Biarkan Aku Menjadi Hujanmu


Biarkan Aku Menjadi Hujanmu 1

Ada yang berbeda dari sore itu, itu bukan sore biasa dimana aku berjalan terseok-seok ke arah halte bis menunggu sebuah bis lewat untuk menjemputku. Bukan pula sore dimana aku terlihat seperti zombie lemas karena tidak punya gairah hidup. Sore itu adalah pertama kalinya aku bertemu dengan si bidadari hujan.

seperti pada sore-sore sebelumnya, sehabis latihan basket aku menuju halte bis untuk menanti bis yang akan membawaku pulang kerumah, karena motorku disita ayahku selama 3 bulan akibat bolak balik keluar BK. Belum sampai langkah ku ke halte bis yang ku tuju, rintik hujan turun dengan cepat membasahi sekitar ku. Aku segera berlari menuju halte bis dengan cepat sebelum tubuhku ikut basah kuyup.

Saat berteduh, aku mengaduh pelan karena hujan ini belum juga reda-mungkin ini penyebab bis yang ku tunggu sejak 15 menit yang lalu terlambat. Aku baru sadar jika aku tidak sendirian di halte bus, aku melihat seorang gadis yang sedang menari dengan riang di bawah rintikan hujan yang membasahi tubuhnya. senyumnya sangat manis dengan lesung pipit yang menghiasi wajah cantiknya, berpostur tubuh tidak terlalu tinggi seperti gadis pada umumnya, dan wajahnya sangat teduh untuk dipandang. Aku tak sadar bahwa perhatianku telah di ambil sepenuhnya olehnya.

Gadis itu menghentikan aktivitasnya begitu sadar kalau aku memperhatikannya. Dengan wajah terlihat sedikit memerah dia berjalan malu-malu mendekati halte bis, ikut meneduh bersamaku.

“Udah lama mas disini?” Tanyanya kepadaku dengan ekspresi berusaha menahan malu

“iya mbak, haha.” aku berujar singkat diikuti dengan kekehan tak karuan.

“Aku terlihat aneh ya…”

“iya sih…” Aku menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, apakah jawabanku  menyinggungnya atau tidak karena wajahnya kini terlihat sangat merah meskipun masih ada bulir-bulir air yang menetes dari rambut ke wajahnya.

“Oh ya, saya baru pertama kali melihat kamu disini. Kamu orang baru ya?” Tanyaku sekenanya untuk menghindari suasana awkward yang terjadi.

“Iya, aku baru pindah rumah dekat sini. Eh langsung disambut hujan” Ucapnya dengan senyuman yang kembali menghiasi wajahnya, dan aku kembali terhipnotis oleh senyumnya.

“Ehem, aku memang sangat berlebihan jika tentang hujan. Makanya jadi terlihat aneh” suaranya seperti membangunkanku dari lamunan.

“Eh eng-enggak kok. Kamu Enggak aneh, cuma unik saja”

Dia terkekeh kecil mendengar jawabanku yang spontan tanpa berpikir, mungkin menurutnya itu lucu. Aku tersenyum kecil. Aku merasa berbeda di sore hari di bawah hujan yang indah.

“Kenalan dong, masa dari tadi ngobrol tapi tak saling kenal. Namaku Renaya, panggil saja Naya.” Dia menodongkan tangannya kepadaku dengan cepat aku membalas menjabat tangannya yang dingin.

“Namaku Rian.” Tepat setelah aku mengucapkan namaku bis yang kami tunggu sedari tadi akhirnya tiba.

***

Aku kini duduk di meja kesayanganku yang terletak di pojok belakang kelas dekat jendela dengan mata terpejam. aku tidak bisa tidur semalaman memikirkan Naya si bidadari hujan-julukan ku kepadanya semenjak sore itu. sayup-sayup kudengar suara guru masuk tapi masa bodoh lah, kantuk ku ini tak dapat ku tahan lagi. 

“Hai, Namaku Renaya Aura Deema….” Tunggu, Renaya? entah kenapa namnya terasa tak asing di telingaku. Jangan bilang kalau itu Renaya si bidadari hujan itu!

“Kalian bisa panggil aku Naya…” Sontak aku menegakkan kepalaku melihat siapa yang kini sedang berbicara di depan. dan tebakanku benar. Ia adalah Naya yang membuat tidurku tidak nyenyak selama 3 hari.

“…..Aku harap kehadiranku bisa diterima disini.” Murid di kelas pun menjadi Riuh saat Naya menyelesaikan kalimatnya, apalagi siswa laki-laki yang suaranya lebih dominan mengisi kelas lagi. Dan itu sudah pasti karena pesona Naya yang begitu memikat meski sekali melihatnya-termasuk aku. 

Pak guru pun mempersilahkan Naya untuk memiliih tempat duduknya. Kemudian Naya berjalan menuju kursi kosong satu-satunya di kelas ini. Yap, di sebelahku atau lebih tepatnya sebangku denganku. Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. tiba-tiba gadis yang ku temui kemarin lusa kini menjadi teman sekelasku, bahkan menjadi teman sebangkuku.

“Eh, kamu Rian kan?” Dia mengenaliku saat sudah duduk kursinya. 

“I-iya.” Aku masih belum siap untuk berbicara dengannya, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Mungkin aku sudah tidak normal lagi.

“Masih ingat aku enggak? yang waktu itu lagi hujan di halte bis”

“Masih lah..” Mana bisa aku melupakan gadis unik yang menari di bawah hujan, bidadari hujanku.

“Aku gak nyangka kita bakal sekelas.” ucapnya sambil tersenyum yang semakin membuatku tidak fokus pada ucapannya.

Kami pun menjadi sangat dekat. Aku berbagi banyak hal dengannya. Dia gadis yang moody, bisa menjadi sangat periang dan bisa juga menjadi bete sepanjang hari, dia juga tidak terlalu suka di atur, dan sangat mencintai hujan. semakin aku mengenalnya aku semakin menyukai sifatnya itu, dan kurasa dia merubah sesuatu dalam diriku.

Aku yang menjalani hari dengan begitu semu, aku yang tak bisa memaknai rasa, aku yang tidak pernah peduli, aku yang jemu dengan kehidupanku yang abu-abu. Semua itu seakan sirna, berganti dengan dunia yang penuh warna dengan canda tawanya. Dia mengubahku menjadi seseorang yang begitu puitis yang sedang mabuk cinta. 

Dia pernah bercerita tentang mengapa dia begitu menyukai hujan saat menemaniku latihan basket di sekolah.

“Aku selalu suka kalau hujan turun, lalu pelan-pelan membasahi sekelilingku” Ucapnya menengadahkan tangannya sambil melihat gerimis yang turun di sore itu.

“kenapa?”

“Kalau hujan, aku merasa sangat tenang dan bahagia. aku merasakan cinta dari air yang turun. Aku menemukan duniaku dikala hujan turun, aku merasa semua sakit dan bebanku hilang. Hujan itu penuh kasih sayang, setiap tetes hujan selalu mengandung makna yang dalam.”

“Aku baru tahu kalau hujan ternya semenarik itu”

“Haha iya. Hujan memang selalu menarik”

“Kamu sangat mencintai hujan?” 

“Hm…iya, begitulah”

sebenarnya aku ingin mengucapkan perasaanku padanya saat itu, tapi aku terlanjur cemburu pada hujan yang merebut semua perhatiannya.

***

Hari ini aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku yang sebenarnya, aku tak dapat menunggu lagi. Aku khawatir kalau Rehan-ketua OSIS akan menembak Naya dan Naya akan menerimanya karena akhir-akhir ini aku menyadari kalau Rehan mendekati Naya.

“Nay, sibuk gak? ketemuan yuk.” aku mengirim pesan itu dengan debar jantung tak karuan

“Enggak kok, mau ketemu dimana?” baru sepuluh detik terkirim dia langsung membalasnya dengan cepat

“Itu deket cafe yang pernah aku ajak kamu kesana.”

“Oh yang itu….kapan?”

“Nanti sore”

“okey, jemput aku ya hehe”

“sip beres”

Aku sengaja memilih sore karena menurut ramalan cuaca sore itu akan hujan gerimis. Aku membayangkan pasti akan sangat romantis jika mengungkapkan perasaan dibawah hujan gerimis yang indah.

Aku bersiap-siap dari pagi untuk menyiapkan pakaian apa yang akan ku kenakan dan terlebih penting adalah menentukan kata apa yang harus ku ucapkan nantinya.

“Naya, aku sudah menyukaimu sejak aku melihatmu menari dibawah hujan” Tidak, ini kata yang pasaran

“Naya, aku menyukaimu” Ini terlalu biasa.

“Renaya terimalah cintaku” Ah ini terlalu lebay.

“Naya aku ingin kau menjadi pacarku” terlalu klasik

“Naya ada yang ingin aku ungkapkan, aku..” ini masih belum bagus

Aku mengusap kasar wajah tampanku ini di depan cermin, memperlihatkan wajahku yang sangat frustasi akibat belum menemukan kalimat yang tepat walaupun sudah berlatih sejak lima jam yang lalu.

Namun kini mau tidak mau aku sudah harus menjemput Naya, karena waktu janjian kami hampir dekat. Aku segera meminta izin keluar rumah kepada bunda lalu meng-gas motorku menuju rumah Naya. 

Setelah sampai di cafe tujuan. kami segera masuk dan memesan makanan, lalu aku mengajaknya untuk duduk dekat jendela agar dia bisa melihat gerimis yang turun perlahan.

“Nay, kamu suka hujan banget kan.” aku mulai menyusun kalimat

“Iya, bukannya aku sudah bilang beberapa kali ke kamu.”

“Aku boleh minta sesuatu gak ke kamu?”

“Minta apa? aku akan kasih kalau aku bisa”

“Yang aku minta bukan hal yang susah kok, aku hanya ingin kamu membiarkan aku menjadi hujanmu”

Matanya mengerjap-ngerjap, mungkin sedang mencari arti dari kalimatku barusan. wajahnya tampak bingung. “Maksud kamu apa.”

“Aku ingin jadi hujan yang selalu membuatmu merasa tenang dan tersenyum bahagia, aku ingin menjadi hujan yang selalu kamu tunggu kedatangannya, aku ingin menjadi hujan yang memberimu cinta dan kasih sayang, aku ingin menjadi hujan yang kamu cintai”

Mungkin kata-kataku terlalu puitis dan rumit tapi masa bodohlah, aku ingin menggambarkan isi hatiku yang sejujurnya padanya.

“Aku suka kamu”

Matanya terbuka lebar, dia terkejut mendengar kalimat terakhirku. mungkin ini sangat tiba-tiba baginya atau dia tidak menanyangka kalau aku memilikinperasaan lebih kepadanya. Kini semua bergantung pada jawabannya, aku hanya bisa pasrah jika dia akan menolakku mentah-mentah.

“Aku gak nyangka kalau kamu akan bilang hal seperti ini” Dia menghela napas pelan. Dia pun melanjutkan kalimatnya sambil menatap gerimis diluar sana

“Kemarin Rehan, menembakku “Aku mengangkat pandanganku ke arahnya, apa artinya aku kalah cepat dari Rehan? Apakah Naya telah menjadi milik orang lain. Aku tentu saja tahu kalau tidak akan ada yang bisa menolak Rehan karena dia di cap baik di sekolah, apalagi dia seorang ketua osis jika dibandingkan denganku yang di cap jelek karena sering melanggar aturan sudah jelas aku kalah.

“Tapi tentu saja aku menolaknya, kamu tahu sendiri kan kalau aku paling enggak suka di atur.” Naya….apa yang sebenarnya ingin kamu ucapkan? Jangan bikin jantungku ingin pecah karena berdebar mendengar setiap kata yang kamu katakan.

“Tapi ada alasan yang paling penting mengapa aku menolaknya….” Dia menatapku dengan intens. 

“…….Yaitu aku menunggumu menyatakan perasaanmu, karena aku memiliki perasaan yang sama denganmu”


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Postv_gin

   

sedang belajar menulis

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap