Biografi René Descartes, Pencetus Sistem Koordinat Kartesius & Bapak Ilmu Filsafat Modern


Biografi René Descartes, Pencetus Sistem Koordinat Kartesius & Bapak Ilmu Filsafat Modern 1

Mendengar kata matematikawan dan filsuf, apa yang muncul di pikiran anda? Mungkin: “Seseorang dengan tampang culun dan tak menarik, menghabiskan waktunya di ruangan yang penuh dengan buku-buku. Seseorang yang kisah hidupnya membosankan untuk disimak, sama membosankannya bila harus mendalami ilmu matematika dan filsafat itu sendiri.”

Boleh jadi, demikianlah pandangan banyak orang. Ditambah dengan pelajaran semasa sekolah yang jarang –atau mungkin tidak pernah– membahas riwayat matematikawan dan filsuf, menyebabkan orang belum tahu bila ternyata ada tokoh-tokoh di bidang tersebut dengan lika-liku hidup yang menarik untuk disimak. Salah satunya, adalah René Descartes.

René Descartes dan Pemikiran-Pemikirannya

Di materi pelajaran sekolah, kita telah mengenal sistem koordinat Kartesius. Kartesius–Descartes, dua nama yang kedengarannya mirip? Wajar, karena nama sistem koordinat Kartesius diambil dari nama latin René Descartes: Renatus Cartesius. Descartes mempublikasikan pemikirannya tentang sistem koordinat ini pada tahun 1637.

Sistem Koordinat Kartesius. Sumber gambar: wikimedia.org
Sistem Koordinat Kartesius. Sumber gambar: wikimedia.org

Selain sistem koordinat Kartesius di bidang geometri analisis, Descartes juga turut berjasa mengembangkan kalkulus. Bukan hanya matematika, Descartes juga berkontribusi di bidang fisika dan filsafat. “Aku berpikir maka aku ada”, atau yang dalam bahasa Latin disebut dengan “cogito ergo sum” adalah hasil pemikiran filsafat Descartes yang terkenal.

Beberapa pemikiran Descartes yang lainnya misalnya: dualisme Kartesian, mathesis universalis, res cogitans dan res extensa, folium Descartes, Descartes’ demon atau evil demon, wax argument, trademark argument, dan lain-lainnya.

*Sebuah band bernama The Monads menciptakan lagu yang mengangkat topik pemikiran-pemikiran Descartes. Lagu tersebut, beserta terjemahan bahasa Indonesia-nya dapat dilihat di video Youtube berikut ini:

Kelahiran, Keluarga, dan Pendidikan René Descartes

René Descartes lahir pada 31 Maret 1596 pada Haye en Touraine (sekarang bernama Descartes, Indre-et-Loire). Keluarga Descartes yang menganut Katolik-Roma, tinggal di wilayah Poitou yang dikuasai oleh kelompok Protestan Huguenots. Descartes mempunyai dua kakak –laki-laki dan perempuan, yang masing-masing bernama Pierre dan Jeanne. Ayahnya bernama Joachim, seorang anggota Parlemen Brittany di Rennes. Ibunya, yang bernama Jeanne Brochard, meninggal ketika Descartes baru berusia tigabelas setengah bulan. Descartes kecil sering sakit-sakitan, ia menderita batuk kering turunan ibunya. Ia dikenal sebagai sosok pendiam dan kutu buku.

Lukisan René Descartes karya pelukis Belanda Frans Hals. Sumber gambar: wikimedia.org
Lukisan René Descartes karya pelukis Belanda Frans Hals. Sumber gambar: wikimedia.org

Pada usia sepuluh tahun, ia masuk ke sekolah Jesuit di La Flèche, ia belajar logika, etika, metafisik, sejarah, dan berbagai macam bahasa: Latin, Yunani, dan bahasa Eropa lainnya. Ia kembali ke rumah pada usia 18 tahun, dan setelah beberapa bulan mendalami hukum di Universitas Poiters. Ia lulus setelah menempuh masa studi dua tahun. Namun setelah lulus, ia memilih berpetualang mencari pengalaman dan berinteraksi dengan berbagai orang.

Perang 30 Tahun Eropa

Ketika ia berusia 22 tahun, Descartes memutuskan menjadi prajurit pada tahun 1618. Pada tahun 1618 juga, dimulailah Perang Tiga Puluh Tahun di Eropa. Perang Tiga Puluh Tahun sendiri berawal sebagai perang agama, konflik antara Katolik Roma dan para pemeluk Protestan yang bermula di wilayah Bohemia. Perang tersebut berkembang menjadi persaingan politik yang melibatkan banyak pihak, untuk menyebut beberapa: Kekasiaran Romawi Suci, Hungaria, Kerajaan Spanyol, Swedia, Prancis, Denmark-Norwegia, Ottoman dan Ketsaran Rusia juga turut ambil bagian. Beberapa pihak mengubah status dan aliansi mereka, seperti Prancis dan Denmark-Norwegia.

Lukisan tentang Perang 30 Tahun Eropa berjudul
Lukisan tentang Perang 30 Tahun Eropa berjudul “The Hanging” karya pelukis Prancis Jacques Callot. Sumber gambar: wikimedia.org

Descartes, meskipun dididik secara Katolik-Jesuit, pada awalnya bergabung dengan pasukan seorang Pangeran Protestan, Mauricie dari Nassau. Di Breda, Descartes belajar –dan kemudian juga mengajar– kemiliteran. Tahun pertamanya sebagai prajurit lebih ia habiskan untuk belajar-mengajar daripada bertempur secara langsung.

Pada tahun 1619, Descartes berubah berpihak kepada Duke Katolik Maximillian dari Bavaria. Tidak diketahui pasti alasan keputusannya tersebut. Ada yang menyebut karena ia kesal dengan konflik internal “Persatuan Provinsi-Provinsi Belanda”. Ada yang menyebut juga, sejak awal Descartes menjadi mata-mata saat berpihak pada Mauricie dari Nassau. Salah satu yang menduga Descartes menjadi mata-mata adalah A.C. Grayling, seorang filsuf dan penulis Inggris.

Pada sebuah pertempuran di Prague, Descartes selamat meski setengah pasukan lain terbunuh. Ia turut terjun di Pertempuran Gunung Putih pada November 1620, dengan kemenangan Kaisar Romawi Suci dan sekutu Katolik mereka. Kemenangan perang membuat Descartes mendapat kekayaan yang cukup banyak. Tidak lama setelah pertempuran tersebut, Descartes berhenti menjadi tentara. Kemudian Descartes menghabiskan masa hidupnya hingga tahun 1628 untuk berpergian ke berbagai tempat di Eropa.

*Seperti apa itu Pertempuran Gunung Putih, dapat dilihat di reka ulang/reenactment di video berikut ini: 

Pengembaraan Descartes

Pada tahun 1621, Descartes pergi ke Waddeneilanden atau Kepulauan Frisia Barat menggunakan perahu. Dalam perjalanan menuju kepulauan tersebut, Descartes pergi hanya dengan ditemani seorang pembantu, berbeda dengan kebanyakan orang kaya pada masa itu yang saat berpergian dikawal beberapa orang. Descartes juga berbicara dengan pembantunya dengan bahasa Prancis. Melihat hal tersebut, segera setelah perahu berlayar, awak perahu berencana merampok dan membunuh Descartes. Awak perahu yang mengira Descartes tidak mengerti bahasa Belanda, membicarakan rencana itu dengan bahasa Belanda.

Menghadapi situasi yang mengancam itu, setelah Descartes menunggu di saat yang tepat, Descartes menghunus pedangnya dan menerkam salah satu awak kapal, menyereretnya ke sisi kapal, dan meletakkan ujung pedang ke tenggorokan awak tersebut. Dengan bahasa Belanda, Descartes bilang ia paham semua yang dikatakan para awak kapal. Descartes menyatakan ia lelah dan penat dengan perang namun tidak keberatan bila harus membunuh tiap awak kapal, dan menyuruh awak kapal melanjutkan perjalanan. Para awak kapal pun menuruti perintah Descartes.

Dalam salah satu pengembaraannya misalnya, ia mengunjungi Basilica della Santa Casa di Loreto. Pada tahun 1623 ia tiba di La Haye, dan menjual seluruh propertinya dan menggunakannya untuk investasi obligasi, yang membuatnya menikmati jaminan keuangan di sisa masa hidupnya. Pada tahun 1627, Descartes hadir di Pengepungan La Rochelle yang dipimpin oleh Kardinal Richelieu, yang terjadi selama konflik antara penganut Katolik dan Protestan di Prancis pada tahun 1627-1628. Di tahun yang sama, bersama matematikawan Marin Mersenne dan orang-orang terpelajar lainnya, Descartes mengikuti pemaparan pengajaran seorang alkemis bernama Nicolas de Villers.

Pada tahun 1628, Descartes bertempat tinggal di Republik Belanda. Di Belanda, ia kembali mengenyam pendidikan formal di Universitas Franeker pada tahun 1629 dan di Universitas Leiden pada tahun berikutnya. Selama periode ini, Descartes menulis karya-karya utamanya. Pada tahun 1633, ketika Galileo Galilei dijatuhi hukuman oleh Inkuisisi Italia, Descartes menunda untuk mempublikasikan karyanya “Teatrise on The World”. Namun, pada tahun 1637, ia mempublikasikan sebagian dari karya tersebut ke dalam tiga tulisan yang berjudul:   “Les Météores” atau The Meteors, “La Dioptrique” atau Dioptrics, dan “La Géométrie” atau Geometry.

Salah satu halaman La Géométrie karya Descartes. Sumber gambar: wikimedia.org
Salah satu halaman La Géométrie karya Descartes. Sumber gambar: wikimedia.org

Di Belanda, Descartes sering berpindah-pindah tempat tinggal, di antaranya di Dordrecht pada tahun 1628, di Franeker pada tahun 1629, di Amsterdam pada tahun 1629–1630, di Leiden di tahun 1630, di Amsterdam lagi pada tahun 1630 hingga 1632, di Deventer antara tahun 1632 hingga 1634, kembali ke Amsterdam antara tahun 1634 hingga 1635, di Utrecht dari tahun 1635 sampai 1636, di Leiden lagi pada tahun 1636, di Egmond dari tahun 1636 sampai 1638. Lalu ia tinggal di Santpoort, Leiden, dan Endegeest, berturut-turut dari dari tahun 1638 sampai 1640, 1640 sampai 1641, dan tahun 1641 hingga1643. Ia tinggal di Egmond-Binnen dari tahun 1643 sampai 1649.

Pada tahun 1649, Descartes meneriwa tawaran untuk menjadi pengajar privat Ratu Christina dari Swedia. Pada tahun 11 Februari 1650, Descartes meninggal, diduga disebabkan pneumonia atau radang paru-paru. Diperkirakan, hal itu terjadi karena udara dingin Skandinavia, juga waktu mengajar yang kebanyakan dilaksanakan pada pagi hari di kastil yang dingin dan berangin. Dugaan lain, Descartes meninggal karena dibunuh orang yang tak suka dengan pandangan religi Descartes. Dugaan ini ditulis oleh Theodor Ebert, filsuf Jerman pada bukunya yang terbit pada 2009 berjudul Der rätselhafte Tod des René Descartes.

Epilog


Sumber-Sumber Referensi

  • Euler’s Gem: The Polyhedron Formula and the Birth of Topology, karya David S. Richeson.
  • Descartes’s Secret Notebook: A True Tale of Mathematics, Mysticism, and the Quest to Understand the Universe Paperback, karya Amir D. Aczel.
  • Rene Descartes: Colossus of Binaries – Real or Perceived? karya Sandeep Alex. Department of Psychiatry, Government Medical College, Kottayam, Kerala, India.
  • Britannica.com
  • Mathematical Association of America 
  • Military-History.org
  • Military Wikia 
  • Wikimedia.org
  • Wikipedia bahasa Inggris dan bahasa Indonesia

*Baca juga artikel dan karya RK Awan lainnya di sini*


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

RK Awan

   

Tertarik bekerja sama membuat konten dengan saya? Bisa kirim DM ke akun twitter @RKAwan_47 atau kirim email ke kreasi.rk.awan@gmail.com.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap