Beranak Pinak Ditengah Pandemi

Beranak Pinak Ditengah Pandemi 1

Pandemi membuat kondisi masyarakat yang awalnya stabil menjadi labil. Berbagai tingkat dalam strata sosial menjadi kalang kabut. Banyak yang nggak mau nambah momongan lagi. Program KB (Kehamilan Berencana) jadi andalan. Hal ini diterapkan oleh keluarga yang berada di strata sosial yang tinggi, dengan penghasilan menengah keatas.

Tentu saja strata atas tak perlu lagi memikirkan uang, hanya pilih layanan KB dan selesai. Bagi mereka program ini bagaikan semudah mengakses internet. Mau suntik, IUD, pil KB dll tinggal pilih saja.

Selama pandemi, punya anak dianggap sebagai beban, apalagi nantinya akan butuh usaha ekstra mencari uang. Biaya selama kehamilan belum termasuk biaya persalinan. Banyak yang mau bersalin di bidan terdekat, tapi malah dirujuk ke rumah sakit, ternyata bidan nya terkendala peralatan, malah biayanya pun jadi membengkak.

Yang lagi hamil, eh malah dilarang sering-sering check-up ke rumah sakit. Lagi pandemi, ibu hamil rentan terpapar virus. Disarankan dokter, kalau mau konsul lewat daring saja, lebih aman. Datang ke RS nya kalau udah muntah-muntah luar biasa, air ketuban pecah, kontraksi, tekanan darah mendadak tinggi, nyeri kepala hebat hingga kejang-kejang atau bahkan yang paling parah, sang bayi dalam kandungannya mendadak tidak bergerak, tidak terasa lagi keberadaan-nya.

Ibu-ibu muda yang suka khawatiran pada kehamilan pertama menjadi berkah bagi platform pelayanan kesehatan seperti halodokter, dsb. Dengan kemudahan akses informasi, mereka bisa konsultasi pada dokter sepanjang hari. Bahkan calon ibu muda lainnya bisa seharian duduk didepan televisi untuk menyaksikan siaran DR.OZ Indonesia, menunggu topik-topik kehamilan ditayangkan.

Tapi disisi lain, banyak dari keluarga kelas menegah yang justru beranak-pinak ditengah pandemi. Bukannya sadar, mereka semakin menambah label “produksi”. Mereka tidak dipusingkan dengan biaya.

“Katanya” masing-masing orang sudah ada rejekinya, jadi mau punya anak seberapa banyakpun sebenarnya biasa saja, tergantung dari kedalaman saku pribadi pasangan masing-masing.

Menurut laporan Kompas per 20 mei 2020, lebih dari 400.000 kehamilan baru, terjadi selama pandemi di Indonesia. Bagaimana tidak, WFH membuat kerjaan para pria hanya berputar di rumah saja. Ketika kebosanan melanda, di-kelonin menjadi jalan satu-satunya. Hal ini mulai menjadi kegusaran bagi sebagian orang.

Babyboom lama kelamaan menampakkan taringnya, memicu ledakan jumlah kependudukan di Indonesia. Hal ini bisa memperparah berbagai sektor seperti pelayanan kesehatan dan publik, pembuatan data administrasi penduduk dan penyediaan tempat tinggal yang layak. 

 “Jika anda berencana hamil, sekarang bukan waktu yang tepat. Tolong gunakan alat kontrasepsi,” ujar Wardoyo dilansir AFP, selasa (19/5/2020). Dari laporannya, diketahui para pria enggan menggunakan kondom karena mereka khawatir takut kehilangan “rasa”, hal ini menyebabkan 95 persen pemakaian alat kontrasepsi diberatkan kepada wanita.

Polemik ini juga menjadi trending topic di berbagai media sosial. Orang-orang mulai meneriakan jargon, “14 hari di rumah, corona negatif, istri positif ”, tentunya ini menimbulkan ke kocak-an tersendiri di kalangan netizen. Jargon ini lantang di suara-kan para pasangan yang baru saja menikah, menggebu-gebu ingin berbulan madu dan melaksanakan malam pertama.

Lonjakan beranak-pinak di tengah pandemi, yang awalnya merupakan salah satu bukti konsistensi masyarakat dalam mencegah penyebaran covid-19 dengan berada di rumah, pada akhirnya membuat oknum-oknum tak bertanggungjawab menjadikannya sebagai alasan. Berbagai kejahatan pun bermunculan

Berita tersebut datang dari Kota Padang pada bulan Juli yang lalu. Ada seorang ibu menjual anak yang dilahirkannya dari hasil “kebablasan” seharga 3 juta rupiah. Bayi yang baru berusia 3 minggu itu dijual dengan dalih mendapatkan uang untuk membelikan ponsel anak pertama, bahkan kejadian ini bukan yang pertama kali nya. 

Terungkap bahwa ia sudah melakukannya sebanyak dua kali. Pengakuannya sih buat “diadopsi”, karena ekonomi si ibu sendiri tidak berkecukupan, karena tidak memenuhi standar aturan yang berlaku, membuat sikapnya menjadi tabu di mata masyarakat. 

Hal ini menjadi bukti, beranak-pinak di masa pandemi masih memiliki kesan tersendiri didalam benak warga. Bak pinang dibelah dua, ada yang menjadikannya sebagai pelampiasan dan ada juga yang menjadikannya ajang pembelaan diri untuk berbuat kesalahan.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.