Bukan Work Life Balance, 3 Cara ini Bikin Kamu Enjoy Dalam Bekerja

Bukan Work Life Balance, 3 Cara ini Bikin Kamu Enjoy Dalam Bekerja

Sebagai pemuda atau pemudi di usia produktif, kamu pasti tidak asing dengan istilah work life balance.

Istilah ini sering digaungkan di media sosial maupun menjadi topik dalam obrolan sehari-hari. 

Berusaha memisahkan antara urusan pekerjaan dan kehidupan hingga mencapai keseimbangan, tentunya bukan hal yang mudah, bahkan beberapa orang bilang tidak mungkin.

Apalagi di zaman pesatnya perkembangan teknlogi informasi seperti saat ini. Orang-orang dapat melakukan komunikasi kapan pun.

Ada sebuah cerita dari seorang Epidemiolog di sebuah Puskesmas yang mengalami perbedaan culture kerja yang  signifikan, saat sebelum dan saat terjadi pandemi Covid-19.

Ketika sebelum pandemi, memisahkan waktu kerja dan kehidupan pribadi sangatlah memungkinkan baginya.

Saat jam kantor dia bekerja, lalu pulang ke rumah tidak menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan, hanya mengurus kehidupan personalnya.

Tapi ketika peningkatan kasus Covid-19, ilmu mengenai work life balance yang selama ini ia terapkan menjadi kacau dan jadi sumber stressor bagi dirinya.

Panggilan dari atasan, rekan kerja, lintas sektor, bahkan pasien yang ketakutan ingin dirujuk, semua itu silih berganti tidak mengenal waktu dari pagi, siang sore, dini hari atau tengah malam. 

Baca juga  Gunakan Prinsip 20/80 untuk Meningkatkan Produktivitas Kamu

Dia merasa kehilangan batasan kehidupan pribadi dan pekerjaan yang ia dapatkan sebelumnya.

Tapi dia sadar bahwa tidak mungkin mengontrol kondisi di lapangan, pilihan satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menerima keadaan.

Dia sadar, ada di posisi yang tidak sama seperti sebelumnya.

Apakah kamu juga mengalami kondisi serupa?

Sumber : Karl Weatherly/Getty Images  (Ilustrasi Work Life Trampoline)
Sumber : Karl Weatherly/Getty Images  (Ilustrasi Work Life Trampoline)

Melansir dari website UC Berkeley’s Haas School of Business , work life integration adalah konsep dalam menjalani karir yang menyinergikan seluruh aspek seperti pekerjaan, keluarga, komunitas, diri sendiri dan lain sebagainya.

Konsep serupa juga dikemukakan oleh Panji Pragiwaksono, seorang Stand-Up Komedian Indonesia dan Pebisnis, dalam kanal youtubenya yang ia sebut dengan  istilah work life trampoline.

Work life trampoline menjadikan bekerja dan kehidupan personal dalam satu arena yang sama, layaknya di trampolin dan saling berlompat-lompatan.

Konsep ini tidak memisahkan atau berusaha menyeimbangkan seperti jungkat jungkit yang dipakai oleh konsep work life balance.

Menurut Panji, itu hal yang sulit untuk dilakukan. Inti dari konsep ini adalah ketika kita mencintai kehidupan personal kita, yang kita anggap menyenangkan, maka begitu pula seharusnya kita menganggap pekerjaan sebagai sesuatu yang dicintai dan menyenangkan.

Baca juga  5 Tempat Terbaik Untuk Menulis Selain di Rumah, Mana Favoritmu ?

Pemisahan menjadi tidak diperlukan, justru dapat saling menguatkan. 

Dua konsep yang senada antara work life integration dan work life trampoline bisa kamu gunakan jika kamu merasa tidak relevan dengan konsep work life balance.

Bagaimana cara menjalani karir dengan menyinergikan urusan kerja dan kehidupan personal?

1. Mengetahui skala prioritas dari kebutuhan diri sendiri

Ketika kamu sudah mengenali diri kamu, maka langkah selanjutnya adalah menyusun jadwal yang terdiri dari urusan pekerjaan hingga urusan personal.

Hal ini dilakukan supaya mendapatkan gambaran bahwa semua urusan sudah mendapatkan porsinya.

Kemudian, disusun secara skala prioritas, mana dulu yang akan difokuskan.

Dalam menentukan waktu, kamu bisa lebih fleksibel dan fokus pada produktifitas.

2. Menetapkan batasan pada setiap urusan yang sudah disusun sesuai skala prioritas dan kebutuhan.

Batasan dalam hal ini, berfungsi supaya kamu tidak terlalu lama fokus disuatu urusan, sehingga mengetahui kapan harus berpindah dari satu urusan ke urusan yang lain.

Baca juga  Catat! Beberapa Tips Agar Tugas Cepat Selesai Penting Diketahui

Misalkan, ada hal mendadak yang tidak sesuai jadwal maka tentukan berapa lama waktu tambahannya, baik kepada diri kamu maupun orang lain yang berkaitan.

3. Mengetahui kapan harus mengambil jeda untuk istirahat, olahraga, me time , dll

Jeda sangat penting dalam konsep ini. Apapun urusanya, baik pekerjaan atau personal, jika pikiran kita sering terforsir dengan rutinitas yang melibatkan emosi, maka kamu akan merasa kelelahan.

Kamu harus menyadari kapan kamu perlu mengambil jeda dan komunikasikan dengan baik kepada pihak-pihak terkait.

Manfaat sinergi antara pekerjaan dan kehidupan  personal

Konsep ini bukan berarti mengajak kamu untuk jadi workaholic atau membudayakan lembur ya.

Kamu harus tetap aware terhadap lingkungan kamu, jika mulai toxic atau tidak menghargai kamu sebagai seorang karyawan.

Tapi paling tidak kamu sudah mencoba untuk mencintai pekerjaan apapun yang sedang kamu lakukan sehingga terasa menyenangkan.

Alhasil, hubungan kehidupan personal dengan pekerjaan pun bisa sama-sama berkualitas.

Ketika kamu menerima bahwa pekerjaan bagian dari kehidupan yang sulit untuk dipisahkan, pola pikir kamu akan menjadi lebih luas dan ringan. 

Pandangan kamu tentang ekspektasi dan beban kerja pada diri, bisa lebih terkelola dengan baik.

Hal ini dapat menghindarkan kamu dari stress karena bekerja.  

Hari Senin tidak akan menakutkan lagi, bahkan mungkin kamu menantikannya.

Bagaimana sudah siap mencoba dan menanamkan konsep ini? Rasakan deh perbedaanya.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Dian Dwi Restiani