Bersusun-susun Rasa Surga Dalam Buku Lapis-Lapis Keberkahan

Bersusun-susun Rasa Surga Dalam Buku Lapis-Lapis Keberkahan 1

Banyaknya kegiatan sehari-hari sedikit banyak selalu memeras energi sehingga emosi ikut melebur dan banyak sekali peluang tidak terkendali. Oleh karenanya kita butuh panduan untuk hal itu. Agar saat menemui hal-hal yang tidak kita sukai tetap bisa khusnudzon dan berpikir positif. Agar saat diberi amanah memimpin tetap bisa bertanggungjawab dan saling menghormati. Agar saat memilih sesuatu untuk jangka panjang bisa menghadirkan kebaikan untuk sekitar. Oleh karena itu, saya akan mereview satu buku yang berjudul Lapis-Lapis Keberkahan. Buku setebal 517 terbitan Pro-U Media yang ditulis oleh Salim A. Fillah ini sangat dalam untuk belajar memaknai hidup dengan menghadirkan surga dalam kegiatan sehari-hari.

1. Buku ini mengupas kehidupan orang-orang saleh yang senantiasa menghadirkan Allah disetiap kegiatan yang dikerjakan. Mulai dari kisah nabi Adam hingga kisah nabi Muhammad SAW dihadirkan untuk dijadikan contoh bagaimana seorang muslim menjalani hari-harinya.

2. Cerita yang lengkap dan kalimat yang begitu menyentuh sangat berpeluang membuat pembaca sadar akan banyaknya kekurangan diri dan ingin segera memperbaiki kekurangan-kekurangan tersebut. Bagaimana tidak, jika ada yang salah yang lain mau membenarkan dengan lembut bahkan ada yang mau menggantikan saudara yang lain untuk dihukum, jika ada yang susah yang lain berbondong-bondong untuk membantu, bukankah hal ini yang sangat didambakan pada masa sekarang?

3. Tidak hanya membahasa tentang aspek kehidupan sehari-hari yang santai. Tetapi isi buku ini juga membahas masalah tentang keluarga, masyrakat, politik, pengusaha, pertemanan, dan lain sebagainya yang menurut saya sangat dibutuhkan oleh generasi saat ini yang mulai kehilangan contoh baik dan benar. Dan aspek-aspek ini diberikan contoh langsung oleh tauladan kita yakni Rasulullah Saw dan para sahabat solehnya.

4. Dihadirkan tokoh-tokoh muslim yang akhlaknya surgawi sekali. Seperti pemimpin yang merajakan rakyatnya, ibu yang sungguh luar biasa mendidik anak dengan segala keterbatasanny, sahabat yang setia, kisah-kisah yang isinya banyak mendahulukan orang lain ketimbang dirinya, menumbuhsuburkan berbagi pada mereka yang membutuhkan meskipun diri sendiri juga sedang sama-sama butuh, serta kisah-kisah lain yang sukses membuat haru saya yang membacanya.

5. Dari buku ini saya merasa bangga bahwa islam dan orang-orang pada zaman Rasulullah dan sepeninggal Rasulullah sungguh tegak tauhidnya. Menomorsatukan Allah di atas segalanya, mendahulukan akhirat dibanding dunia, berbondong-bondong menginfakkan harta agar jadi amal jariyah. Hingga pada zaman tersebut rasanya sedang berada pada surga tetapi tempatnya di dunia alangkah indahnya bukan.

Adapun kekurangan pada buku ini adalah bahasa yang terlalu serius seperti sedang membaca tulisan sastra mungkin akan membuat pembaca sedikit mengantuk karena banyak bahasa atau kalimat kiasan yang dituliskan. Tetapi dibandingkan dengan kekurangannya, buku ini bagus sekali dijadikan salah satu referensi dalam bermasyarakat sehari-hari. Bahwa antara kita dengan agama tidak bisa terpisahkan, terutama bagi kita seorang muslim. Sebab kita tidak kekurangan contoh dari orang yang baik dan benar, hanya saja seringnya kita mau ambil yang mudah-mudah saja dari contoh-contoh yang bertebaran di dunia maya sehingga lupa untuk mengecek apakah hal tersebut dibolehkan dalam agama atau tidak.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Nurul Hidayah