Breaking The Bad Habit


Breaking The Bad Habit 1

Seperti telah kita ketahui bersama, keadaan kehidupan kita saat ini ditentukan oleh riwayat keseharian kita di masa lalu. Jika yang terlanjur kita lakoni bertahun lamanya ternyata adalah bad habits, tentu hasilnya hari ini adalah kenyataan hidup yang pahit. Karir yang mungkin tak ada kemajuan, keuangan pas-pasan, dan kehidupan sosial yang tidak berkembang. Stuck with you, kata Arianna Grande dan Justin Bieber.

Breaking The Bad Habit 3

Kenyataan demikian tentu tidak menyenangkan. Sehingga, mau tidak mau, kita harus segera melakukan perubahan besar-besaran dalam diri kita demi kehidupan masa depan yang lebih cerah, secerah lampu petromaks di tengah sawah.

Lalu bagaimana, sih, cara paling ampuh untuk memberantas bad habits yang telah mendarah daging dalam tulang sumsum kita? Di buku Change Your Habit, Change Your Life, Pak Yodhia Antariksa telah tuntas membahasnya.

sumber: inspirationabode
sumber: inspirationabode

Sebelumnya, kita harus memahami dulu bagaimana sebuah ‘habit’, menjadi habit yang kita lakoni sehari-hari. Alurnya dimulai dari sebuah cue/reminder, atau pemicu mengapa sebuah habit kita lakukan. Reminder ini ada lima macam, yaitu: 1. Waktu, 2. Lokasi dan situasi sekitar, 3. Orang-orang di sekitar kita, 4. Kejadian sebelumnya, dan 5. Kondisi perasaan kita.

Penjelasannya seperti ini. Misalnya kita punya kebiasaan buruk merokok. Mengapa kita merokok padahal tahu itu nggak baik buat kesehatan dan keuangan? Karena ada pemicunya, yaitu 5 reminder di atas.

Saat memasuki jam makan siang, kita langsung mengeluarkan rokok dan menyulutnya. Lokasinya juga memungkinkan kita merokok, yaitu di kafetaria yang tidak ber-AC. Teman-teman kita semuanya juga merokok, sehingga kita tak segan untuk ikut merokok. Dan adatnya, setelah makan mayoritas orang akan merokok. Atau barangkali, manakala perasaan kita tak menentu, refleks kita menyulut rokok untuk menghilangkan stres.

Aspek pembentukan habit yang kedua ialah routine, yaitu kegiatan yang dipicu oleh 5 reminder di atas. Dalam contoh kali ini adalah bad habit merokok. Sedangkan aspek ketiga adalah reward, atau imbal balik dari aktivitas tersebut. Saat merokok, rasanya semua beban hilang dari pikiran kita. Betul? Itulah yang disebut instant reward, yang langsung seketika itu kita rasakan. Instant reward inilah yang bisa membuat kita ketagihan melakukan sebuah kebiasaan, good or bad.

Untuk mengurangi, atau lebih hebat lagi yaitu memberangus bad habits dalam kehidupan kita, maka yang harus kita lakukan pertama kali adalah, identifikasi dulu apa pemicu bad habit tersebut. Misalnya, kita merokok karena orang-orang di sekitar juga merokok. Maka solusinya tentu mengurangi interaksi dengan orang-orang yang demikian dan beralih memperbanyak interaksi dengan orang-orang yang bersih dari asap rokok.

Breaking The Bad Habit 4

Jika pemicunya adalah kegalauan kita yang butuh diredam, maka kita harus siapkan alternatif kegiatan lain yang memberikan reward yang sama. Misalnya, bercanda ria dengan teman, atau menonton video lucu atau inspirastif.

Langkah kedua untuk menjauh dari bad habits yaitu, menyusun Habit Plan, yang bertujuan mengeliminasi bad habit tersebut dan menggantinya dengan perilaku alternatif yang lebih positif. Contohnya, jika reminder habit merokok adalah kebosanan, maka katakan, setiap kali saya merasa jenuh, saya akan membuka konten video lucu (atau motivasi) selama 10 menit, berjalan-jalan keliling ruangan sambil mengunyah permen karet, atau pergi ke kamar mandi dan berwudhu.

Cara tersebut akan mencegah refleks kita mengeluarkan rokok saat jenuh dan stres dengan mencoba perilaku baru yang lebih positif sementara imbal baliknya sendiri tak kalah asyik.

Seperti halnya dalam pembentukan good habit, penyetopan bad habits pun tidak bisa langsung mengambil skala besar. Maka langkah ketiga adalah start small. Bad habit yang sudah menyatu dalam diri kita ibarat pohon besar nan kokoh. Kita tak bisa mencabutnya dalam sekali sentakan. Tebanglah ia perlahan-lahan, sedikit demi sedikit.

Breaking The Bad Habit 5

Jika kita terbiasa merokok sehari habis satu bungkus, maka kurangi separuh. Lalu kurangi lagi, hingga kita enggan menyentuhnya sebab telah memiliki habit lain yang lebih positif dan menyehatkan. Olahraga misalnya, atau membaca buku bagus.

Sebagai penyempurna agar bad habit benar-benar enyah dari diri kita, maka langkah keempat ini juga tak boleh terlewat. Bangunlah sebuah identitas diri yang kompatibel dengan good habits. Identitas seperti apa yang ingin kita sematkan pada diri kita sendiri? Apakah menjadi orang yang selalu tepat waktu? Menjadi orang yang peduli pada kesehatan dan lingkungan?

Self-labelling negatif terhadap diri kita sendiri malah akan menjadi semacam pembenaran atas bad habits yang terbiasa kita lakoni. Maka segera ubah dengan self-image yang positif agar kita selalu terpacu memperbaiki diri dan merasa malu jika mengkhianatinya.

Breaking The Bad Habit 6

Setelah kita menemukan identitas yang ingin dibangun, berusahalah secara penuh kesadaran untuk memenuhi identitas tersebut, dengan bekerja keras menjadikan good habit sebagai bagian yang menyatu dengan diri kita.

Semoga berhasil!


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Athi S. Rohmah

   

Seeker of Cosmic Revolution

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap