Benarkah Cinta Itu Buta?


Benarkah Cinta Itu Buta? 1

Pemuda itu gelap, seperti orang yang kehilangan penglihatannya dari lahir. Bahkan, pemuda itu jatuh gila, kehilangan akal sadarnya. Penyebabnya adalah seorang gadis, putri keturunan yang sejak awal nenek moyangnya berbeda dari suku dan tradisi nenek moyang pemuda tersebut. Padahal banyak gadis lainnya yang lebih cantik dari kekasihnya itu di kotanya. Lalu, mengapa dia menggilai gadis tersebut? Dia menjawab, “Karena kalian tidak melihatnya dengan memakai kedua mataku…” Bahkan, ketika pemuda tersebut sembuh dari gilanya, kemudian ia ditanya, “Mana yang lebih engkau cintai, dunia dan seisinya atau Laila?” Dengan lantang ia menjawab, “Debu yang menempel di bawah sandal Laila lebih aku cintai dibanding dunia dan seisinya..” Dan, pemuda itu bernama Qaisy. Ini sekelumit kisahnya yang terekam dalam novel Laila Majnun, dan bukan tak mungkin kisah yang sama benar-benar terjadi dalam dunia nyata.

Dalam cerita di atas, apakah pemuda yang bernama Qaisy itu benar-benar buta? Tidak! Dia tidaklah buta, penglihatannya normal, dan memang sejak lahir dia mampu melihat dengan sempurna, sama sekali tidaklah buta. Dengan begitu, cintanyakah yang buta?

Abu Al-Ghifari dalam bukunya menegaskan, bahwa cinta itu tidaklah buta karena tidak bermata dan tidaklah tuli karena tidak berdaun telinga. Cinta itu pasif, dan bisa akan aktif tergantung cara manusia mengaktifkannya.

Penegasan Abu Al-Ghifari di atas, memberikan sinyalemen bahwa cinta itu pasif, diam tak bergerak tergantung cara kita menggerakkannya, bila kita menginginkannya ia bergerak. Artinya, cinta bisa saja buta, tuli, berdiam kaku, melihat dengan tajam, berpendengaran tajam, bergerak lincah, gesit, dan sebagainya, semua tergantung cara sang pencinta membangunkannya.

Demikian itu dapat dinyatakan, bahwa tidak semua cinta itu buta, tuli, bisu, lumpuh, dan tak mampu bergerak. Bahkan, dengan cinta seseorang bisa menjadi kuat bertahan, energik, dan bergerak lincah.

Namun, tidak boleh dikesampingkan, bahwa dengan cinta terkadang manusia menjadi buta dan tuli dari nasihat-nasihat, lemah, dan jatuh sakit. Imam Al-Bushiri di dalam antologi syairnya yang berjudul Burdatu al-Madih, dalam satu potongan syairnya menguatkan akan hal tersebut, “…. al-hubbu ya’taridlu al-ladzdzati bi al-alami” (cinta telah menggantikan posisi kebahagiaan dengan kesengsaraan). Lebih lanjut beliau bersyair, “Mereka menasehatiku, akan tetapi aku tidak mendengarnya. Sesungguhnya cintalah yang menjadikan diriku tuli dari semuanya itu…”

Hal di atas, selaras dengan sebuah hadits, “Hubbuka li al-syai’ ya’mi wayashim” (cintamu pada sesuatu mampu membuatmu menjadi buta dan tuli). Mengenai hal ini, Syekh Ibrahim Al-Bajuri memberikan penjelasan, “Ketika seorang anak manusia tersandung cinta dan rindu yang akut (asyiq), maka ia bisa menjadi buta dan tuli.” Sebabnya, cinta tak selalu mendatangkan bahagia dalam jiwa-jiwa pemeluknya.

Cinta terkadang menghadirkan lara di balik semuanya. Di sana, di bawah teduh rindang naungan cinta, terdapat tapak-tapak uji yang harus dilalui, berat, dan teramat payah. Selanjutnya Qaisy berkata, “Biarkan terenggut senyuman dari diriku, asal hati ini tetap memeluk senyum Laila..”

Dari semua pemaparan di atas, barangkali dapat menjadi penengah dari dua argumentasi yang saling berseberangan. Sebab, banyak sekali penulis mendapati beberapa teman yang cekcok soal kondisi tubuh cinta, apakah ia buta ataukah tidak? Sebagai pelengkap dari pembahasan di atas sekaligus penengah, penulis kutip analogi Reza M. Syarif dalam karyanya, The Prince of Love (Sang Pangeran Cinta), bahwa pencinta itu seperti peselancar handal, di mana waktu yang tepat ia untuk membungkuk, menungging, dan berdiri.

Jelas, antara lara dan bahagia dalam jiwa pencinta adalah sama. Keduanya ada titik korelasi, satu waktu ia tertimpa lara dan satu waktu yang berbeda ia dalam gembira. Begitulah siklusnya.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Holikin

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments