Berhentilah Berpanjang – Panjang dengan Alasan!


Berhentilah Berpanjang - Panjang dengan Alasan! 1

Saya tertawa ngikik ketika melihat teman yang kalah debat, membanting buku di depan saya sambil mengucapkan kalimat judul di atas. Sebuah peribahasa dalam bahasa Jawa yang artinya “ Seluas-luasnya alas (hutan, Bahasa Indonesia) adalah alasan”. Artinya, hampir tidak ada batas bila kita mau mencari-alasan alasan untuk suatu perbuatan atau peristiwa. Tawa saya menjadi ngakak ketika mendengar dia mengemukakan berbagai alasan, mengapa dia bisa kalah debat kali ini. Pernyataan-pernyataan yang makin lama makin terdengar hanya sebagai pembenaran. Bukankah dia sedang membuktikan perkataannya?

“Kamu mau ngambakke alas (meluaskan hutan)?”, sentilku kemudian. Pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Dia terdiam, lalu obrolan kami beralih ke topik lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering bertemu orang atau dihadapkan pada peristiwa yang memaksa kita mengemukakan alasan. Bahkan, hampir setiap hari. Berbagai hal bisa memicu munculnya alasan dan alasan-alasan itu bisa memicu perdebatan bila bertemu yang pemilik alasan yang berbeda. Dari masalah yang sangat sepele sampai masalah berat berbangsa dan bernegara. Dari terlambat datang rapat, sampai memilih partai saat pemilu. Dari memilih kaos kaki sampai memilih jodoh. Sering kita dituntut harus punya alasan untuk itu. Sampai cara makan bubur ayam, saya harus menjawab ketika ditanya kenapa saya memilih tidak diaduk. Alasannya? Saya buat suka-suka saja. Saya suka menikmati bagian demi bagian penyusun bubur ayam itu sambil membayangkan bagaimana membuatnya. Cakwe, emping melinjo, tumis ayam dengan irisan sayur asin, kadang kerupuk, kuah sampai buburnya. Tapi buat yang suka makan bubur ayam diaduk, tentu tidak terima dengan alasan saya. Ini pernah menjadi topik diskusi (baca : perdebatan) dengan teman saya. Hadeehh!

Saya jadi ingat peristiwa beberapa waktu yang lalu. Beberapa Kepala Bagian mengatakan bahwa mereka kekurangan tenaga dan meminta tambahan. Sementara bagian saya kelebihan tenaga. Sebagai orang yang bertanggungjawab terhadap pengelolaan sumber daya manusia di organisasi, saya membuat usulan tertulis kepada pimpinan untuk melakukan rotasi pegawai. Konsep usulan, saya buat seobyektif mungkin. Selain kebutuhan, argumen yang saya kemukakan adalah menyesuaikan antara jenis pekerjaan dengan pendidikan dan ketrampilan yang dimiliki setiap karyawan. Istilah kerennya the right man on the right job. Intinya, saya sudah berusaha menyusun analisis kesesuaian penempatan pegawai dalam konsep rotasi tersebut, termasuk pertimbangan peningkatan karir tiap pegawai.

Sebelum diputuskan, saya minta kepada pimpinan agar konsep usulan saya dirapatkan dengan para Kepala Bagian. Rapatpun digelar. Apa yang terjadi? Semua menolak usulan yang saya buat dengan berbagai alasan yang menurut saya sangat absurd. Antara lain adalah, bahwa saat ini mereka bisa memaksimalkan tenaga yang ada dan tidak memerlukan tambahan. What? Bukankah ini kontradiksi dengan permintaan mereka? Ada lagi yang mengatakan, walaupun kurang tenaga, mereka sudah nyaman, tidak perlu ditambah. Kalau nyaman, kenapa mengeluh? Benar-benar tidak masuk akal. Saya menganggap mereka tidak konsisten dan tidak masuk akal.

Akhirnya, rapat berakhir tanpa keputusan. Saya tahu, alasan sebenarnya mereka menolak adalah karena mereka tidak mendapatkan orang yang mereka inginkan. Tidak peduli orang yang mereka inginkan itu tidak sesuai dengan pendidikan, keterampilan atau bakatnya. Tidak peduli dengan upaya peningkatan karirnya. Mereka menolak pegawai yang mereka anggap bermasalah dengan alasan yang dicari-cari. Padahal menurut saya, permasalahan setiap pegawai di organisasi masih dalam batas wajar. Ada catatan dan penilaian yang jelas tentang itu. Segala fakta yang saya sampaikan, ditolak. Pokoknya tidak mau kalau orang itu. Ada saja alasan yang disampaikan. Mbulet.

Ada lagi keluhan seorang kolega saya tentang seorang karyawannya yang hampir selalu menolak bila diberikan tugas baru. Alasan yang disampaikan bermacam-macam. Saya juga sering mengalaminya. Biasanya saya minta untuk mengerjakan dulu sepanjang petunjuk dan dasarnya jelas. Sarana tersedia. Tidak perlu beralasan. Karena pada akhirnya, alasan-alasan itu kebanyakan hanya ketakutan tak berdasar atau karena tidak mau berubah. Tidak mau mencoba hal baru. Tidak mau kehilangan kenyamanan. Dia berpikir bahwa sesuatu yang ekstrim akan terjadi bila hal-hal baru dilakukan. Kondisi yang mungkin bahkan bisa mengancam eksistensinya. Kalau sudah mentok, ya sudah, kita tinggalkan saja model orang yang suka beralasan begini. Seringkalinya sangat menyebalkan. Belum lagi alasan dari karyawan yang sering mangkir kerja. Kalau ditulis, mungkin bisa menjadi sebuah buku.

Alasan tidak akan habis dicari karena otak kita memiliki kemampuan berpikir yang nyaris tak terbatas. Saya ingat saat masih kuliah dulu, saya belajar bahwa setiap bagian otak kita berjalan efektif dalam kapasitas kerja maksimalnya. Tiap bagian memiliki fungsi yang saling terhubung menjadi kombinasi pemikiran yang luar biasa. Pada usia dewasa, otak memiliki kemampuan yang lebih baik  untuk melakukan pekerjaan yang lebih kompleks, terutama dalam mengolah informasi. Hubungan antar sel syaraf sudah sempurna. Semakin dewasa, perpaduan antara pengetahuan dan pengalaman membuat otak mamiliki kecerdasan yang telah mengendap. Kecerdasan yang siap dipanggil kembali bila diperlukan. Didukung dengan perbendaharaan kosa kata yang dibangun sepanjang hidup, menjadikan manusia dewasa akan lebih baik dalam berpikir kritis serta menyampaikan sesuatu secara lisan. Termasuk merangkai alasan-alasan dengan bahasa yang menakjubkan. Pandai bersilat lidah.

Lalu, apakah menyampaikan alasan itu salah? Absolutely, not! Kadang kita memerlukan alasan untuk bisa memperkaya alternatif pemecahan sebuah masalah. Membuat alasan juga memicu otak untuk berpikir. Untuk membuat alasan yang masuk akal, kita dipaksa untuk banyak membaca, melihat dan merasakan berbagai peristiwa, kemudian membuat analisa. Memikirkan sebuah alasan bisa mengasah otak kita lebih tajam. Juga lidah kita? Hehehe. Bahkan, alasan juga merupakan salah satu mekanisme pertahanan diri. Jadi, tidak ada yang salah dengan alasan. Semua baik-baik saja sepanjang sesuai porsinya dan tidak berlebihan.

Yang salah adalah bila kita memaksakan alasan kita untuk selalu diterima. Alasan yang dibuat untuk melarikan diri dari tugas dan tanggungjawab. Apalagi alasan yang dibuat berdasarkan kebohongan. Alasan-alasan yang bisa memicu perdebatan tidak produktif. Alih-alih memecahkan masalah, alasan-alasan tersebut bisa membuat sebuah hubungan menjadi buruk. Waktu yang dikeluarkan juga kadang tidak sepadan dengan hasil yang diperoleh. Apalagi bila perdebatan itu sudah menjurus pada logika-logika sesat pikir (logical fallacy). Sangat tidak menyenangkan untuk diperpanjang. Alasan tidak lagi dibuat untuk tujuan menyampaikan kebenaran tapi hanya mencari pembenaran.

Lalu kesimpulannya bagaimana? Ya, silakan buat alasan bila memang perlu. Dasarkan pada data dan fakta. Utamakan pada niat dan tujuan dari alasan yang kita buat. Niatnya adalah untuk kebaikan dan tujuannya untuk perbaikan. Karena kemampuan otak kita dalam memikirkan sebuah alasan itu tidak terbatas. Yang membatasi adalah hati. Karena percayalah, tidak semua hal membutuhkan alasan. Contohnya, saya mencintai kamu, karena saya hanya mencintaimu. Saya tidak membutuhkan alasan untuk itu.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

JUNITA

   

ASN, ibu rumah tangga, tukang kebun, tukang masak, tukang makan dan tukang piknik

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap