Berpamitan Pada Sosok Hitam di Balik Jendela


Berpamitan Pada Sosok Hitam di Balik Jendela 1

Akhir tahun 2020 adalah bulan menuju hari pernikahan kami, tepatnya yaitu pada bulan Desember. Otomatis kami disibukan dengan beberapa persiapan pernikahan mulai dari mencari Wedding EO, mencari souvenir, dan juga membuat desain undangan sendiri yang kami sengaja ingin buat dengan mandiri.

Kami membuat sendiri undangannya, mengingat ketidakmungkinan untuk membuat banyak undangan pernikahan karena situasi pandemi yang masih ada, dan larangan pemerintah terhadap kerumunan massa khususnya acara pernikahan. Sehingga kami merasa tanggung jika sewa jasa surat undangan yang jumlahnya hanya sedikit, bahkan masih bisa terhitung jari.

Lalu untuk mensiasati hal tersebut kami membuat rencana pembuatan desain surat undangan sendiri menggunakan laptop. Sayangnya itu tidak berjalan lama, setelah dipakai beberapa kali untuk membuat desain, laptopnya agak buffering, sehingga menghambat pembuatan surat undangan dan membuat semakin lama penyelesaiannya.

Akhirnya kami memutuskan untuk memakai komputer si calon suami, Mas Dio yang saat itu disimpan di kantor tempat dia kerja, dengan memakainya saat jam malam. Kebetulan kantornya dekat dengan kosan kami dan disana juga ada yang tinggal setiap harinya, sehingga jika kapan saja kami datang ke sana kantor akan selalu buka.

Kami memutuskan mengerjakannya malam-malam supaya tidak terlalu terik matahari saja saat berangkatnya, dan kalau malam biasanya kantor disana lebih sepi dibanding siang yang biasanya lebih ramai dengan orang lain yang bekerja walaupun itu weekend. Kami sepakati bahwa minggu itu juga akan kesana untuk melanjutkan membuat desain undangan.

Tibalah pada hari dimana kami berangkat menuju kantor. Saat itu hari Minggu kami berangkat kurang lebih jam 4 sore, dengan tujuan supaya kami tidak terlalu malam pulangnya dan punya banyak waktu untuk mengerjakan desain tersebut. Sesampainya di kantor kami bertemu Mas Ibnu yang setiap harinya selalu ada disana untuk kerja dan sekalian jaga kantor. Kami pun bertegur sapa.

“Sore Mas”

“Sore Mba. Mau ada sesuatu yang dikerjain ya?” tanya dia.

“Iya Mas. Oh ya tadi kita udah izin juga ke Pak Bos juga buat ngerjain sesuatu disini”. Sebelumnya itu kami memang sempat meminta izin kepada bos di kantor, supaya lebih nyaman saja meskipun kami sampai larut malam disana.

“Iya gak apa-apa mba, tadi juga Bapak udah bilang ke saya kalo mau ada mas sama mba kesini” pungkasnya.

“Oh gitu, ya udah mas. Kita masuk ya”.

“Iya mba, masuk aja”.

Saat itu sore menjelang maghrib, kami mulai mengerjakan desain undangan. Sedikit demi sedikit kami kerjakan dengan memakai kesempatan waktu dan komputer yang bisa lumayan cepat pengerjaannya. Saat waktu maghrib tiba, tidak lupa untuk menunaikan shalat maghrib. Namun, hanya Mas Dio saja yang shalat pada waktu itu, karena aku sedang halangan. Kebetulan kamar mandi untuk ambil wudu juga sangat dekat, yaitu pas berada di seberang ruang tempat kami mengerjakan desain undangan. Jadi, pintu ruangan kami dengan pintu kamar mandinya saling berdekatan.

Setelah Mas Dio shalat maghrib, kami melanjutkan untuk mengerjakan desain surat undangan kembali. Saat itu kami benar-benar bertiga saja di kantor. Aku, Mas Dio dan Mas Ibnu. Sangat sepi dan begitu membuat ngeri untukku, sebagai perempuan yang bisa dibilang cenderung penakut.

Entah kenapa saat itu aku memang sangat begitu parno, mungkin karena dulu sempat melihat sosok dibalik tembok kamar mandi itu saat aku sedang bercermin didekat sana. Sehingga saat aku ditinggal sebentar saja oleh Mas Dio aku tidak berani, walau hanya ditinggalakan sebatas keruang sebelah saat Mas Dio menemui Mas Ibnu.

Tidak lama karena merasa lapar, kami memesan makanan melalui aplikasi online. Cukup lama saat itu memilih menu makanan yang akan dibeli. Dan pilihan kami tertuju pada sebuah menu ayam kesukaannya Mas Dio. Kami pun langsung memesannya.

Tidak lama kemudian makanan yang kami pesan pun sampai. Sebelum makan karena kami takut kekurangan minum, Mas Dio berinisiatif untuk mengambil air putih di dapur kantor.

“Jangan lama-lama ya, aku takut” Ucapku saat Mas Dio mau keluar ruangan untuk mengambil minuman.

“Iya, enggak”. Jawabnya, yang memang sudah mengetahui bahwa sebegitu penakutnya aku saat itu.

Sekembalinya Mas Dio dari dapur, kami langsung makan. Cukup enak memang menu makanan saat itu, sampai kami makan sangat cepat untuk menghabiskannya. Setelah makan, kami istirahat sebentar. Aku yang takut dengan suasana sepi disana, bercanda sedikit dan tertawa-tawa juga. Yah, lumayan berpengaruh, itu dilakukan supaya tidak begitu tegang saja dengan situasi kantor yang sangat sepi.

Kami melanjutkan kembali membuat desain undangan. Sampai tidak terasa jam menunjukan hampir pukul sepuluh, sudah cukup malam juga. Sehingga aku mengatakan kepada Mas Dio, bahwa kita sudah waktunya pulang.

“Mas, udah mau jam sepuluh nih. Udahan dulu aja yuk!” Ajakku.

“Yauda kita selesain ini sedikit lagi ya, habis itu kita pulang” jawabnya.

Akhirnya setelah selesai, kami membereskan barang-barang yang kami pakai selama mengerjakan desain undangan di ruangan itu. Mulai dari komputer, alat shalat dan juga bekas kami makan malam tadi. Mas Ibnu yang sempat melihat kami beres-beres juga sempat bertanya,

“mau pulang Mba?”

“Iya mas, udah selesai nih. Udah malem juga pas liat jam. Mungkin dilanjut lagi nanti”

“Oh yauda kalo gitu mba”

Kami pun berpamitan dengan Mas Ibnu, yang saat itu dia juga sudah mulai memberikan tanda-tanda untuk beristirahat tidur dengan hanya menyalakan lampu tengah kantor dan lampu luar. Karena biasanya lampu ruang tamu juga yang kami lewati menuju pintu keluar masih menyala, kalau dia masih aktif di dalam kantor, tetapi oleh Mas Ibnu saat itu sudah mematikannya sehingga susana di ruang tamu yang kami lewati cukup redup, hanya ada sedikit cahaya yang didapat dari ruang tengah kantor.

Aku dan Mas Dio keluar kantor, juga mengeluarkan motor dari teras kantor tempat motor karyawan parkirkan disana. Aku juga membagi tugas dengan membuka pagar depan kantor supaya Mas Dio bisa mengeluarkan motor dan aku bisa kembali menutup serta mengunci pagarnya dengan aman.

Saat aku mengunci pagarnya, aku lihat Mas Ibnu seperti memperhatikan kami dari jendela dalam kantor, tepatnya jendela ruang tamu tadi. Aku yang melihatnya menganggukan kepala, seraya pamit dan berterimakasih dengan suara lirihku.

Kulihat Mas Dio sudah memakai helm, tinggal aku sendiri yang belum memakainya. Akhirnya aku naik dulu ke motor, dan mulai memakai helm.

“Bentar ya, aku pake helm nya dulu” ucapku saat itu, sebelum Mas Dio menyalakan motornya untuk mengantarku pulang ke kost.

Sambil aku mulai memakai helm aku lirik ke arah jendela lagi. Dalam hati, “kok Mas Ibnu masih disitu aja ya. Tadi padahal aku udah pamitan” Lalu setelah helm terpakai dengan rapih, aku melambaikan tangan pada Mas Ibnu yang semakin aku lihat-lihat seperti bayangan siluetnya saja. Rambutnya yang sedikit ikal terlihat hanya sedikit jelas, karena lampu disana yang tidak menyala. Sosok itu diam dan hanya memperhatikan, tanpa membalas lambaian tanganku.

Mas Dio tiba-tiba bertanya,

“Udah pamitannya?”

“Iya udah. Yuk jalan” Cepat-cepat aku berkata demikian karena sudah mulai merasa curiga dan takut.

Sepanjang jalan aku berpikir dan bercerita kepada Mas Dio dan bertanya.

“Kamu tadi liat gak? Kok Mas Ibnu aku pamit dia diem aja ya?”

“Diem gimana?”

“Ya diem gitu. Biasanya dia kalo aku lambaikan tangan, bakal bales juga. Mmm… Itu Mas Ibnu bukan ya?”

“Iya itu dia kali” Ucapnya singkat, sambil sedikit menenangkan agar aku tidak ketakutan.

Sampailah di depan kos aku. Aku yang masih merasa heran bertanya-tanya dan ingin memastikan, apakah itu benar-benar mas Ibnu atau bukan.

“Tanyain ke dia deh nanti, itu dia atau bukan si?” Ucapku sambil menahan rasa penasaran.

Mas Dio menjawab “Iya nanti aku tanyain. Yauda kamu masuk dulu” katanya.

Setelah itu aku masuk ke kamar dengan masih menyimpan rasa penasaran sampai tidur malam itu.

***

Keesokan harinya, aku menanyakan kembali kepada Mas Dio. Memastikan sosok hitam yang aku lambaikan tangan dijendela itu. Mas Dio berkata bahwa yang dibalik jendela itu memang benar bukan Mas Ibnu, karena saat aku pulang Mas Ibnu tidak beranjak dari ruang tengahnya untuk ke ruang tamu melihatku pulang.

Mas Dio juga bilang, bahwa setelah Mas Ibnu ditanya tentang itu, malam itu dia tidak bisa tidur pulas selama istirahat di kantor. Sama-sama ketakutan dan merinding sendiri di kantor pungkasnya. Seketika aku takut dan sangat kaget.

Jadi, siapa dibalik jendela yang memperhatikan kami saat pulang?


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Fina Fauziah

   

Penulis Artikel | Moderator Online | Content Creator | Voice Over

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap