Bingung Bikin Skripsi Pakai Metode Apa?

Bingung Bikin Skripsi Pakai Metode Apa? 1

Mahasiswa semester akhir biasanya bingung luar biasa ketika dosen meminta mereka mencari ‘masalah’ untuk skripsinya. Dan seandainya masalahnya sudah ditemukan, mahasiswa akan bingung mau pakai metode macam apa untuk membuat skripsi mereka.

Terdapat dua jenis penelitian, yaitu penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Penelitian kualitatif pada dasarnya berisi teori-teori dan kesimpulan. Sedangkan penelitian kuantitatif berisi teori, serta perhitungan yang mengklarifikasi teori yang dimiliki, baru terjun ke kesimpulan.

Jika kalian para mahasiswa semester akhir bingung ingin membuat skripsi dengan metode apa, berikut adalah beberapa metode penelitian kuantitatif yang bisa kalian gunakan. Dari pada pusing mencari masalah lebih dulu, lebih baik kita kenali calon penyelesai masalah.

Analisis Regresi

Bisa dikatakan metode penelitian yang satu ini sudah banyak digunakan, terlalu sering malah. Jika kalian mencari contoh judul skripsi, kebanyakan skripsi akan memakai judul ‘analisis pengaruh X terhadap Y’.

Analisis regresi dikenal juga sebagai analisis pengaruh, metode ini digunakan jika kalian ingin mencari tau hubungan macam apa yang terjadi antara variabel X dan variabel Y. Tidak hanya satu, dalam analisis regresi boleh terdapat puluhan X, sesuai dengan variabel yang ingin kalian analisis.

Hasil analisis dari analisis regresi berupa persamaan yang dapat kalian gunakan untuk memprediksi, dan jenis hubungan X ke Y, apakah X mempengaruhi Y atau tidak, dan seberapa efektif pengaruh tersebut.

Secara umum, persamaan analisis regresi adalah:

Y = a + b1X1 + b2X2 + … + bnXn

Dimana:

a adalah konstanta regresi, seandainya nilai b dari semua variabel adalah 0, maka nilai Y = a
b adalah koefisien dari variabel X
X adalah variabel bebas
Y adalah variabel terikat

Hubungan dalam analisis regresi berada di skala antara -1 hingga 1. Hubungan regresi dikatakan kuat jika melebihi 0,6 atau -0,6. Hubungan bernilai negatif berarti X mempengaruhi Y secara terbalik, jadi, jika nilai X tinggi, maka nilai Y akan menjadi rendah. Meskipun begitu, banyak perdebatan tentang nilai yang benar tentang angka 0,6 ini. Penelitian di harapkan memiliki kekuatan regresi di atas 0,75 atau 0,8.

Analisis Faktor

Termasuk salah satu teknik analisis yang sepertinya disalah-artikan oleh mahasiswa. Analisis faktor terdiri dari 2 jenis yaitu EFA atau analisis faktor eksplorasi dan CFA atau analisis faktor konfirmasi. EFA dan CFA seharusnya tidak dipisahkan, namun banyak penelitian skripsi hanya menggunakan EFA saja.

EFA merupakan teknik yang digunakan untuk mengelompokkan beberapa subfaktor menjadi satu faktor, sedangkan CFA adalah metode yang digunakan untuk mengkonfirmasi kebenaran EFA.

Hasil dari analisis faktor eksploratori adalah reduksi dari banyaknya faktor yang sebelumnya di teliti. Banyaknya kelompok di tentukan oleh berapa banyak faktor yang bernilai eigen diatas 1. Sebagai contoh, misalnya kalian memiliki 30 subfaktor dan menjalankan EFA pada ke 30 subfaktor tersebut, hasil analisis akan membuat 30 subfaktor menjadi beberapa faktor saja, seperti 4 atau 5 faktor yang terdiri dari beberapa subfaktor.

Setelah melakukan EFA, kalian perlu melakukan CFA untuk membuktikan dan mengkonfirmasi kebenaran dari EFA yang sudah kalian jalankan. Dan CFA tidak lain adalah SEM.

SEM

SEM, Structural Equation Modeling atau dalam bahasa Indonesia di kenal sebagai persamaan model struktural merupakan metode yang digunakan untuk menguji kebenaran dari teori-teori seputar science-social oleh para ilmuan. Metode analisis SEM biasanya digunakan untuk menjelaskan pengaruh antara satu variabel dengan variabel lain.

Sekilas SEM memang mirip dengan analisis regresi. Namun terdapat perbedaan mencolok antara SEM dan analisis regresi, yaitu dari jenis variabel yang digunakan. Pada analisis regresi, variabel yang digunakan adalah variabel yang bisa diukur secara langsung seperti tinggi badan, berat badan, jarak, dan lainnya. Sedangkan untuk SEM, variabel yang digunakan bukan variabel yang dapat diukur secara langsung, seperti depresi, gangguan kecemasan, minat, dan lainnya. Variabel ini disebut variabel laten dan di lambangkan dengan huruf Yunani Eta untuk variabel terikat dan Ksi untuk variabel bebas.

Model SEM

Contoh Diagram Jalur SEM
Contoh Diagram Jalur SEM

Pada gambar diatas, dapat dilihat bahwa SEM memiliki beberapa jenis model. Yaitu:
Model pertama : model antara variabel bebas Ksi dengan indikatornya
Model kedua : model antara variabel terikat Eta dengan indikatornya
Model ketiga : Model secara struktural antara variabel Ksi dan Eta.

Secara umum, model struktural dalam SEM adalah:

Eta = Konstanta + (koefisien x Ksi1) + (koefisien x Ksi2) + … + (koefisien x Ksi n)

Hasil dari penelitian menggunakan metode SEM tidak jauh berbeda dengan analisis regresi. Namun akan lebih banyak persamaan yang kalian miliki karena SEM membuat satu persamaan untuk setiap variabel X ke Ksi, dan variabel Y ke Eta.

Analisis Diskriminan

Kalian tentunya pernah mendengar kata diskriminan, bukan?

Diskriminan berarti kalian mengelompokkan seseorang ke dalam suatu kelompok tertentu. Nah, analisis diskriminan memiliki tujuan yang sama, yaitu mengelompokkan objek ke dalam suatu kelompok yang sudah di tentukan.

Hasil analisis akan berupa sebuah persamaan yang akan digunakan untuk mengelompokkan objek-objek selanjutnya ke dalam kelompok yang sudah ada. Biasanya analisis diskriminan hanya dilakukan pada dua atau tiga kelompok, namun, jika kalian mau, kalian bisa mengelompokkan lebih dari itu.

Persamaan dalam analisis diskriminan adalah:

Z= a + b1X1 + b2X2 + … + bnXn

Dimana:

Z adalah skor diskriminan untuk menentukan kapan suatu objek masuk kedalam suatu kelompok
a adalah nilai konstanta
b adalah koefisien X
X adalah variabel bebas yang diteliti

Dalam diskriminan, kalian memerlukan pembatas untuk menentukan kapan suatu objek masuk ke kelompok 1 atau kelompok 2. Nilai tersebut di sebut cutting score. Cutting score dihitung dengan:

Zp = (c1+c2)/2

Dimana:
Zp adalah nilai cutting score
c adalah centroid dari masing-masing kelompok

Jika nilai yang didapat dari fungsi diskriminan berada di atas nilai cutting score, maka objek termasuk kedalam kelompok 2, dan jika dibawah cutting score, berarti masuk ke kelompok 1.

Sekilas terlihat sama seperti regresi dan SEM, ya karena mereka masih dalam cabang yang sama, yaitu korelasi. Ketiga metode analisis ini menggunakan analisis korelasi. Analisis regresi dan SEM menggunakan analisis korelasi sebelum menentukan besarnya pengaruh X terhadap Y. Analisis faktor menggunakan analisis korelasi untuk mengelompokkan kelompok. Analisis diskriminan menggunakan analisis korelasi untuk menentukan seberapa besar X memiliki kekuatan untuk mendiskriminasi objek.

Sekian metode analisis yang bisa kalian gunakan. Metode-metode ini bebas kalian gunakan untuk jurusan apapun. Mahasiswa manajemen sering menggunakan analisis regresi karena menjalankannya sangat mudah, tinggal input ke SPSS, analisis pun keluar dan tinggal disalin ke skripsi. Sedangkan untuk EFA, SEM dan analisis diskriminan, kalian perlu berhati-hati ketika membuat kuesioner untuk penelitian kalian.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Laurent