Bentuk-Bentuk Sastra di Dunia Maya

Bentuk-Bentuk Sastra di Dunia Maya

Jika membahas sastra, sudah tak dapat dimungkiri akan berkaitan dengan sejarah. Sastra merupakan ungkapan pengekspresian manusia dari pemikirannya, pendapatnya, pengalamannya, hingga perasaannya dalam bentuk yang imajinatif, cerminan kenyataan atau informasi akurat yang dibalut dalam kemasan kualitas dan keindahan lewat media bahasa. Disebut juga imajinatif karena sastra ada yang berbentuk imajinatif, nonimajinatif, fiksi, dan nonfiksi.

Meskipun dari penjelasan di atas sastra dianggap juga sebagai karya fiksi, tetapi sastra tetap dapat mencerminkan kenyataan pada setiap tulisannya. Tulisan yang dihasilkan dari pemikiran penulis akan terasa nyata jika dikerjakan dengan perasaan yang baik. Seorang penulis akan menyalurkan pemikirannya, perasaannya, ke dalam tulisan dengan baik jika suasana hatinya pun baik. Tak jarang juga ada beberapa penulis yang menulis karyanya dengan perasaan yang tak karuan. Macam-macam. Hal tersebut membuktikan bahwa sastra sangat erat kaitannya dengan emosional.

Sastra itu seni. Sastra tidak akan ada habisnya diperbincangkan sepanjang masa. Berkembangnya sastra itu sesuai zaman. Pengertiannya terus menjadi perbincangan yang khas oleh beberapa pencetus di berbagai periode. Sastra selalu menjadi perdebatan yang asyik jika dikupas lebih dalam.

Bentuk sastra di Indonesia sendiri sangatlah bervariasi. Dari sastra imajinatif yang di dalamnya ada puisi, drama, prosa, prosa fiksi. Pada prosa fiksi ini terbagi lagi ke dalam tiga jenis, yaitu ada novel, cerpen, dan novelet, sedangkan, dari sastra nonimajinatif, di dalamnya ada esai, biografi, autobiografi, kritik, sejarah, memoar, catatan harian, dan surat-surat.

Sumber: Pixabay
Sumber: Pixabay

Di era globalisasi ini, zaman yang semuanya sudah serba digital. Bahkan untuk sekadar menyapa pun bisa dilakukan secara online via WhatsApp. Begitu pun sastra, banyak cara yang dapat kita lakukan untuk melihat, merasakan, dan menikmati sastra. Sudah lebih dari puluhan media sosial yang menjembatani antara karya sastra dan penikmat karya sastra itu sendiri. Berikut akan dibahas media apa saja yang dapat memengaruhi sastra di dunia maya.

Baca juga  Selamat Hari Kasih Sayang

1. Facebook

Jejaring sosial pada Facebook sudah tidak dapat diragukan lagi dan kerap dijadikan media pengekspresian imajinasi bagi banyak orang. Sebagai media sosial yang terbuka, Facebook sudah mampu mendapat tempat bagi para pelaku sastra. Siapa saja bisa dengan bebas menyiarkan karya-karyanya lewat media ini dan setiap orang juga bebas memberikan komentar atau sekadar menekan tombol like sebagai bentuk apresiasi terhadap karya tersebut. Bahkan, ada juga beberapa komunitas sastra yang bergerak di sini, seperti Dunia Sastra, Rumah Sastra, Kopi Sastra dan masih banyak lagi yang membuat kelompok sendiri.

Media ini memiliki peranan yang penting dalam menghidupkan sastra. Bagi para sastrawan yang karya-karyanya sudah diterbitkan melalui media cetak, boleh juga berkontribusi menyebarluaskan karyanya melalui media ini. Mungkin dari karyanya yang sudah berhasil di-publish pada media cetak tidak tepat sasaran, tetapi melalui Facebook, karyanya akan dengan sangat mudah dan cepat diketahui oleh banyak orang.

2. Twitter

Twitter menjadi salah satu platform yang sangat berpengaruh dalam menyebarluaskan karya sastra. Banyak sekali pengguna yang aktif dalam pemakain aplikasi ini. Sastra bisa menjadi suatu informasi yang akan sangat cepat meluas dari satu user ke user lainnya.

