Cara Mengelola Rasa Takut dan Harap dalam Diri

Cara Mengelola Rasa Takut dan Harap dalam Diri 1

Klier sudah. Manusia tercipta dilengkapi dengan perangkat rasa takut (khauf) dan harap (raja’). Keduanya berfungsi sebagai penyeimbang.

Rasa takut membuat manusia berhati-hati, dan harap menjadikan manusia gigih dan bekerja ekstra dalam mengarungi kehidupannya. Takut tanpa harap, akan menyebabkan diri manusia diam dan tak pernah mampu meraih capaian. Begitupun harap tanpa takut, akan membuat manusia ngawur dan tak terarah.

Peranan keduanya amat signifikan dalam pengelolaan kualitas hidup manusia. Potensi manusia bisa beku, jumud dan mati tanpa ada harapan yang ingin dicapainya. Dan harapan itu bisa saja meleset bahkan amburadul tanpa menempatkan rasa takut pada proporsi yang sebenarnya.

Mengelola rasa takut haruslah tidak berlebihan, sebab takut yang berlebihan itu bisa menjadikan diri manusia selalu dibayang-bayangi rasa psimistis dan dihantui ancaman kegagalan.

Apa yang kita peroleh itu tidaklah penting. Yang terpenting, adalah apa yang kita usahakan. Proses apa yang kita lakukan agar kita mampu meraih yang kita harapkan?!

Kita tak mungkin bisa sampai tanpa adanya lompatan-lompatan meski kecil adanya. Sebab, sejengkal langkah itu amatlah berpengaruh dalam hidup kita ke depan, walaupun butuh waktu yang cukup lama.

Nah, dengan itu, mestinya kita bisa bertanya pada diri kita sendiri. Menakar diri. Apa yang ingin kita capai? Proses apa yang sudah kita lakukan? Sejauh mana pengaruhnya? Baru sampai di mana? Evaluasinya bagaimana? Ukurannya apa? Dan sebagainya.

Mari kita takar, berapa persen kisaran rasa harap (raja’) yang menyatu dengan rasa takut (khauf) yang menggenang dalam diri kita? Kemudian, berapa persen kisaran rasa takut kita yang berbaur dengan harapan yang ada dalam diri kita?
Jika jawabannya, rasa takut lebih besar dibanding rasa harap. Maka, berarti kita tak pernah melangkah. Jika rasa harap lebih besar daripada rasa takut, itu berarti, kemungkinannya kita tidak memiliki ekspektasi dan itu yang menyebabkan langkah kita sia-sia.

Sebagaimana telah dinyatakan di atas, bahwa khauf dan raja’ itu penyeimbang. Maka porsi keduanya harusnya seimbang pula dalam diri.

Dalam kaitannya dengan perjalanan spritualitas manusiapun kedua rasa tersebut haruslah seimbang. Seimbang dalam mengharap ampunan-Nya dan takut akan siksa-Nya. Artinya, wajib bagi manusia mengharap akan ampunan-Nya dengan menampakkan rasa khauf pada-Nya, atau takut akan siksa-Nya dengan cara mengharap akan ampunan-Nya.
Seperti di atas, keduanya harus seimbang. Ukurannya harus sama.

Mari, kita bertanya pada diri kita sendiri. Takar kualitas diri kita. Perbanyaklah pertanyaan itu. Atau, kalau perlu bantai diri kita, cercah diri kita dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggugah semangat kita demi sebuah perubahan.
“Haasibuu qabla an tuhaasabuu…” Takar diri sendiri..!

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.