Cape-Cape Tanam Pohon Tapi Masih Banjir Juga


Cape-Cape Tanam Pohon Tapi Masih Banjir Juga 1

Forum internasional secara aklamasi memutuskan, harus segera dilakukan tindakan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Pada kenyataan dilapangan, semua lebih memilih repot memitigasi, terutama untuk menjaga hutan yang masih tersisa. Namun kenyataan dilapangan juga, banjir masih terus melanda dimana-mana. Orang-orang pada ngedumel karena motor-motor mereka terendam banjir. Dari fenomena itu lahir pemikiran miring. Buat apa cape-cape menjaga hutan, kalau banjir masih melanda? Sebab manusia sekarang bukan hidup di hutan, tapi dikota yang sedikit-sedikit mulai hilang karena terendam banjir. Tanda-tanda harus lebih peduli cara beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

Kegiatan menanam pohon seharusnya jangan hanya seremonial saja.               (dok. pemerintah kota bogor)
Kegiatan menanam pohon seharusnya jangan hanya seremonial saja. (dok. pemerintah kota bogor)

Anak Tiri

Usai menghadari Konferensi Perubahan Iklim di Bali tahun 2007 lalu, berbagai pertanyaan berkecamuk dikepala. Kok bisa orang-orang lebih memutuskan untuk mendahulukan cara memitigasi, ketimbang beradaptasi.

Terbukti dengan lahirnya konsep Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD/Reducing Emission from Forest Deforestation and Degradation). Orang-orang berbondong-bondong berpikir, kalau menyelamatkan hutan bisa menjadi solusi besar untuk menyelamatkan bumi ini. Lantaran hutan bisa menyerap karbondioksida (CO2), salah satu penyebab utama pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim.

Bertahun-tahun kemudian berbagai program REDD digelar (ditambah ++ pula, seperti tarif hotel saja), dihutan-hutan yang tersisa. Salah satunya di Indonesia, karena memiliki jumlah hutan alami terbesar di dunia. Terutama hutan-hutan di Kalimantan dan Papua, menjadi salah satu target penjagaan hutan.

Selain menjaga hutan, program menanam pohon juga digalakan dimana-mana. Ada program menanam sejuta pohon, reboisasi hutan, sampai adopsi pohon. Semua orang jadi getol menanam dimana-mana. Bahkan jadi topeng-topeng untuk perusahaan perusak lingkungan. Toh dengan menanam sedikit pohon, nama baik perusahaan mereka yang semula tercoreng sebagai perusak lingkungan, bisa tiba-tiba berubah menjadi pelestari alam.

Itu program mitigasi, lalu bagaimana dengan adaptasi? Cara orang-orang bersiap untuk menghadapi dampak perubahan iklim? Contoh kecilnya saja, bagaimana cara petani cabe menghadapi musim hujan yang berkepanjangan. Bisa dibilang tak ada. Maka wajar, bila tahun 2010-2012 harga cabe tiba-tiba melonjak, ketika cuaca basah melingkupi hampir setahun lamanya.

Itu baru petani cabe. Bagaimana dengan nelayan yang harus menghadapi ombak lebih besar karena cuaca ekstrem. Belum lagi para petani disawah-sawah yang terus kering. Belum juga para penghuni-penghuni rumah di kawasan padat, yang harus menghadapi banjir tahunan. Masih banyak yang lain.

Sepertinya hanya didiamkan. Dibiarkan begitu saja menghadapi dampak perubahan iklim seorang diri. Kehadiran negara seperti tak ada disini. Negara seperti sibuk menjaga hutan. Mengurus proyek-proyek yang memiliki skala dana miliaran dollar. Karena memang semua juga tahu, dana besar siap digelontorkan untuk mitigasi. Adaptasi sepertinya menjadi anak tiri dari perubahan iklim.

Banjir terus melanda kota-kota besar dunia, salah satunya di Venesia, Italia. Mengancam rusaknya banyak peninggalan berharga manusia yang ada disana. (dok. electroverso)
Banjir terus melanda kota-kota besar dunia, salah satunya di Venesia, Italia. Mengancam rusaknya banyak peninggalan berharga manusia yang ada disana. (dok. electroverso)

Banjir Dunia

November 2019 lalu salah satu kota termashyur di dunia, Venesia seperti tertelan banjir. Diperkirakan 85 persen bagian kota di Italia tersebut terendam air. Ketinggian air mencapai 1,87 meter. Peringkat kedua terparah dibanding banjir tahun 1966, dengan ketinggian air sampai 1,98 meter.

Akibat banjir tersebut banyak situs sejarah di kota tersebut turut terendam pula. Termasuk Basilika Santo Markus dan area alun-alun utama, Piazza San Marco. Kondisi tersebut dikhawatirkan bisa merusak karya-karya seni dan mosaik didalam bangunan berumur ratusan tahun itu.

Tak hanya bangunan bersejarah terendam, sejumlah gondola dilaporkan terlepas dari tempat berlabuhnya, kemudian nyangsang di trotoar kanal. Bahkan tiga kapal motor juga dilaporkan tenggelam akibat kejadian tersebut.

Tak hanya di Venesia, kota Jakarta juga mengalami banjir pada akhir tahun ini. Mungkin tak sebesar tahun-tahun sebelumnya. Namun banjir yang terjadi hanya karena hujan deras dalam waktu singkat, membuktikan perlunya perbaikan rencana menghadapi musim hujan di Indonesia.

Kedua kejadian tersebut sekaligus juga membuktikan, perlunya manusia memiliki daya adaptasi terhadap dampak dari perubahan iklim. Kalau tidak, siap-sap saja semua artefak-artefak berharga menjadi tak terselamatkan. Serta kehidupan ekonomi perkotaan tersendat lantaran banjir yang makin hebat melanda.

Seperti kasus di Venesia, siap-siap saja dengan makin tingginya kemungkinan cuaca ekstrem maka makin banyak kota bersejarah di dunia akan tenggelam. Maka perlu dilakukan langkah adaptasi dengan menyelamatkan peninggalan berharga tersebut Setidaknya membuat sistem yang bisa membuat karya-karya tersebut tak rusak oleh banjir. Bisa dengan memindahkan ke tempat yang lebih tinggi, atau membuat standar sistem penyelamatan tersendiri kala banjir kembali menerjang.

Sementara seperti di Jakarta, adaptasi bisa dilakukan dengan memperbaiki sistem kerja. Sehingga roda ekonomi tetap berjalan meski banjir makin kerap terjadi. Sistem transportasi yang mendukung, serta kemampuan akses kota pintar, yang mempermudah pekerjaan dilakukan diberbagai tempat bisa juga menjadi solusi.

Sebab kemungkinan dampak perubahan iklim sepertinya tak akan terelakan. Manusia terlalu arogan untuk mengurangi semua penyebab perubahan iklim. Jadi daripada pusing mengurus mitigasi, lebih baik kita siap beradaptasi dengan segala kemungkinan yang ada.

 


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

sulung

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap