Bingkai Hati Untuk Mu


Bingkai Hati Untuk Mu 1

Angin sore bertiup sepoi-sepoi menggoyangkan dedaunan kelapa yang tumbuh dipinggir pantai, pengunjung masih berlalu-lalang menikmati suasana pantai yang begitu menenangkan jiwa. Dari keramaian, terlihat seorang gadis sederhana berjalan lesu dengan tatapan kosong sembari memegang sebuah berkas di tangan kanannya, ia sama sekali tidak peduli dengan orang-orang sekitar yang sekali-kali menabrak bahunya.

“Lagi-lagi aku tidak mendapatkan pekerjaan itu,” gumam gadis itu.

Kali ini langkahnya tertuju kesebuah jembatan yang menghubungkan jalanan pantai dengan sebuah gang tempat ia tinggal bersama neneknya yang sedang dirawat dirumah sakit sejak 2 minggu yang lalu.

“Lalu, bagaimana dengan biaya perawatan nenek jika aku sendiri masih menganggur, oh Tuhan,” keluhnya sembari duduk diatas lantai teras rumahnya.

“Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan nenek, karena nenek adalah satu-satunya keluarga yang kupunya didunia ini!” tegas gadis yang behijab ini mencoba menyemangati diri.

Seberapapun sulitnya kehidupan dikota, tetap harus dijalani, meskipun berat namun apa boleh buat, mau mengeluh, kepada siapa selain hanya kepada Allah, demkianlah yang dipikirkan Sara, tak ada satupun impian yang diinginkannya saat ini kecuali kebahagiaan untuk neneknya, memang membosankan, karena meskipun tinggal dikota tetap saja ia seperti di dalam hutan rimba, semuanya tampak hijau tak ada yang berwarna lain, begitulah dengan hatinya, rasa cinta yang ia rasakan kepada dokter yang merawat neneknya dipendam dalam, meskipun seringkali hatinya berdenyut hebat saat berhadapan dengan dokter yang memikat hatinya itu, tetap saja ia mencoba mengalihkannya, karena ia berpikir bahwa keduanya tidak sepadan dan sangat mustahil untuk bisa bersama.

Malam itu Sara tidak kerumah sakit untuk menemani neneknya karena ia pulang terlambat setelah mencari pekerjaan tetap, menjadi seorang penjahit biasa sebagai kerja sampingan yang sedang ia jalani sekarang sangatlah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan ia dan neneknya.

“Syukurlah, aku bisa menjahit, setidaknya itu bisa meringankan sedikit beban, walaupun gajinya tidak memada asalkan masih bisa makan. Tapi…Aku merasa agak minder juga, masa sih, seorang sarjana komputer kerjanya menjahit,” gumam Sara merasa agak menyesal telah menghabiskan uang orangtuanya untuk kuliah tinggi-tinggi, tapi kemudian ia hanya menjadi seorang penjahit biasa, itupun dirumah temannya.

“Lho…Kenapa malah gambar dokter ini yang jadi?” katanya ketika melihat hasil gambarnya dikomputer.

“Aku mau menggambar model pakaian baru, tapi malah jadi dia, dengar Sara?Kau dan dia dari kelas yang berbeda,” katanya lagi kemudian mematikan komputernya dan tidur.

Bingkai Hati Untuk Mu 3

Esok hari yang tidak sebegitu cerah seakan mendukung suasana hati Sara yang sedang sedih bercampur bingung, entah dimana ia bisa mendapatkan biaya rumah sakit yang sudah seminggu belum ia bayar. Kini harta yang ia miliki hanya komputer itu, ia tidak tega menjualnya karena itu hadiah pemberian dari ayah dan bundanya 3 tahun silam sewaktu keduanya masih hidup, sebelum terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa mereka ketika hendak menghadiri acara wisuda Sara. Sepanjang perjalanannya menuju rumah sakit hal itu yang ia pikirkan, meminta gaji menjahit tidak mungkin, karena belum waktunya, lagipula jahitan tidak lagi dipenuhi orderan seperti awal mula Amira mengajaknya menjahit, mengutang juga tidak mungkin karena ia sendiri tau bahwa Amira sendiri sedang krisis uang, jalan pikiran tentang permasalahannya itu mulai putus karena tidak ada jalan lain selain pasrah, dan menyaksikan nenek dikeluarkan dari rumah sakit begitu saja.

“Aku sudah siap,” gumamnya seraya memasuki gerbang rumah sakit tempat neneknya dirawat, ia memantapkan hati, mencoba untuk tidak menangis di depan nenek nantinya kalau pihak rumah sakit mengusirnya karena tidak bisa membayar.

“Suster, semua biaya perawatan nenek saya berapa ya?” tanya Sara agak canggung.

“Maaf, nama dan…”

“Oh iya, nenek Ilma ruang D9,” sambung Sara cepat.

“ Satu juta lima ratus ribu, Mbak,” jawab suster dengan ramah.

“Mati aku,” gumamnya sembari berbalik arah kemudian memukul ringan dahinya.

“Nanti saya akan kembali lagi,” katanya lagi seraya keluar dari antrian lalu berjalan menuju ruang neneknya, disana ia menyaksikan nenek masih terbaring lemah dengan mata terpejam diantara semua pasien yang dirawat didalam ruang tersebut, masing-masing ditemani keluarganya sendiri kecuali neneknya, namun tiba-tibaia keluar lagi dan menyandarkan punggungnya di dinding dengan bola mata yang berkaca-kaca.

“Bagaimana aku harus membayarnya, aku tidak punya uang sebanyak itu dan nenek, nenek masih terbaring lemah,” katanya dalam hati seraya menutup mulut dengan telapak tangannya menahan tangis, sekejap ia memejamkan matanya membayangkan nasib nenek jika harus dikeluarkan dalam keadaan seperti itu, ia tidak sampai hati, sontak Sara membuka matanya bersamaan dengan tetesan bening jatuh dari pelupuk mata, meskipun diseka tetap saja mengalir, tapi ia mencoba bertahan, menguatkan diri, ia yakin Allah tidak akan menguji hamba diluar  batas kemampuan hamba itu sendiri, ia masih menghapus-hapus air matanya hingga kering meskipun tidak, karena ia tidak ingin nenek melihat tangisannya.“Sudahlah Sara, berhenti menangis ada banyak orang memperhatikanmu,” kataya dalam hati mencoba tenang dan bersikap normal.

Sara segera masuk menghampiri sang nenek yang tenyata sedang berbicara dengan seorang dokter muda yang tidak lain adalah dokter Habil, dokter yang selama ini ia menaruh rasa, seperti biasa jantungnya langsung dag dig dug, “Sial, mengapa bukan suster saja yang melayani nenek?”

“Sara…” sapa nenek dengan suara lesu namun berhasil membuyarkan lamunan cucunya itu.

“Nenek, apa kabar nenek hari ini?” kata Sara mencoba tersenyum, meskipun matanya tampak sembab.

“Nenek baik-baik saja, dokter Habil yang menemani nenek sejak semalam.”

“Terimakasih banyak dokter,” ucap Sara sopan.

“Sara, kau menangis lagi?” tanya nenek curiga.

“Aaah, tiidak,” bantah Sara melebarkan senyumnya sembari mengusap mata.

Dokter Habil hanya tersenyum manis melihat tingkah Sara, padahal ia tau bahwa Sara habis menangis, ia menyaksikannya sendiri tadi. Perlahan dokter Habil mendekatkan wajahnya di telinga nenek.

“Nenek, Sara berbohong, dia habis menangis,” bisik dokter Habil sambil tertawa cengingisan kemudian menutup mulutnya menahan tawa karena melihat Sara melototinya dengan matanya yang indah.

Sara sama sekali tidak percaya ternyata dokter Habil tidak sedingin yang ia pikirkan. Sara tidak tinggal diam, iapun segera membantahnya.

“Tidak, jangan percaya nek, dia berbohong,” balas Sara dengan berbisik pula.

“Hei…Sara lihatlah matamu sembab seperti panda, mau mengelak bagaimana lagi kamu,” katanya lagi dengan tertawa kecil sambil menunjukkan ponselnya tepat diwajah Sara yang tampak sebal.

Melihat wajahnya sendiri yang tampak seperti bunglon membuat Sara tersenyum, dokter Habil kemudian memasukkan kembali ponselnya kedalam saku jas putih yang ia pakai.

“Tadi ia menangis karena habis bertemu dengan bawang merah, lihat dia membawa rantang nasi untuk nenek, sepertinya Sara memasak masakan enak hari ini,” kata dokter lagi yang membuat nenek tersenyum, dan Sara tersenyum kecut.

“Untung saja aku alergi bawang merah, jadi nenek takkan curiga,”batinnya, tanpa sadar bahwa dokter Habil ada disampingnya.

“Aku menunggumu di ruanganku, ada hal penting yang ingin kusampaikan tentang nenek,” bisiknya di telinga Sara yang membuatnya semakin deg-degan, sama sekali tidak tergores dalam pikirannya bahwa dokter Habil mendekatinya seperti itu, tidak seperti dulu, sebelum dokter Habil menjadi dokter diruang D9, ia terlihat dingin dan asing, Sara hanya dapat memandangnya dari jauh, menyimpan namanya di hati, dan mendekatinya lewat doa-doa yang selalu ia langitkan. Mungkinkah Tuhan telah mengabulkan cinta dalam diamnya?

Dokter Habil sudah berlalu dari sampingnya, sedangkan ia masih mematung, denyut nadinya masih belum stabil hingga nenek menyentuhnya dengan panggilan.

“Sara.”

“Hah, nenek…Ayo nek, kita makan bubur yang enak,” ucap Sara mulai menyuapi neneknya sambil membuang rasa gugup yang tadi merasukinya.

“Tadi dokter Habil bertanya tentang dirimu pada nenek,” kata nenek sumringah.

“Tentang apa, nek?”

“Banyak hal, seperti pekerjaan kamu, kegiatan kamu dan lain-lain,” jelas nenek yang membuatnya terperangah tak percaya, semua itu terbungkus dalam rasa penasaran.

“Sara, ternyata dokter itu juga mengenal kedua orangtuamu.”

“Ya, aku tau, dia adalah orang pertama yang melihatku menangis dengan tangan dan seragam wisuda berlumuran darah di pojok rumah sakit setelah kejadian kecelakaan yang menimpa ayah dan bunda,”jelas Sara curhat pada neneknya dengan lesu tanpa jeda.

“Sepertinya dia menyukaimu,” tebak nenek.

“Tidak mungkin, nek, itu mustahil, lihat!Dia putra dari pemilik rumah sakit ini, sedang aku…” kata Sara mencoba menjelaskan sehingga nenek diam sepatah kata.

“Nah sudah habis,” kata Sara pada suapan yang terakhir.

“Oh iya, nenek, aku akan menemui dokter Habil dulu, nanti aku kembali,” kata Sara seraya mencium punggung tangan neneknya kemudian berlalu.

“Tok-tok,” Sara mengetuk pintu yang berlabel nama dokter Habil Arfakhsyad dibawahnya tertera kalimat spesialis jantung, entah perasaan apa yang kini ia rasakan, rasa takut akan keadaan neneknya, bingung bercampur rasa deg-degan karena akan bertemu sang idaman untuk yang pertamakalinya 4 mata secara langsung.

“Sara, silakan duduk,” kata dokter Habil setelah menjawab salam.

“Keadaan nenekmu sudah sangat mengkhawatirkan, dia harus segera dioperasi, karena kalau tidak, hei…Sara mengapa kamu menangis, tenang dulu, ini seka air matamu,” kata dokter Habil menyodorkan sapu tangan miliknya karena melihat Sara sudah terisak-isak sebelum kata-katanya usai..

“Dokter…Tidak ada jalan lain selain operasi?”

Dokter menggeleng.

“Baiklah, terimakasih,” katanya hendak beranjak dari kursi.

“Sara, kamu belum memberi keputusan dan menandatangani surat ini, jika kamu setuju nenekmu untuk di operasi,” kata dokter, yang membuat Sara berbalik kemudian langsung menandatangani surat tanda setuju tersebut dengan tangan gemetar, ia tidak peduli akan mendapat uang darimana yang jelas apapun itu untuk neneknya, ia tetap akan berusaha. Sara akhirnya pergi dengan langkah lesu dan tatapan kosong, sedang pikirannya bertengkar hebat dengan alur-alur kehidupan yang rumit.

“Tidak ada orang yang bisa menolongku saat ini,” gumamnya lesu, matanya membendung air bening, dengan satu kedipan, akhirnya air bening tersebut meluap membanjiri pipinya, tanpa terasa langkah kaki telah membawanya menuju bangku ditaman rumah sakit, air mata terus menetes, sapu tangan yang tadi diberikan dokter Habil seakan tak berarti apa-apa, tatapan yang kosong membuat orang-orang yang lalu meliriknya, tapi apa pedulinya?Hati berteriak, otak memberontak, sedangkan mulut diam membungkam, dan raga seumpama es krim terpapar mentari yang meleleh begitu saja,tepat setelah mendengar tutur kata dokter tadi tentang kondisi neneknya yang kian mengkhawatirkan.

“Mengapa nenek berkata seolah-olah ia baik-baik saja,” gumamnya.

“Boleh aku duduk disini?” tanya dokter Habil yang tiba-tiba muncul.

“Terserah anda lagi pula bangku ini milik rumah sakit,” kata Sara dengan lesu tanpa melihat lawan bicaranya.

“Kau tidak salah jika harus menyembunyikan sendiri masalah yang tengah kau hadapi tapi  tidak ada salahnya juga jika harus berbagi masalah tersebut dengan orang lain untuk menemukan solusi.”

“Sangat salah jika aku harus berbagi dengan orang asing, terkadang mereka hanya bisa mengerti namun tidak dengan memahami,” balasnya sekali lagi masih diposisi yang sama tanpa melihat lawan bicara.

“Tapi aku bukan orang asing,” kata Habil kemudian yang membuatnya berbalik arah karena mendengar suara yang tidak asing baginya.

“Dokter,” katanya dengan nada terkejut.

“Yes, I’m a doctor,” balas dokter Habil seraya mengembangkan senyumnya namun ia masih dengan tatapan tidak percaya, tidak seberapa lama iapun membalas senyumannya, kemudian beranjak dari tempat duduknya hendak pergi, tak kuat dengan jantung yang tak berhenti berdegub, meskipun hati menolak, tapi apa boleh buat daripada tingkahnya nanti jad tak karuan,  memilih pergi akan lebih aman, namun dokter Habil dengan sigap menarik ujung jilbabnya dari belakang sehingga memaksa Sara menghentikan langkahnya.

“Apa yang dokter lakukan?” kata Sara berbalik arah dengan wajah kesal sembari memperbaiki letak jilbabnya, sementara dokter Habil tersenyum tanpa merasa bersalah.

Bingkai Hati Untuk Mu 4

“Ceritakan padaku, apa yang sedang kau pikirkan?”

“Tidak memikirkan apapun,” balasnya seraya menyilangkan lengannya seolah-olah tidak ada masalah, sedang hatinya tersenyum, seakan hutan rimba yang seketika berubah menjadi taman dengan warna bunga yang indah, namun otak tetap saja mengalihkan.

“Jangan Sara, katakan dia bukan tipemu,” katanya dalam hati.

“Kau bisa mengatakan itu pada anak kecil, tapi tidak padaku.”

“Terserahlah, aku permisi.”

“Hei Sara, mengapa kau belagak seperti itu padaku,” kata dokter Habil yang membuat Sara berhenti melangkah.

“Apa ia tau aku menyukainya,” tebak Sara dalam hati, perasaannya semakin tidak karuan.

“Ceritakan padaku,” kata dokter Habil kali ini dengan suara lantang.

“Nenekku sakit sementara aku tidak memiliki uang sepeser pun, itu masalahku, puas?” balas Sara kesal, lagi pula sekalipun ia ceritakan pada dokter itu juga tidak ada bedanya dengan bercerita kepada orang asing yang hanya akan mengerti namun tidak memahami, kemudian Sara pergi meninggalkan dokter yang terpaku seorang diri.

“Apa yang terjadi dengannya, bukankah aku hendak membantu,” gumam Habil sambil menggeleng.

***

Dua hari sudah Sara berpikir, dan mencoba mencari pinjaman, namun tetap saja hasilnya nihil. Tak ada jalan lain selain menjual komputer, sangat berat baginya untuk melakukan semua itu, karena komputer itu adalah kenangan terindah hadiah ulang tahun dari ayah dan bunda, sementara disisi lain ia khawatir dengan kondisi neneknya jika tidak segera dioperasi.

“I’m stress,” teriaknya.

“Ayah, bunda, maafkan Sara, Sara terpaksa menjual kenangan dari kalian mengingat keadaan nenek, karena nenek adalah satu-satunya keluarga yang kupunya di dunia ini,” katanya lagi sembari memegang foto berukuran kecil yang berbingkai putih polos.

Sesaat kemudian sebelum membungkus komputer dalam kardus untuk dijual, Sara sempat membuka kembali komputernya.

“Terkadang kau menjadi semangatku, meskipun mungkin kita tidak bisa bersama, tapi mungkin saat ini Tuhan mengirimmu sebagai penguat dari hati yang rapuh karena alur hidup yang lumayan menyedihkan seperti diriku,” katanya lagi seraya terus mengetik mencari gambar dokter Habil yang pernah dilukisnya di komputer kemudian mencetaknya di mesin pencetak bersamaan saat itu teleponnya berdering.

“Mbak Arrumi Ishara, ini dari rumah sakit Harapan Kasih…” kata suster dalam telepon terputus, karena Sara menutup teleponnya dengan tiba-tiba, jantungnya berdebar hebat kali ini bukan karena dokter Habil, melainkan ada teleon dari rumah sakit tidak ada hal lain kecuali neneknya. Ia langsung berlari di sepanjang tepi pantai, mencari jalan pintas agar sampai kerumah sakit dengan cepat.

Beberapa menit kemudian ia sampai dan langsung menuju ruang D9, sesampai disana ia berdiri dengan nafas terengah-engah tidak beraturan karena kelelahan sehabis berlari, pipinya basah dengan air mata, namun ketika ia menyaksikan neneknya tersenyum bahagia dan tampak sehat ia merasa lega, dokter Habil juga ada disana. Sara tidak peduli seberapa banyak mata pasien yang dirawat dalam ruang tersebut memperhatikannya saat itu

“Nenek…” gumam Sara mendekap neneknya agak lama, ia sangat bersyukur sambil terus-menerus mengucapkan tahmid didalam hatinya.

“Ehemm,” gumam dokter Habil sembari tersenyum.

“Dokter…” kata Sara melepaskan pelukan.

“Nenekmu telah dioperasi…Dan kau tidak usah khawatir dengan biayanya, karena semua telah terlunasi,” jelas dokter Habil.

“Siapa…”

“Dan kamu tidak perlu mengetahui siapa orang tersebut.”

“Aku tau, malaikat itu adalah kamu,” jawab Sara cepat.

“Aku permisi dulu,” kata dokter Habil meninggalkan Sara dan nenek.

“Dokter…” Seru Sara yang membuat dokter Habil berhenti melangkah.

“Terimakasih banyak.”

Dokter Habil melayangkan jempol kanannya dengan senyuman tanpa berbalik arah.

“Sara…” kata nenek.

“Iya nek.”

“Dokter Habil benar-benar serius padamu, bukalah hatimu untuknya,” kata nenek lembut.

“Apa yang ia katakan?”

“Cintanya tampak begitu tulus, ia berkata pada nenek bahwa  cinta yang ia miliki itu tidak memandang siapa dirimu dan status sosial yang kau punya. Sara, berhentilah bersikap dingin padanya, jika Tuhan sudah berkata dia jodohmu maka jarak, jabatan, harta, latar belakang dan status sosial tak bisa mendahului,” jelas nenek yang membuat Sara berbalik arah dan tersenyum bahagia karena Allah telah menjawab semua doa-doanya.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Sayyid Aulia Akbar Alhabsyi

   

Menempuh dan fokus di jurusan halu selama beberapa dekade,hingga mencapai master

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments