Cara Mengelola Rasa Takut dan Harap dalam Diri

Cara Mengelola Rasa Takut dan Harap dalam Diri

Klier sudah. Manusia tercipta dilengkapi dengan perangkat (khauf) dan (raja’). Keduanya berfungsi sebagai penyeimbang.

membuat manusia berhati-hati, dan menjadikan manusia gigih dan bekerja ekstra dalam mengarungi kehidupannya. tanpa , akan menyebabkan manusia diam dan tak pernah mampu meraih capaian. Begitupun tanpa , akan membuat manusia ngawur dan tak terarah.

Peranan keduanya amat signifikan dalam pengelolaan kualitas hidup manusia. Potensi manusia bisa beku, jumud dan mati tanpa ada harapan yang ingin dicapainya. Dan harapan itu bisa saja meleset bahkan amburadul tanpa menempatkan pada proporsi yang sebenarnya.

haruslah tidak berlebihan, sebab yang berlebihan itu bisa menjadikan manusia selalu dibayang-bayangi psimistis dan dihantui ancaman kegagalan.

Baca juga  4 Hal Yang dilakukan Kecoa Yang Tak Mungkin Terjadi Pada Manusia

Apa yang kita peroleh itu tidaklah penting. Yang terpenting, adalah apa yang kita usahakan. Proses apa yang kita lakukan agar kita mampu meraih yang kita harapkan?!

Kita tak mungkin bisa sampai tanpa adanya lompatan-lompatan meski kecil adanya. Sebab, sejengkal langkah itu amatlah berpengaruh dalam hidup kita ke depan, walaupun butuh waktu yang cukup lama.

Nah, dengan itu, mestinya kita bisa bertanya pada kita sendiri. Menakar . Apa yang ingin kita capai? Proses apa yang sudah kita lakukan? Sejauh mana pengaruhnya? Baru sampai di mana? Evaluasinya bagaimana? Ukurannya apa? Dan sebagainya.

Baca juga  Kota Swiss Kecil Yang Menjadi Favorit Kompeni Belanda di Indonesia

Mari kita takar, berapa persen kisaran (raja’) yang menyatu dengan (khauf) yang menggenang dalam kita? Kemudian, berapa persen kisaran kita yang berbaur dengan harapan yang ada dalam kita?
Jika jawabannya, lebih besar dibanding . Maka, berarti kita tak pernah melangkah. Jika rasa lebih besar daripada rasa takut, itu berarti, kemungkinannya kita tidak memiliki ekspektasi dan itu yang menyebabkan langkah kita sia-sia.

Sebagaimana telah dinyatakan di atas, bahwa khauf dan raja’ itu penyeimbang. Maka porsi keduanya harusnya seimbang pula dalam .

Baca juga  Artis Terkenal Ini Dulunya Sempat Jadi Bintang P*rno

Dalam kaitannya dengan perjalanan spritualitas manusiapun kedua rasa tersebut haruslah seimbang. Seimbang dalam mengharap ampunan-Nya dan takut akan siksa-Nya. Artinya, wajib bagi manusia mengharap akan ampunan-Nya dengan menampakkan rasa khauf pada-Nya, atau takut akan siksa-Nya dengan mengharap akan ampunan-Nya.
Seperti di atas, keduanya harus seimbang. Ukurannya harus sama.

Mari, kita bertanya pada kita sendiri. Takar kualitas kita. Perbanyaklah pertanyaan itu. Atau, kalau perlu bantai kita, cercah kita dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggugah semangat kita demi sebuah perubahan.
“Haasibuu qabla an tuhaasabuu…” Takar diri sendiri..!

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Holikin