Cerita Pilu Honorer Pasca Test P3K 2021

Cerita Pilu Honorer Pasca Test P3K 2021 1

Mimpi indah selama bertahun-tahun ternyata hanyalah mimpi belaka, betapa tidak, harapan satu-satunya bagi para honorer dengan pengabdian yang sudah begitu lama lewat test P3K tahun 2021, berakhir dengan hasil yang sangat mengecewakan. Bukan saja lantaran passing grade yang kini dinaikkan, tetapi soal-soal test yang diberikan jauh menyimpang dari apa yang telah dipelajari. Dengan usia yang tidak muda lagi, mereka mati-matian mempelajari modul yang diberikan melalui laman kemdikbud, lewat SIM PKB dan berbagai panduan lain, melalui Guru Pembelajaran Online (GPO) ternyata hasilnya nihil, jauh dari ekspetasi para honorer.

Berbagai layangan surat terbuka di sampaikan kepada Mas Menteri dari para pengawas dan panitia seleksi P3K, terkait dengan pelaksanaan Test P3K pun bertebaran hingga menjadi viral, lantaran para peserta test mengenakan pakaian yang tak layak lagi dengan sepatu loak, baju putih nan kusut, serta celana hitam yang telah memudar. 

“Beginikah nasib honorer Indonesia? Abdi negara yang bertahun-tahun berjuang mendidik anak bangsa hingga mereka menguasai berbagai teknologi, membangun negeri yang semakin maju dan maju, namu mereka tetap bertahan dengan pakaian yang lusuh serta sepat loakan” begitulah cerita dari para pengawas P3K.

Adakah pemimpin-pemimpin kita akan tergugah terhadap nasib para honorer, terlebih para honorer 35 plus. 

Media masa dan media elektronik menjadi bagian yang menyampaikan suara hati para honorer. Mungkinkah nasib mereka akan terus seperti ini, memperjuangkan anak bangsa dengan gaji jauh di bawah UMR.

Di Lampung, Sepasang suami-istri tua harus terjatuh dari kendaraan bermotor, lantaran tergesa-gesa  takut tertinggal pelaksanaan test P3K. Mereka ikut test dengan baju yang sangat kotor dan hanya dibasuh dengan air  demi ingin merubah nasibnya sebagai seorang abdi negara. Banyak cerita lain terkait dengan pelaksanaan test P3K yang menjadi harapan bagi kalanag honorer yang sudah begitu lama merindukan pengangkatan derajatnya dari pemerintah.

Sejumlah aksi dan pengaduan kini telah disampaikan terkait dengan pelaksanaan test P3K yang dirasa kurang memuaskan bagi kalangan peserta. Harapan para honorer bahwa penuntasan Honorer di tahun 2021 dapat terealisasi mengingat sudah ratusan ribu pensiunan yang hingga kini belum tergantikan posisinya. 

Kabar terbaiknya adalah, kini telah ada perubahan kebijakan, dimana afirmasi nilai semakin diperlentur dan sejumlah tambahan nilai akan diberikan pada setiap tambahan. Jika kebijakan ini benar-benar terlaksana, maka masih ada kemungkinan besar bagi para honorer, terlebih bagi kalangan 35+ untuk dapat memperbaiki kehidupannya disisa-sisa akhir perjuangannya. Karena hingga kini masih banyak honorer dengan usia bukan saja 35 plus tetapi 45 plus bahkan 50 plus.

Terlepas apakah mereka yang berstatus HK-2 maupun non Kategori, jika mereka telah memiliki NUPTK, terdaftar di dapodik, pengabdian lebih dari 10 tahu,  serta memenuhi syarat pendidikan sudah selayaknya jika mereka bisa terangkat dalam P3K, meskipun tidak lagi dapat merasakan sebagai PNS pada layaknya, begitu harapan para pembela pejuang honorer.

Semua itu hanya bisa terwujud dan terealisasi jika ada andil besar pimpinan tertinggi negara beserta seluruh Dewan Perwakilan Rakyat selaku penentu kebijakan dalam negara. Para honorer dengan kriteria di atas akan terus menanti hingga saatnya palu diketuk dan ada perintah penerbitan SK P3K kepada para pejuang pendidikan yang sudah berkiprah puluhan bahkan belasan tahun, sehingga tidak akan adalagi cerita pilu honorer pada masa-masa mendatang. 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.