Berapa Rupiah Pendidikanmu Yang Tinggi Itu?

Berapa Rupiah Pendidikanmu Yang Tinggi Itu? 1

Mahalnya biaya pendidikan di institusi pendidikan negeri sekarang merupakan perbincangan yang telah melewati fase desas-desus, maupun buah bibir semata, sebab dengan banyaknya fakta dan kejadian yang didapatkan didunia pendidikan khususnya dalam negeri telah membuat masyarakat resah, tentu para akademisi dan pelaku dunia pendidikan tidak sedikit yang merasa risih akan hal ini, bagaimana tidak pendidikan yang seharusnya menjadi ajang pencerdasan anak bangsa telah “tercemari” secara fundamental oleh kapitalisasi serta politisasi pendidikan.Indonesia merupakan negara dengan jumlah perguruan tinggi yang tidak sedikit dan tidak muda lagi, prestasi yang dihasilkan baik itu oleh kampus secara institusi maupun insan akademik atau personal. sebut saja kampus – kampus besar negeri di indonesia bagian barat seperti universitas indonesia (UI), universitas gajah mada (UGM), institut pertanian bogor (IPB), dan masih banyak lagi yang sudah teruji kompetensinya dalam menciptakan intelektual – intelektual, pekerja handal, birokrat negara, dan posisi penting dalam turut serta membangun negara dan memajukan perkembangan bangsa, tentu saja dengan prestasi gemilang dari masa ke masa.

Dibagian indonesia timur tidak kalah pula perkembangan perguruan tinggi, bahkan rentan waktu tahun 2000 – 2015 indonesia timur merupakan pencetak perguruan tinggi terbanyak di indonesia, mulai dari yang telah berumur dan teruji, hingga yang bahkan gedung resmi pendidikannya belum ada, sebut saja universitas hasanuddin (UNHAS), universitas negeri makassar (UNM), universitas Halueleo (UNHALU), sam ratulangi (UNSRAT), universitas cendrawasih (UNCEN), dan masih banyak lagi. Semua Perguruan tinggi tersebut merupakan sarana pendidikan yang dibentuk untuk turut serta mencerdaskan anak bangsa, dari penjuru negeri di indonesia, dan memiliki prinsip yang sama dalam metode pembelajarannya sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi negara serta UUD 1945  “KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA” hal ini tidaklah sulit untuk dimaknai baik secara langsung maupun melalui pengkajian yang cukup mendalam dan memerlukan waktu yang tidak sebentar namun secara literal dapat kita maknai termasuk pula keadilan dalam mendapatkan pendidikan pula

Menjauh dari cita-cita luhur bangsa

Sebagai manusia yang normal baik tua, muda, kaya, miskin, dari berbagai latar belakang serta golongan pasti memerlukan dan menginginkan pendidikan, baik formal maupun nonformal, dalam bentuk diskusi misalnya dari perbincangan warung kopi, hingga perbincangan filsuf dan teologi, dalam bentuk puisi bersajak hingga pada jurnal internasional, Itu merupakan fitrah manusia yakni rasa ingin tahu, bertanya, menjawab, serta menyalurkan ilmu yang kita miliki, atau hanya sekedar ingin berbagi pengetahuan.

Socrates mendirikan academica yang dipercayai sebagai cikal bakal pendidikan tinggi beratus – ratus tahun yang lalu ialah merupakan tindakan preventif serta solutif melawan kecurangan kaum sofi Yang memperjualbelikan ilmu pengetahuan dan menukarnya dengan beberapa keping emas dan juga kekuasaan, disamping menciptakan kesetaraan pengetahuan masyarakat yunani pada saat itu.

Sejarah pendidkan bangsa kita tergolong masih muda jika dibandingkan dengan pendidikan bangsa eropa maupun timur tengah, pijak dasar pemikiran untuk mendorong pendidikan di indonesia tidak lepas dari para pejuang – pejuang kemerdekaan bangsa ini, jika socrates pada masanya menggunakan pendidikan melawan gerakan kaum sofi, bangsa kita pada saat perjuangan kemerdekaan menggunakan pendidikan sebagai senjata melawan penjajahan oleh belanda . Dengan didorongkan oleh semangat itulah tokoh-tokoh seperti ki hajar dewantara, hos.cokroaminoto, bung karno dan para besar lainnya menitikberatkan perjuangan bangsa kita pada pendidikan, agar kita bangsa indonesia tidak lagi dibodohi oleh bangsa asing.

Cita – cita luhur ini pula yang merupakan kobaran api pengetahuan bangsa kita untuk lebih mengetahui dunia pendidikan, maka dikirimlah pelajar – pelajar putra bangsa ke berbagai negri asing untuk belajar dengan harapan mereka membawa banyak perubahan kepada bangsa indonesia kelak ketika mereka telah berhasil, kemudian tak lama berselang munculnya berbagai gerakan – gerakan rakyat atau perkumpulan berbagai tipe, latar agama, politik, sosial oleh para pelajar, dibarengi kemunculan gerakan-gerakan intelektual pada zamannya, sebut saja boedi oetomo, indisjhe patij, taman siswa, muhammadiyah dan sebagainya yang merupakan usaha membawa bangsa kita ke pintu gerbang kemerdekaannya dengan motor penggerak pendidikan.

Globalisasi, kapitalisme dan pendidikan

Pada Era pengetahuan seperti sekarang ini, dimana globalisasi merupakan alasan utama segala perubahan yang terjadi dengan apologi kebenaran dan kemajuan suatu bangsa dengan mengikuti arus globalisasi dunia. pada prinsipnya globalisasi membuat desa menjadi dusun , kota menjadi desa , tentu dalam konteks mudahnya informasi tersebar , jarak bukan lah menjadi alasan bagi kurangnya informasi dan teknologi yang masuk ke suatu negara , tidak terkecuali juga sistem pendidikan.

Globalisasi dan kapitalisme tidak ubahnya kuda dan penunggangnya , globalisasi memiliki power dorongan yang sangat kuat, dengan hasutan teknologi dapat memasuki ke segala lini kehidupan masyarakat dan bernegara , bukan tidak mungkin kapitalisasi pendidikan terjadi begitu signifikan terlihat di beberapa negara termasuk indonesia. globalisasi menurut William Greider dalam bukunya yang berjudul one world, ready or not, The Manic Global Capitalism (1998) terjadi seperti angin puting beliung dan hanya menguntungkan segelintir orang yang disebutnya sebagai kapitalisme global,  Sesuai dengan watak dari kapitalisme yang rakus dan tak pernah puas, mereka beramai-ramai menguras kekayaan dunia, masuk ke dalam kantung mereka, dengan memanfaatkan teknologi komputer, mengabaikan semua tatanan kesantunan hidup bersama. Memang para kapitalis global itu telah memungkinkan penyebaran kenyamanan dan kemudahan, tetapi itu semua hanya untuk 10 persen dari penduduk bola dunia; sementara jurang antara si kaya dan si miskin (digital divide) menjadi kian menganga.

Siapa kapitalis global itu? Mereka adalah para spekulan uang yang jumlahnya tidak lebih dari 200.000 orang (yang terkenal di antaranya adalah George Soros), dan sekitar 53.000 perusahaan multinasional (multi-national corporations) yang mempekerjakan sekitar enam juta orang di seluruh dunia. Harus ditambahkan di sini adalah institusi keuangan internasional, IMF (International Monetary Fund) dan World Bank. Lembaga keuangan internasional itu didukung oleh WTO (World Trade Organization) secara langsung atau tidak langsung ikut membantu para kapitalis global untuk membuka pasar di seluruh dunia yang sampai sekitar tahun 1970-an merupakan pasar yang tertutup.

Kemanapun kau menghadap disitulah wajah pasar” kalimat tersebut merupakan idiom dari kutipan salah satu kitab suci , bukan tidak mungkin hal itu kini menjadi realita tak terbantahkan , bahkan ahli ekonomi pun menyakini hal tersebut, dengan adanya arus globalisasi tak terbendung yang menggandeng kapitalisme dan dimungkinkan oleh pasar bebas, maka pasar pun akan bertebaran dimana – mana, potensi “pasar” tidak terbatas, pun tak terkecuali pada bidang pendidikan.

Pendidikan tak lagi murni , masuknya “virus” kapitalisme kedalam sistem pendidikan kita membuat pendidikan mengalami distorsi makna , jangankan cita – cita socrates beratus tahun dahulu yang akan mulai kehilangan jiwa murninya, bahkan ki hajar dewantara dengan tut wuri handayaninya pun akan terlupa oleh kita , bisa anda bayangkan betapa dahsyatnya pengaruh kapitalisme kini.

Dari BHP hingga PTNBH

badan Hukum pendidikan (BHP) ialah bentuk badan hukum lembaga pendidikan formal di indonesia yang memiliki basis otonomi dan nirlaba. pembentukan BHP didasari oleh Undang-Undang Nomor 9 tahun 2009 yang disahkan oleh DPR 17 desember 2008, yang secara historis merupakan kelanjutan dari Badan Hukum Milik Negara (BHMN) yang cenderung sangat komersil dalam penyelenggaraannya. tahun 2010 BHP dihapuskan dan berubah bentuk lain yang lebih besar dalam berjalan pendidikan tinggi yang kemudian disebut PTNBH.

menengok proses yang terjadi sejak digulirkannya “nama” BHP dalam institusi pendidikan bangsa , ternyata kita pernah kecolongan masuknya perspektif pendidikan berbasis komoditas , selayaknya bangsa yang besar hal ini sebenarnya benar-benar krusial dan salah satu penghancur kemurnian dalam melakukan pendidikan berbasis amanah konstitusi , seperti yang tertera dalam amanah konstitusi negara kesatuan republik indonesia ini “ turut mencerdaskan kehidupan bangsa “ , dalam perspektif kecurigaan kita pantas mencurigai dewan-dewan rakyat terhormat tersebut telah disusupi oleh dewan-dewan kapitalis yang senantiasa melancarkan siasat mengkomersialkan pendidikan murni bangsa kita.

wujud baru dari UU BHP ialah diberlakukannya Status PTNBH bagi perguruan-perguruan tinggi negeri yang dirasa telah mampu membiayai operasional semua kegiatan pembelajaran secara mandiri, penjelmaan BHP ini yang kemudian secara terang-terangan merangkul sistem kapital dalam lini pendidikan alih-alih memperjuangkan pendidikan murni dan merata bagi anak bangsa malah sebaliknya PTNBH membangun sebuah perspektif pendidikan yang baru melalui money perspektif for education .

PTNBH dalam eksistensinya sebagai sebuah kebijakan menhadirkan sebuah harapan besar dalam institusi pendidikan tinggi bangsa ini, dengan konsep subsidi silang yang diterapkan memungkinkan golongan tidak mampu yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi akan memperoleh kemudahan dan keringanan dalam pembayaran biaya pendidikan karena dalam konsep subsidi silang membuat beberapa pihak dalam dunia pendidikan yang tergolong dalam civitas akademika merasakan niat kebaikan  dalam menolong anak-anak bangsa yang belum merasakan manisnya rasa pendidikan formal.

telah terasa ciri-ciri paradoksial argument dalam sistem PTNBH sejak berjalannya, PTNBH aktualnya telah melahirkan persepsi yang masih simpang siur dari beberapa data lapangan, cita-cita PTNBH yang katanya menggunakan subsisdi silang untuk membiayai si miskin dari uang si kaya ternyata kenyataannya berkata lain, data yang didapatkan malah berkata sebaliknya, dengan pembenaran bahwa sistem PTNBH merupakan sisitem yang baru berjalan sehingga memerlukan waktu yang agak lama hingga menjadi sistem ideal, termasuk praksis subsidi silang yang ada dalam tubuh sistem PTNBH.

Sistem PTNBH jika dirunut lebih mendalam kita harus mulai dari sisitem pendidikan global yang sedang digunakan atau berjalan, berkiblat ke negara adidaya yakni amerika serikat atau UNITED STATE dan negara besar lainnya, sistem berbasis komersialisasi telah lebih dahulu digunakan tidak heran bagi mereka sebab sistem negara mereka memanglah berbasis kapitalis, US merupakan contoh besar yang seharusnya dikaji oleh para pelaku pendidikan nasional sebagai studi kasus sistem berbasis pendidikan berbasis kapiltal, di amerika sistem pendidikan kapital telah menjamur dan menjadi sebuah penyakit yang tidak dapat lagi disembuhkan, yang terkena efek negatifnya ialah pendidikan secara filosofis telah kehilangan cita-cita luhur mereka sebagai usaha mencerdaskan kaum muda amerika, seperti yang dicantumkan oleh peter cooper tokoh pendidikan amerika “ free education for all american people “  faktanya cita-cita yang di yakini oleh peter cooper pada abad 18 itu telah berbalik 180o  menjadi “no free education for american people“ yang bermakna membayar kemudian belajar, peserta didik dihadapkan menjadi pencari sponsor untuk biaya kuliah mereka, dengan student loan itu dapat teratasi tetapi itu menjadi modal awal sekaligus hutang awal mereka selama menuntut pendidikan di perguruan tinggi.

Sekarang dunia pendidikan nasional sedang bertaruh dengan menggunakan sistem baru yang dianggap paling mutakhir untuk mendorong atau menstimulan para pendidik dan juga para calon terdidik, apakah sistem akan berhasil ataukah tidak malah sebaliknya membuat runyam sistem pendidikan bangsa yang berbasis rakyat seperti cita-cita pendiri bangsa dimasa lalu, yakni penuntasan kemiskinan dan kebodohan melalui pendidikan, ataukah kita akan terjebak seperti US alih alih “ free education for all indonesian people “ malah faktanya kita cenderung menjadi UsS kedua dibidang pendidikan “no free education for indonesian people” .

Biaya mahal = pekerjaan terjamin

Dengan adanya upaya komersialisasi di bidang pendidikan khususnya di perguruan tinggi, semua yang berkepentingan mulai berpikir lebih obyektif, banyak pihak memposisikan mereka sebagai konsumen, terutama para pelajar dan orang tua murid tentunya, mereka berpikir jika memang pendidikan tinggi itu mahal merupakan kemutlakan sebagai jaminan akan masa depan yang cerah, kuliah dengan fasilitas yang baik, kurikulum yang mumpuni dan kompetitif, serta lapangan pekerjaan yang jelas.

Dengan perspektif yang perfeksionis itu semua orang tidak akan pernah mengeluh tentang biaya yang mereka keluarkan untuk anak-anak mereka di perguruan tinggi. pertanyaan sekarang ialah, apakah semua itu benar adanya? Fasilitas yang baik, kurikulum, dan pekerjaan yang jelas, apakah telah terpenuhi sepenuhnya? Layaknya seorang konsumen jelas tidak ada yang mau membeli kucing dalam karung, pembeli yang pintar ialah melihat produk terlebih dahulu secara teliti sebelum membeli, kita sebut saja komoditas pendidikan ini merupakan “barang dan jasa “ yang merupakan salah satu langkah dan keputusan besar seseorang dalam kehidupannya. Pendidikan memiliki peran yang sangat fundamental pada masyarakat modern saat ini, salah satu media menempuh pendidikan ialah dengan memasuki institusi pendidikan yang terdaftar dan ternama tentunya, kualitas utama merupakan hal yang tak dapat dinafikkan lagi dalam kebutuhan akan pendidikan baik untuk niat murni mencari ilmu atau hanya sekedar menginginkan ijazah atau pengakuan khalayak ramai.

Begitupun didunia kerja, perusahaan ataupun instansi yang dituju akan meminta pembuktian penyelesaian studi yaitu berupa ijazah serta sertifikat-sertifikat pelatihan dan prestasi selama menempuh pendidikan, pertanyaannya ialah apakah institusi pendidikan yang dibayar mahal telah memenuhi atau memungkinkan peserta didik untuk memperoleh semua hal tersebut minimal semua syarat yang diperlukan didunia kerja? dan idealnya kegiatan penambah skill yang disediakan oleh lembaga kemahasiswaan khususnya. pendidikan yang mahal menjadi bergaining terbesar dalam pendidikan dunia modern dengan harapan reward yang lebih besar didapatkan selesai menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.