Bermuamalah Sesuai dengan Syariat Islam

Bermuamalah Sesuai dengan Syariat Islam

Islam adalah agama yang benar. Dalam agama Islam selain beribadah, kita juga dianjurkan untuk bermuamalah. Karena pada dasarnya kehidupan manusia tidak dapat terlepas dari kegiatan muamalah atau yang dikenal masyarakat umun dengan istilah berdagang. Dalam sejarah sendiri disebutkan bahwa Nabi saw telah berdagang sejak usia belia, yaitu pada usia 12 tahun, Nabi saw diajak oleh pamannya, yaitu Abu Thalib, pergi ke Syam dalam suatu kafilah dagang. Nabi saw telah menjadi contoh nyata bahwa Allah swt sangat menganjurkan umat muslim untuk bermuamalah. Dalam syariat Islam, muamalah berarti hubungan antar manusia (hablum minannas) baik yang bersifat individu maupun kolektif yang bertujuan tidak hanya untuk mencari keuntungan semata, namun juga untuk mendapatkan  ridho, berkah, dan pahala dari Allah swt. Jenis-jenis muamalah yang banyak dilakukan dalam kehidupan sehari-hari ialah jual beli (al-bai’), utang piutang (al-qardh), sewa menyewa (al-ijarah), kerjasama (mudharabah), pinjam meminjam (al-i’arah), sayembara (jualah), perwakilan/agensi (al-wakalah), titipan (al-wadi’ah), pemberian (al-hibah dan wasiat), jaminan (al-rahn), dan perdamaian (al-shulh).  

Konsep muamalah dalam islam sendiri berbeda dengan konsep ekonomi konvensional, dimana muamalah dalam Islam harus sesuai dengan apa yang sudah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Hadis. Jadi hal-hal yang dilarang dalam Al-Qur’an dan Hadis mengenai muamalah adalah hukumnya mutlak. Bagi yang melanggar akan mendapat dosa dan muamalahnya tidak akan diridhoi oleh Allah swt. Hal-hal yang dilarang tersebut ialah riba (tambahan), gharar (ketidakpastian), maysir (judi), tadlis (penipuan), ikhtikar (penimbunan), najasy (rekayasa), risywah (suap), dharar, dan maksiat.

Disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 275 mengenai larangan riba:

اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْٓا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰواۘ وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ فَمَنْ جَاۤءَهٗ مَوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ فَانْتَهٰى فَلَهٗ مَا سَلَفَۗ وَاَمْرُهٗٓ اِلَى اللّٰهِ ۗ وَمَنْ عَادَ فَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”

Nabi saw juga telah menegaskan mengenai larangan riba, yaitu:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ

“Dari Abu Hurairah Radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah itu? Beliau bersabda: “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan haq, memakan riba, makan harta anak yatim, kabur dari medan peperangan dan menuduh seorang wanita mu’min yang suci berbuat zina”. (Muttafaq ‘alaih)

Di Indonesia sendiri, pengimplementasian muamalah yang sesuai dengan syariat agama Islam dapat dilihat pada Lembaga Keuangan Syariah Indonesia. Produk-produk di LKS sendiri sudah banyak dan beragam, jadi umat muslim mempunyai pilihan jika ingin bermuamalah namun tetap sesuai dengan ajaran Islam. Di Indonesia, dikenal juga Dewan Syariah Nasional-Mejelis Ulama Indonesia yang merupakan lembaga yang mengawasi dan membuat Fatwa mengenai hukum-hukum bermuamalah. Apapun jenis transaksi modern yang sedang populer saat ini, DSN-MUI akan mengkajinya terlebih dahulu, sebelum mengeluarkan Fatwa — yang akan dijadikan pedoman oleh masyarakat —  apakah transaksi tersebut halal atau haram.

Namun, di masyarakat sendiri banyak sekali stigma negatif mengenai muamalah dalam Islam. Mereka berpikir bahwa muamalah dalam Islam terlalu banyak aturan, sehingga kebebasan masyarakat untuk bermuamalah sangatlah sedikit. Alasan lain yaitu kekurangtahuan masyarakat mengenai muamalah yang benar dalam ajaran Islam. Yang menyebabkan Lembaga Keuangan Islam penggunanya tidak sebanyak dengan Lembaga Keuangan konvensional.

Oleh sebab itu sebagai masyarakat yang telah belajar dan mengetahui dengan benar mengenai muamalah yang halal, sudah sepatutnya kita memberikan sosialisasi kepada masyarakat yang belum tau, atau bisa juga dengan menyebarkan tulisan-tulisan yang informatif dan menarik, supaya masyarakat bisa mengetahui dengan jelas seperti apa sebenarnya muamalah dalam Islam itu. Agar kedepannya produk-produk ekonomi yang sesuai dengan ajaran Islam bisa disukai masyarakat, sehingga banyak yang tertarik dan beralih ke ekonomi Islam. Karena sejatinya ekonomi Islam tidaklah ketinggalan zaman, ekonomi Islam saat ini sudah sangat mengikuti perkembangan zaman yang ada.

Jadi, bagi umat muslim tidak ada alasan lagi untuk tidak bermuamalah yang sesuai dengan syariat Islam. Karena sejatinya dengan kita bermuamalah yang sesuai dengan syariat Islam, maka kadar keimanan dan ketaqwaan kita akan bertambah. Amin ya rabbal alamin.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Haya Dzakiyyah Ulya