Bercakap-cakap dengan diri sendiri


Bercakap-cakap dengan diri sendiri 1

Katanya, sebelum seseorang meninggalkan kehidupan, mereka diberi satu kesempatan untuk kembali ke hari disaat mereka menyesali sesuatu. Dan aku sangat menanti hari itu tiba, karena aku penasaran.

Apa yang akan muncul pada kesempatan itu?


Alea membuka matanya ketika merasakan silau yang memaksa masuk ke matanya yang masih tertutup. Perlahan, ia menemukan debur ombak di pantai yang sepi. Suara debur itu seolah menyatu, menjadikan musik yang tenang di sore yang hangat. Alea tersenyum. Ia begitu menyukai keheningan di dunia, seperti saat ini.

Ia menoleh ke kiri dan mendapati seorang gadis kecil dengan piama berwarna putih berhiaskan bebek-bebek kuning besar. Gadis kecil itu hanya memandang pantai di depan mereka dengan tenang dan dengan wajah yang datar. Alea tersenyum.

Beberapa menit mereka habiskan untuk tetap diam, tak mengeluarkan suara yang berarti kecuali napas yang terus berhembus keluar dan masuk melalui indra penciuman mereka.

“Apakah tidak terlalu sepi?” Tanya gadis kecil itu.

Alea mengernyit bingung, ia tak mengerti dengan apa yang terjadi. Kenapa gadis itu berbicara kepadanya? Bukankah ini mimpi?

“Aku… menyukainya,” jawab Alea sambil menarik sebelah sudut bibirnya.

Gadis kecil itu mengangguk-angguk, membiarkan rambut hitamnya yang sepanjang bahu bergerak ke atas dan ke bawah.

“Kenapa?” Tanya gadis kecil itu, menuntut jawaban lebih.

“Karena orang-orang suka membuang sampah sembarangan?” Jawab Alea sambil tersenyum. Ia terlalu banyak tersenyum saat ini, dan ia tak mengerti kenapa.

“Kalau begitu, hukum mereka,” sahut gadis kecil itu dengan penuh penekanan. Dia seperti anak yang sedang memprotes masakan ibunya.

“Kau mau melakukannya? Aku terlalu malas untuk melakukan hal-hal seperti itu,” kata Alea sambil membenarkan syal hijaunya. Ia menunduk dan menyadari pakaiannya yang terlihat mirip dengan anak itu. Hanya saja ia mengenakan sebuah syal dan anak itu tidak.

“Ternyata itu alasan kenapa pantai ini sepi ya,” kata gadis kecil itu menyimpulkan.

Alea memandang gadis kecil itu, mempertanyakan alasan otaknya membawa ia untuk bertemu dengan gadis kecil ini setelah 20 tahun lamanya.

Gadis kecil itu menoleh dan memandang Alea. Di matanya yang berwarna hitam, terpantul cahaya yang terasa menyilaukan. Alea menahan air mata yang mulai berdesakan ingin keluar dari matanya. Dia tak bisa mengatakan sepatah kata pun kepada gadis kecil itu, karena ia takut mengubah gadis itu menjadi dirinya.

“Alea?” Panggil Alea kepada gadis kecil itu. Gadis kecil itu hanya tersenyum, menyambut perkataan selanjutnya.

“Kurasa inilah alasanku memilih pantai sebagai tempat pertemuan kita yang terakhir,” lanjut Alea sambil memainkan pasir dengan jari telunjuknya.

“Karena pantai ini adalah… kita. Tepatnya debur ombak di sana. Dia bisa berisik sekali, terlalu bersemangat seperti saat diriku kecil. Dia bisa setenang instrumental yang kudengarkan menjelang tidur.”

Gadis kecil itu mengangguk dan menopang dagunya dengan salah satu tangan yang sikunya diletakkan di pahanya. “Ini hatimu,” kata gadis kecil itu sambil menunjuk ke arah air yang tenang. Bergerak maju dan mundur berulang kali.

“Ya… Ini hatiku. Perasaan?” Tanya Alea memastikan.

“Kurasa ini beban.”

Alea terdiam. Ia memandang gadis kecil itu dan menuntut penjelasan.

“Waktu kecil, kita dijejali dengan buku yang lucu. Menjadi anak berbakti. Di sana ada segala macam aturan, mulai dari menyuruh kita bangun pagi-pagi sebelum kedua orang tua bangun dan tidur setelah kedua orang tua terlelap. Kau ingat?” Kata gadis itu menjelaskan.

“Ya, buku aneh yang menyuruh kita melakukan banyak hal. Kupikir kita akan menjadi anak yang baik setelah melakukannya,” sahut Alea dengan senyum sinis.

“Nyatanya kau dituntut untuk menjadi seseorang yang tidak terdefinisi di buku itu, kan?” Sambar gadis kecil itu senang. Alea mendengus.

“Ya… Kau ingat ketika orang tua kita berkata akan pergi ke hutan sebelum mereka mati? Mereka bilang takut kalau kita tidak mengurusnya,” lanjut Alea.

“Tentu. Padahal kita memedulikan mereka, tapi mereka menyimpulkan cerita akhir dengan begitu tragis.

Alea membasahi kedua bibirnya yang terasa kering. “Sepertinya ada alasan lain kenapa pantai ini sepi,” kata Alea tiba-tiba. Ia menyadari sesuatu.

“Karena aku muak untuk terus melakukan berbagai hal. Hasil berhubungan dengan manusia hanyalah probabilitas. Kau tersenyum kepadanya, menyapanya sebaik mungkin. Tapi… mereka bisa melakukan apa saja. Mengabaikanmu, menjawab dengan terpaksa, dan yang paling menyenangkan adalah ketika mereka membalasmu dengan senyum keramahan,” lanjut Alea.

Gadis kecil itu hanya diam saja dan mendengarkan. “Dan alasanku bertemu denganmu hari ini adalah untuk mengatakan satu hal,” kata Alea sambil bangkit berdiri. Ia menepuk-nepuk pantatnya untuk membersihkan pasir di celananya.

“Terima kasih. Kau sudah cukup lama di sini dan mengamati. Kita akan kembali ke pantai dengan ombak yang berlarian ke sana ke mari. Aku hampir melupakan suara itu dan kita akan benar-benar bebas.”


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Carter

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap