Bertasawuf Di Era Industri 4.0

Bertasawuf Di Era Industri 4.0 1

Ajaran pokok tasawuf berkisar mengenai proses penyucian jiwa dan pendekatan diri kepada Allah SWT. Proses ini sangat panjang melalui banyak tahapan-tahapan yang dikenal dengan istilah maqamat (tanjakan-tanjakan). Seditnya ada tujuh maqamat yang harus di lalui oleh seorang sufi agar bisa bermesraan  dengan Allah SWT. Ketujuh maqamat yang harus di lalui yaitu, tobat, zuhud, sabar,tawakkal, rida, mahabbah (cinta) dan makrifat.

Sedangkan  mengenai asal–usul makna tasawuf,  ulama berbeda pendapat, Junaid Al-Bagdadi (w. 279H 910 M), “Bapat tasawuf moderat” ia mendefinisakan tasawuf sebagai keberadaan bersama Allah SWT. Abu Muhammad Ruwaim (w. 303 H/916 M.) “tasawuf sebagai kemerdekaan bersama Allah SWT” sebenarnya pengertian “tasawuf “ muncul sebelum habis abad ke kedua Hijriyah. Dan orang yang pertama kali diberi gelar sufi adalah Abu Hasyim (w. 150/ 761 M), karena kehidupan beliau mencontoh kesederhanaan Nabi Muhammad SAW. ( Prof. Dr. Hamka, tasawuf perkembangan dan pemurniannya, h 79).

Masih banyak lagi sederet ulama tasawuf seperti Muhyiddin Ibn Araby, Al-Ghaznawi, Abdul Qadir al-Jailani, Umar bin Farid, Jalalluddin Ar-Rumi, Abdul Karim Al-Jili, Abdul Wahhab As-Sya’rani. Mereka mengungkapkan teori berbeda, namun intinya adalah sama yakni mendekatkan diri kepada Allah dengan zikir dan amaliyah lainnya. Dan melalui tasawuf inilah seseorang akan merasakan  ketenangan jiwa dalam hidupnya, mencapai derajat mulya disisi-Nya bahkan mendapat rida ilahi. 

Yang menjadi prolema bagi penulis adalah,  Apakah masyarakat muslim indonesia  mampu menanamkan nilai-nilai Tasawuf di era industri 4.0. kalau melihat sejarah perkembangannya bahwa Istilah  Industri  4.0  sendiri  secara  resmi  lahir  di Jerman  tepatnya  saat  diadakan  Hannover  Fair  pada tahun 2011 (Hoedi Prasetyo. Jurnal era industri, H. 16).

Apa sebenarnya Industri 4.0?  Angela Markel mengatakan bahwa era industri 4.0 adalah tranfsormasi komprehensif dari keseluruhan aspek di industri melalui penggabungan teknologi digital dan internet dengan konfensional.” (Jurnal Industri 4.0 Telaah Klasifikasi Aspek dan Telaah. h. 17). Pengertian yang lebih teknis yang di ungkapkan Kagermann dan dkk bahwa Industri 4.0 adalah integrasi dari Cyber Physical System (CPS) dan Internet of Things and Services (IoT dan IoS) ke dalam proses industri meliputi manufaktur dan logistik  serta proses lainnya.”.

Sebenarnya munculnya era industri, 4.0 kalau di bandingkan dengan tasawuf  lebih awal tasawuf.  Istilah Tasawuf  pra Islam dikatakan “ahli mistik” India Kuno (hindu Budha) mereka di sebut GYMNOSOPHIST (الحكماء العراة).  Namun dari kajian keagamaan keberadaan ilmu tasawuf beriringan dengan datangnya Islam. Seperti kehidupan di Zaman Rasul Ketika rasul Khalwat ( Menyendiri) di gua Hira (Jabal Nur), abab ke-I pada masa sahabat, Abu Bakar as-Shiddiq, harta kekayaannya habis untuk di jeriyahkan demi kepentingan peperangan dalam Islam.

Abad ke-II Hasan Al-Basri, murid Hudzaifah wafat: 110 H menguasai ilmu batin (Punya ajaran: Tawakkal dengan cara Khauf dan Raja’). Abad ke-III inti ajaran pada abad ini adalah berintikan ilmu jiwa, ilmu akhlak dan metafisika. Abad ke-IV Bagdad tersaingi sebagai kota pusat tasawuf . Abad ke V berkembang ajaran filsafat Neo Platonisme selain filsafat Persia dan India. Dan disinilah al-Ghazali datang meredakan perselisihan antar mereka beliau di kenal dengan ahli Fuqaha, Mutakallim, Filosof Sufi dan pendidik. Sedangkan abad ke IX,X dan sesudahnya termasuk sekarang tasawuf mengalami kemerosotan. (KH. Drs. Saifurrahman Nawawi, Fil Ilmi Tasawuf Al-Islami, h.13)

Dari berbagai teori yang dikemukakan oleh para mutasawwifin tersebut, menjadi sebuah informasi penting bagi kalangan non pesantren. Meskipun bagi kalangan santri, teori semacam  itu tidak ayal lagi.  Dikarenakan  kajian seputar tasawuf bagi mereka termasuk agenda kajian pesantren, seperti ajian kitab Ihya’  ulum al-din, bidayatul hidayah, minhajul abidin bahkan kitab mukasyafatul Qulub.

Dengan demikian melihat kehidupan para santri di pesantren tidak perlu di pertanyakan lagi tentang amaliyahnya sehari- hari, karena mereka diawasi Kiyai, Pengurus Pusat dan pengurus Kamar. Cuma yang menjadi promlema diwaktu  liburan pondok. Tidak sedikit para santri yang masih  terlena dengan gagdetnya (main game, telphonan dan lainnya). Namun hal ini lebih baik di banding dengan pemuda yang tidak mondok.

Menurut penulis, kehidupan masyarakat di era industry 4.0  ini sangat mengkhawatirkan karena tasawuf bagi mereka hanya tinggal teori belaka.  Namun masih belum merasuk dalam jiwa. Terbukti banyaknya pemerasan di mana-mana, banyaknya pencemaran nama baik di berbagai media social (twitter, Facebook, instagram dan IG), bahkan ada anak yang menuntut orang tuanya di pengadilan. Semuanya merupakan akhlak tercela yang harus ditinggalkan.

Tasawuf di era ini menjadi solusi terbaik dalam membangun kepribadian yang luhur. bahkan menurut K. Saleh Hasan (Tokoh masyarakat di Desa Daramista) “pengamalan tasawuf di era ini harus menjadi prioritas  seperti, Zuhud, Taubat, tawakkal, qona’ah hingga ”. sehingga menjadikannya sebagai  manusia yang anfauhum linnas wala yadurruhum linnas.

Contoh kongkritnya dalam kehidupan di masyarakat  sekitar kita, pekerjaan bagi mereka menjadi topik utama (ingin menjadi TKW ‘Arab Saudi’, TKI ‘Malaysia, Brunai’ dan lainnya). sebenarnya melihat hakekatnya mencari pekerjaan itu adalah baik, namun ketika tidak di iringi dengan Ihlas Lillah maka nilainya zero (nol) menurut Tasawuf.

Oleh karena itu, Penulis mengajak bagi semua kalangan, bertobatlah dari segala dosa baik kecil maupun besar, berzuhudlah kepada dunia agar dicintai Allah berzuhudlah kepada apa yang dimiliki manusia agar dicintai manusia. Bersifat  qona’ahlah  agar saling mengalah dalam kehidupan masyarakat, bersabarlah agar kelak mendapat surga- Nya,bersama para Nabi dan Siddiqin. Semuanya merupakan bagian dari ajaran tasawuf yang perlu di tanamkan di era industri. 4.0.  seseorang yang telah melaksanakan hal tersebut berarti mengamalkan tasawuf di Era Industri 4.0 ini. Terima kasih.  

BUKU REFERENSI

  • Syekh Javad Nurbakhsy,  BELAJAR BERTASAWUF, Jakarta: Mizan, 2016.
  • Al-Ghazali, Mukasyafatul Qulub al-Muqrab Ilaa hadratil Allam al-Ghuyub, Singapur : Al-Haramain.tt.  
  • KH. Drs. Saifurrahman Nawawi, Fil Ilmi Tasawuf Al-Islami
  • Hamka, Tasawuf Modern, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1987  
  • Hamka, Tasawuf dan Perkembangan dan Pemurniannya, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1993.  



Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Hamdi