Cerita Dari Pojokan Dinding


Cerita Dari Pojokan Dinding 1

Meja di depanmu itu selalu begitu, berantakan, seperti dirimu sendiri. Meski itulah kawan terbaikmu. Tempat engkau menuliskan sajak-sajak pilu. Juga tempat menuliskan betapa berantakannya hidupmu. Banyak, sebanyak benda yang ada diatas mejamu itu. Satu saja kuceritakan biar semua orang tahu seperti apa engkau. 

Ingatkah engkau hari itu?

Meski aku tak begitu ingat hari apa, tanggal berapa, bulan apa. Aku masih ingat benar kejadian itu. Waktu musim hujan. Saat dedaunan mulai menghijau. Saat para petani mulai bercocok tanam, seperti juga engkau, meski tak sekuat tetanggamu, namun masih juga mengangkat cangkul. Entah apa yang akan engkau tanam. Sepertinya engkau juga tak yakin bakal menanam apa. “Mencangkul saja, biar tak terlalu banyak gulma”, itulah alasan yang kau buat setiap disapa orang lewat.

Cerita Dari Pojokan Dinding 3

Hari itu mendung sedari pagi, meski hujan tak kunjung datang. Engkau putuskan pada jam delapan pagi berangkat ke ladang. Tak berbekal, botol minuman pun tak engkau bawa. Engkau merasa hanya akan sebentar, tak perlu sarapan, sebelum lapar pasti hujan telah datang. Hawa dingin takkan membuatmu haus. Begitu kan alasanmu?

Belum ada jam dua belas, masih kurang seperempat jam lagi. Engkau telah pulang. Hujan telah datang. Airnya yang begitu dingin menusuk hingga ke tulang belulangmu. Engkau putuskan kembali ke rumah, pulang tanpa membawa apapun. Juga tak membawa rumput untuk kambing-kambingmu. Tak sempat. Hujan tiba-tiba turun. Pagi tadi istrimu juga mengatakan hendak mencari rumput, maka engkau dengan cepat berfikir untuk tak perlu mencarinya. Kambingmu takkan kelaparan.

Tak butuh waktu lama untuk sampai kerumah, kurang dari lima menit. Terlebih lagi engkau berlari dengan motor tuamu itu. Tiga menit, mungkin kurang. Sesampai di rumah engkau langsung menuju dapur, mencopot baju yang basah. Melempar ke keranjang, mencari gelas, kemudian meracik kopi. Seperti biasanya engkau akan menuju meja kesayanganmu itu. Duduk di sebuah kursi plastik berwarna hijau tua. Lalu asap rokokmu akan mulai mengebul. Tapi, kali ini lain. Lain dari biasanya.

Cerita Dari Pojokan Dinding 4

Istrimu sedang berada di depan tungku. Memilah-milih setumpuk kayu bakar yang basah karena hujan. Ia potong ranting-ranting menjadi lebih rapi. Ia letakkan yang telah selesai di samping tungku. Ranting-ranting kecilnya langsung ia masukan kedalam tungku yang telah menjilat-jilat apinnya. Anakmu sedang bermain-main tanah. Menggaruk-garuk lantai dapurmu itu. Mulutnya bersuara selayaknya mobil truk sambil mendorong truk kecilnya. 

Selepas engkau lempar baju basahmu kedalam keranjang, lantas kau duduk mulai duduk di kursi depan meja kesayanganmu itu. Baru kau akan mulai berkata, namun istrimu mendahuluinya,

“Tak bawa rumput mas?”, begitu ia bertanya sambil memotong ranting-ranting kecil dengan sabit yang tak terlalu tajam itu.

“Tidak”, begitu engkau menjawabnya dengan singkat.

“Tak bawa rumput mas?”, begitu tanya istrimu kembali yang mungkin tak terlalu mendengar jawabmu tadi yang cukup lirih.

“Tidak”, engkau menjawab lagi dengan singkat, sesingkat kisah di hari itu.

Entah apa yang menyumbat telinga istrimu, untuk ketiga kalinya ia bertanya hal yang sama, “Tak bawa rumput mas?”.

Kali ini raut mukamu menjadi merah. Amarahmu tiba-tiba muncul dengan berapi-api. Rasa lelahmu hilang dan seolah tenaga yang kau peras di ladang tadi kembali berlipat-lipat. Kau jawab dengan lantang, “Tidakkkk….!!!Tuli kah engkau?”.

Dunia seolah berhenti berputar, suasana menjadi begitu hening. Engkau masih terduduk dan istrimu berhenti memotong ranting-ranting itu. Ia letakan sabit dibawah kolong ambin. Mukanya memerah. Mungkin juga menyesali pertanyaan-pertanyaan bodohnya itu. Lantas ia berkata-kata yang mungkin tak kau dengarkan lagi. Kau tetap terpaku, duduk didepan mejamu yang berantakan. Mengingat masa lalu yang berantakan, juga memandang masa depan yang juga akan makin berantakan. 

Kini engkau menjadi ingat segalanya. Segala yang pernah terjadi dan menjadi rahasia hidupmu. Kau menyesali keputusan waktu itu bukan? Kini kau merasa begitu menderita bukan? Ah…sungguh malang nasibmu itu memang.Bertahun-tahun kau coba untuk melupakan persoalan itu, mencintainya dengan sepenuh hati. Mencoba menjadi keluarga yang seperti yang lainnya. Kau cukup berhasil memang, menipu diri sendiri dengan banyak hal yang engkau rintis empat tahun yang lalu. Meski segala yang engkau rintis juga menciptakan banyak persoalan baru.

Andai waktu itu bukan Ibumu yang mengatakan kepadamu, mungkin engkau tak kan pernah memilihnya. Kau sama sekali tak mencintainya bukan? Aku yakin, engkau tak mungkin mencintai gadis yang pernah menghinamu. Engkau masih selalu mengingat kata-katanya di depan rumahmu bukan? “Dasar bocah pendek!”, begitu ucapnya kala itu. Kemudian engkau memang terdiam, namun aku tahu kalau engkau juga perasa. Engkau merasa sakit hati, sungguh dalam hati kecilmu kau berkata takkan memilih gadis semacam itu menjadi teman hidupmu. Namun, kata-kata Ibumu menjadi lain bagimu, terpaksa engkau menerima. Meski juga engkau merasa begitu sakit.

Cerita Dari Pojokan Dinding 5

Persoalan demi persoalan hidupmu muncul selepas keputusan besarmu itu. Membunuh rasa cinta dalam dirimu. Engkau putuskan jika engkau tak perlu memiliki rasa cinta. Engkau tipu dirimu sendiri dengan tetap menerimanya. Entah hingga kapan engkau mampu melakukan hal itu. Meski sejujurnya engkau paham jika itu takkan bertahan selamanya. Suatu saat engkau akan meledak, seperti saat ini. Mungkin saat tersebut merupakan waktu dimana engkau meski jujur kepada Ibumu jika engkau tak pernah mencintainya. Itulah saat dimana engkau sadar jika takkan berarti jika hidup tanpa cinta. Aku yakin engkau akan sadar, hari itu pun aku yakin engkau merasa seperti itu. Meski kau akan banyak berfikir tentang banyak hal baru kemudian memutuskan. Memutuskan untuk tetap menderita atau terlepas dari semua persoalan rumit ini.

Beberapa menit kemudian kata-kata istrimu tak lagi kau dengarkan. Entah apa yang ia ucapkan. Meski aku mendengarnya juga tak perlu kuceritakan disini. Yang kutahu ia kemudian pergi mengajak anaknya. Pergi. Pulang ketempat orang tuanya. Engkau tak menghiraukannya bukan? Ah…meski itu tak baik aku pun cukup memahamimu. Aku akan selalu melihat dan mendengar kisahmu dari sini, diujung tembok, menggantung dipojokan dinding.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Elang

   

Semenjak lama suka menulis, kemudian mencoba untuk menuangkannya melalui media sosial atau blog. Sekarang sedang merawat blog di http://tanimillenial.com

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap