Bercita-citalah yang Tinggi Nak, Petani: Jadilah Pegawai

Bercita-citalah yang Tinggi Nak, Petani: Jadilah Pegawai 1

Profesi dikalangan kelas bawah yang diwariskan ke generasi selanjutnya itu jarang terjadi. Mereka yang berprofesi tak begitu mentereng -susah tayang di KTP, lebih sering tenggelam dalam upaya-upaya membentuk ulang garis nasib keluarga.

Saya tinggal di desa Cekalang, nama yang cukup lucu, di kecamatan Soko, Kabupaten Tuban. Desa lucu itu terdiri atas komposisi pekerjaan yang tak banyak variasinya. Mulai dari guru, peternak ayam, peternak kambing, peternak sapi dan petani, termasuk juga petani yang menyempatkan diri beternak ayam beserta kambing dan sapi. Memang sepertinya tidak lengkap jika petani tak menyempatkan beternak, pasalnya ternak lah yang memeliki sifat menggandakan. 

Cekalang, desa lucu ini tak pernah merasa kurang dalam kepemilikan orang-orang yang pekerja keras, tahan banting dan tahan tirakat tentunya. Namun, sayangnya mereka lebih banyak dari golongan berumur, golongan tua maksudnya. 

Desa lucu ini memiliki warga yang lucu pula. Para petani yang rupawan di desa Cekalang ternyata merasa bahwa hidup sebagai petani merupakan hal mengerikan. Keseharian mereka adalah ke sawah setelah subuh, lalu pulang dari sawah jam 9 pagi sekedar ingin merasakan sesendok sambal buatan istri. Kemudian ke sawah lagi, siangnya makanan di kirim dari rumah dengan rantang yang tertata rapi dan isi yang mampat. Mereka lebih sering memilih tak pulang pada siang hari, hingga menjelang maghrib, barulah perkakas persawahan diangkut pulang.

Nyatanya, kerja keras tanpa henti namun hasil tak pasti selalu menghampiri. Terlebih 5 tahun terakhir ini, para petani mengalami kebangkrutan sebanyak 5 kali. Penyebabnya mulai dari gagal panen, kurang hujan, penyakit wereng, dan putehen. Dibagian ini saya setuju dengan perasaan para petani. 

Kebangkrutan 5 kali berturut-turut ini, menjadi kambing hitam atas argumen para petani bahwa menjadi “wong tani iku soro.” Maksudnya menjadi petani itu sengsara. Alhasil mereka tak mengamini anaknya mengalami kesengsaraan yang serupa. Nah dari sinilah ide yang masiv para petani di desa Cekalang muncul ke permukaan, yaitu anak mereka harus memperoleh pekerjaan yang lebih baik.

Dampak dari ide ini cukup beragam. Para petani mendorong anak-anak mereka untuk bersekolah lebih tinggi dari mereka. Kalau bisa sampai kuliah di kampus yang para petani sendiri pun tak tahu seperti apa wajah kampus itu. Mereka mempertaruhkan benda paling berharga dari status sosial seorang petani, yaitu sawah. Tak jarang para petani ini bersedia menjual sawah mereka agar supaya anak-anaknya di kota bisa bersekolah dengan baik, tanpa hambatan biaya. Harapan para petani ini pada anak mereka hanya satu, yaitu jangan sampai anak petani ini juga hidup menua sebagai petani pula.  Akhirnya, menjual sawah pun tak perlu dipikirnya berulang kali. 

Ada pula penjualan sawah bukan untuk keperluan pendidikan anak di Perguruan Tinggi. Melainkan untuk keperluan memasukan anak mereka ke dalam jajaran militer. Memiliki anak yang tergabung dalam Jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi idaman yang tak terelakan di masyarakat desa. Menurut mereka, bekerja dengan memakai seragam itu mampu meningkatkan martabat keluarga. Akhrinya, pada hari dimana para petani harus membayar untuk kelulusan anak mengikuti tes seleksi TNI, mereka harus merelakan beberapa petak sawah untuk ditukarnya menjadi uang. Petani di Desa Cekalang ini mendadak tak memiliki aset apa-apa kecuali rumah. Selayaknya KTP mereka harusnya segera ganti dari petani menjadi buruh tani.

Fakta bahwa para petani di Desa Cekalang tidak mengamini lagi bahwa pekerjaan sebagai petani adalah sebuah hal yang luar biasa, bisa membahayakan. Bahaya pertama yang paling kelihatan adalah menurunnya kepemilikan masyarakat kelas bawah atas tanah produktif. Kedua, semakin besar peluang terjadinya penyempitan lahan pertanian. Ketiga, Penurunan minat kaum muda pada sektor pertanian. Beberapa hal diatas, menciptakan kekawatiran dimasa depan mengenai kelayakan Indonesia disebut negara agraris sedangkan fakta dilapangan negara kita sering melakukan impor produk pertanian. Kekawatiran ini semakin menjadi jika banyak kaum petani menciptakan narasi kepada anak mereka dengan mengatakan “Bercita-citalah yang tinggi nak, jadilah pegawai.”

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.