan banyak listrik. Pusat Keuangan Alternatif Cambridge memperkirakan bahwa total listrik yang dikonsumsi oleh penambang bitcoin di seluruh dunia adalah rata-rata 113 TeraWatt-jam per tahun. Jumlah tersebut memang tak bisa dikatakan sedikit. Sebab jumlah tersebut sebanding dengan total konsumsi energi negara-negara seperti Belanda dan Republik Ceko.

Namun, “Studi Komparatif Global Ketiga Cryptoassets” baru-baru ini menunjukkan bahwa 76 persen penambang uang kripto menggunakan setidaknya sebagian energi terbarukan yang ramah lingkungan dalam operasi mereka. Bahkan setidaknya ada sekitar 39 persen dari semua konsumsi energi digunakan dalam penambangan bitcoin , berasal dari sumber terbarukan, seperti angin, matahari, dan pembangkit listrik tenaga air.

Mari kita bandingkan penambangan Bitcoin dengan jaringan listrik secara keseluruhan. Misalnya, sekitar 20 persen pembangkit listrik di Amerika Serikat (AS) untuk tahun 2020 berasal dari sumber terbarukan. Ini berarti bahwa dengan 40 persen konsumsi energinya berasal dari energi terbarukan, penambangan bitcoin dua kali lebih hijau dari jaringan nasional secara keseluruhan.

Pada bulan Mei, Galaxy Digital menerbitkan “On Bitcoin’s Energy Consumption: A Quantitative Approach to a Subjective Question,” yang menguraikan konsumsi energi penambangan Bitcoin, perbankan tradisional, dan penambangan emas. Analisis perbankan tradisional melihat penggunaan energi dari 100 bank terbesar di dunia diperkirakan mengosumsi energi sekitar 260 TWh per tahun. Ini berarti lebih dari dua kali lipat konsumsi daya penambangan bitcoin. Galaxy memperkirakan konsumsi listrik industri pertambangan emas yang terkait dengan gas rumah kaca menjadi 240 TWh per tahun. Ini berarti bahwa emas mengkonsumsi energi sekitar 85 persen lebih banyak per tahun daripada penambangan bitcoin.

Benarkah Bitcoin Tak Ramah Lingkungan? 3

Penting untuk dikatakan, bahwa dampak lingkungan dari bitcoin dan mata uang kripto lainnya bukan merupakan fungsi dari perangkat lunak mereka, tetapi dari kebijakan energi di negara-negara tempat para penambang beroperasi. Misalnya, Islandia, yang karena biaya dayanya yang relatif rendah merupakan lokasi favorit bagi penambang bitcoin, menghasilkan hampir semua listriknya dari sumber panas bumi terbarukan. Dan di provinsi Quebec, Kanada, 95 persen listrik adalah pembangkit listrik tenaga air.

Semua data ini membuat jaringan bitcoin lebih fokus pada sumber energi bersih daripada hampir semua industri skala besar lainnya di dunia. Tidak ada bukti bahwa mata uang kripto memiliki dampak lingkungan eksternal di luar dampak yang dapat dikaitkan dengan pengguna listrik mana pun. Pendukung bitcoin mengklaim bahwa jaringan dapat memacu penggunaan energi terbarukan yang lebih besar, sehingga masih banyak yang harus dilakukan untuk mewujudkan potensi tersebut.

 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

sulung