Baca juga  Sejarah Perkembangan Cerpen Periode 2000

3. Instagram

Media sosial ini tidak jauh berbeda dengan Twitter. Ratusan bahkan jutaan pengguna yang sudah mengaplikasikan platform tersebut. Banyak sekali orang yang secara bebas dapat menyebarluaskan karyanya melalui media sosial ini. Begitu juga untuk para penutur atau penulis sastra dan penikmat sastra, ini sudah jelas menjadi cara yang mudah bagi mereka untuk membeberkan karya sastranya agar dapat dinikmati oleh khalayak umum.

4. Webtoon

Aplikasi Webtoon atau yang bisa disebut dengan komik daring ini adalah sebuah aplikasi yang dibuat oleh negara asal Korea Selatan. Aplikasi ini bisa menjadi wadah bagi sastrawan yang berkedok sebagai editor untuk dapat merealisasikan imajinasinya dalam mengekspresikan karya sastra sehingga melahirkan sebuah karya berbentuk komik digital yang dapat dinikmati oleh orang banyak. Pengarang komik di Webtoon sendiri juga bebas dari kalangan mana saja, tidak harus memiliki latar belakang sebagai komikus.

Ada beberapa judul Webtoon yang berlatar belakang sejarah, salah satunya yaitu Rengasdengklok. Komik ini di dalamnya menceritakan tentang detik-detik kemerdekaan Indonesia. Dalam sejarahnya, terjadi perselisihan antara golongan muda dan golongan tua mengenai pelaksanaan proklamasi, hingga terjadi sebuah penculikan terhadap Ir. Soekarno. Bahkan, ada pula beberapa judul Webtoon yang berhasil dialihkan ke dalam media perfilman. Contoh komik Indonesia yang difilmkan adalah Terlalu Tampan, Eggnoid, dan Si Juki, sedangkan komik berjudul Mr. Queen dari negara Korea Selatan juga sudah berhasil di-remake ke sebuah drama dengan judul yang sama, yang berlatarkan sebuah kerajaan di Negeri Ginseng tersebut.

Baca juga  Kedudukan Pengarang: Dimatikan oleh Karya dan Dihidupkan Kembali oleh Pembaca

5. Wattpad

Berbeda dengan Webtoon yang mempunyai visualisasi gambar yang banyak. Wattpad merupakan sebuah aplikasi berbentuk cerita panjang mirip dengan novel, tetapi dalam bentuk daring. Hampir sama juga dengan e-book, tetapi bedanya e-book adalah buku cetakan yang sudah berhasil diterbitkan pada percetakan kemudian di-scan dan dibuat dalam bentuk digital.

Wattpad adalah media yang banyak digandrungi oleh pembaca dan masyarakat, khususnya remaja. Sudah pasti ini memperhalus jalan para penulis dalam mengekspresikan karyanya. Para penulis dapat leluasa menuangkan imajinasinya ke dalam bentuk tulisan. Salah satu judul Wattpad yang berkaitan dengan sejarah di Indonesia adalah Matahari Esok: Apakah Esok telah Merdeka oleh Bintangadi1911. Di dalamnya menceritakan era Indonesia pada masa Jepang. Seorang pemuda berdarah Jawa bernama Muhammad Kusno Wijoyo yang banyak mendengar banyak cerita tentang kejayaan nusantara dari kakeknya, juga kisahnya bagaimana ia bertahan hidup di bawah penguasaan Jepang.

6. Sastra melalui Siniar

Karya sastra dapat diwujudkan pula melalui media siniar atau yang disebut juga dengan podcast. Adanya siniar sastra sebagai bentuk inovasi untuk lebih mudah menikmati sastra selama masa pandemi ini. Alih wahana karya sastra Indonesia ke dalam bentuk audio ini guna memperkenalkan dan memasarkan lagi karya-karya sastra Indonesia.

Perkembangan teknologi informasi di era digital ini merupakan sebuah kenyataan yang tidak dapat ditolak kehadirannya oleh para sastrawan di luar sana. Banyak yang berpendapat bahwa karya sastra melalui media sosial tidak berkualitas dibandingkan dengan karya sastra cetak seperti koran, majalah, dan lainnya. Namun, dapat dilihat kembali pada minat masyarakat. Ada yang mungkin lebih suka menikmati sastra secara praktis, begitu pun sebaliknya, ada yang lebih suka menikmati sastra dengan effort yang lebih. Semua memiliki caranya tersendiri dalam mengapresiasi dan menikmati sastra. Hal ini harus kita anggap sebagai sesuatu yang lumrah terjadi di kalangan masyarakat.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Maulidya Cahya Prastika