Berapa Manusia yang Harus Diselamatkan Bila Bencana Besar Memusnahkan Bumi?


Berapa Manusia yang Harus Diselamatkan Bila Bencana Besar Memusnahkan Bumi? 1

Berbagai kemungkinan bencana besar bisa terjadi di bumi. Mulai dari yang berupa mitos, seperti banjir bandang yang menimpa umat Nabi Nuh, sampai perkiraan bencana besar yang bisa menerpa dunia, seperti tsunami, gempa bumi, atau perubahan iklim. Sampai akhirnya mungkin ada benar-benar satu dugaan bencana besar yang bernama kiamat benar terjadi.

Mengakibatkan banyak bagian di bumi ini menjadi musnah. Bila kejadian seperti itu benar ada, lalu muncul satu pertanyaan besar didalamnya. Berapa banyak orang yang sepatutnya bisa diselamatkan untuk meneruskan kehidupan manusia?

Untuk menjawab pertanyaan itu, tergantung dari kondisi, kemampuan dan target yang diinginkan. Seperti misalnya benar-benar terjadi musim dingin berkepanjangan karena perang nuklir, maka perlu diperkirakan jumlah orang yang bisa selamat dari sengatan dingin dan penyakit, tak termasuk para penderita radiasi nuklir.

Namun tetap harus diperkirakan jumlah paling minimal yang harus dipertahankan, untuk melanjutkan kehidupan ras manusia, yang saat ini berjumlah 7,8 miliar orang.

Wahana Mars Rover milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang telah menjelajah planet Mars. Akan menjadi bagian masa depan koloni manusia di Mars, termasuk didalamnya wilayah pengungsian bila manusia harus pergi dari bumi. (dok. NASA) 
Wahana Mars Rover milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang telah menjelajah planet Mars. Akan menjadi bagian masa depan koloni manusia di Mars, termasuk didalamnya wilayah pengungsian bila manusia harus pergi dari bumi. (dok. NASA) 

“Dengan populasi kurang dari seratus orang, kita kemungkinan hanya bisa bertahan untuk beberapa abad saja. Dengan beberapa titik populasi sejumlah seperti tadi, maka bisa saja bertahan sampai beberapa abad bahkan milenium”, analisa Cameron Smith, seorang profesor dari Departemen Antropologi Universitas Negeri Portland di Oregon, Amerika Serikat (AS).

Smith sendiri memang telah melakukan berbagai uji hipotesa skenario mengenai jumlah kolonisasi manusia di bumi dan luar angkasa, bila benar-benar terjadi bencana besar bagi umat manusia. Menurutnya sejak zaman Neolitik atau sekitar 12.000 tahun lalu, ketika manusia mulai bertani, diketahui memang banyak terdapat kelompok kecil manusia hidup dalam daerah terpisah berjumlah masing-masing sekitar 1.000 orang.

“Kelompok-kelompok itu merupakan populasi bebas, namun saya mengira mereka memiliki kaitan kekeluargaan dan perkawinan antar kelompok. Pada skenario bencana besar, saya memperkirakan kondisi seperti itu akan kembali terjadi”, papar Smith.

Di lain pihak, Direktur Eksekutif Institut Resiko Catastrophic Global, Seth Baum menyatakan pasti akan ada semacam konsensus internasional untuk menyelamatkan sejumlah manusia, bila benar-benar akan ada bencana besar melanda bumi.

“Salah satu langkah yang pasti akan ditempuh adalah mendirikan tempat pengungsian entah dimana di bagian bumi ini. Atau bahkan kalau perlu tempat pengungsian itu bisa saja tidak berada di bumi ini”, urai Baum.

Perbandingan besaran antara Bumi dan Proxima b yang tak jauh berbeda. (dok. IDN Times)
Perbandingan besaran antara Bumi dan Proxima b yang tak jauh berbeda. (dok. IDN Times)

Pengungsian Luar Angkasa

Lalu bila benar pengungsian di luas angkasa harus ada. Perlu berapa orang untuk memastikan kelanjutan ras umat manusia?

Frederic Marin, seorang astrofisika dari Universitas Strasbourg di Prancis dalam sebuah studi yang dipublikasi dalam Journal British Interplanetary Society tahun 2018 lalu menyatakan kalau awak kapal sebanyak 98 orang, bisa untuk melanjutkan perjalanan hidup manusia sepanjang 6.300 tahun dalam perjalanan kapal luar angkasa menuju titik tertentu.

Titik tujuan paling masuk akal menurutnya adalah gugusan planet Proxima Centauri b. Dimana gugusan planet tersebut lebih dekat ke matahari, sehingga kemungkinan sumber daya pendukung kehidupan manusia, juga ada disana.

Namun jumlah 98 orang tersebut, ternyata memiliki sejumlah masalah, seperti terlalu ketatnya sistem kekerabatan dan keturunan diantara mereka. Sebab berarti hanya ada 49 pasangan didalamnya. Dimana sejumlah pasangan itu, harus dimodifikasi tidak memiliki kaitan darah atau gen yang sama. Jadi dapat dipastikan dengan jumlah pasangan sedikit seperti itu, akan terjadi pengawasan yang ketat untuk urusan beranak pinak.

Untuk kajian masalah jumlah ini, menurut Marin memang seharusnya lebih banyak orang lebih baik. Sebab berarti makin banyak pasangan ada didalam kelompok itu. Setidaknya menurutnya perlu sekitar 500 orang, atau 250 pasangan didalamnya sebagai pilihan paling aman.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

sulung

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap