Cerita Sunatan bersama Burok

Cerita Sunatan bersama Burok 1

Tidak seperti biasanya, saat memarkirkan sepeda onthel kesayangannya pagi ini Roro datang ke sekolah dengan wajah cemberut. Ia duduk dibelakang sekolah. Pandangannya kosong menatap hamparan sawah yang luas terbentang. Saat bunyi bel masuk, langkah kakinya tak bergairah. Sepertinya dipikirannya terjadi peperangan yang membuatnya pagi ini tak bersemangat. Gita yang teman duduk sebangku dengan Roro terlihat bingung dengan keadaan teman sebangkunya itu. Ingin menyapa tapi Gita takut mengganggu suasana hati Roro, berniat mendiamkanpun tak tega rasanya harus berdiam-diaman.

“Kamu bawa bekal apa ro hari ini???” tanya Gita membuka percakapan saat istirahat. “Aku ndak mbawa bekel git” jawab Roro singkat. “tumben ro, kenapa memangnya?” selidik Gita yang dari pagi sudah penasaran dengan sikap Roro yang menjadi murung. “Pagi tadi adikku rewel, jadi ibu tidak sempat menyiapkan sarapan untukku” jawab Roro.

“Abdul sakit?” tanya Gita perhatian. Abdul adalah adik Roro yang lucu dan imut. Usianya sudah lima tahun. Beda dua tahun dengan Roro yang saat ini sudah  kelas dua SD.

Roro menganggukkan kepalanya “Sejak subuh tadi Abdul demam” jawabnya pendek dengan pandangannya yang masih kosong. “Dia demam karena selalu memikirkan tentang bagaimana caranya bisa naik burok saat disunat. Itu impiannya yang sering diceritakan padaku, sampai tadi saja aku berangkat dia masih mengigau burok..burok..aku sedih memikirkan abdul, sedih juga melihat ibu ” Kata Roro menceritakan. “Yaudah yuuk makan bareng aku, kebetulan si mbok tadi membawakan bekalku lebih banyak, nanti kita fikirkan lagi gimana caranya agar adikmu bisa naik burok ketika disunat” kata Gita mencoba menghibur Roro. Akhirnya dengan sedikit rayuan Gita, Roro mau makan bersamanya.

Duduk dibelakang sekolah memang tempat favoritnya, setelah makan ia menyendiri duduk disana sambil menatap sawah yang mulai menguning. Fikirannya masih terpaku dengan keluarganya, ia masih mencari cara agar membantu ibunya untuk membuat adiknya disunat dan bisa naik burok. Roro dan Abdul sudah yatim dari kecil. Ayahnya meninggal saat bekerja sebagai tukang becak. Ibunya yang hanya penjual gorengan paling mampu menyunatinya dengan biaya seadanya. Sudah disunat saja alhamdulillah karena didaerahnya hanya orang-orang yang mampu yang bisa naik burok saat perayaan sunatan. Tapi ia tidak berkecil hati, ia akan berusaha setidaknya membuat sedikit senyuman untuk ibu dan adiknya.

“Ro.. ayoo masuk, bel udah bunyi” kata Gita yang datang memudarkan lamunan Roro. “Oh iyaa iyaa, duluan saja git, aku menyusul” jawab Roro dengan senyum simpul.

Tanpa Roro sadari sudah ada bu Mirna yang sejak pagi tadi saat ia memarkirikan sepedanya sudah memperhatikan sikap murung dari Roro. Bu Mirna heran mengapa Roro seperti itu, karena biasanya Roro adalah anak yang sangat ceria dan semangat jika disekolah. Tapi pagi tadi ada sesuatu yang berbeda, Roro sering melamun dan suka duduk menyendiri.

***

Abdul masih uring-uringan dengan suhu badan yang masih tinggi. Makanan dalam piringnya belum juga tersentuk sejak pagi. Sampai diganti tiga kali oleh ibu, Abdul belum juga mau makan. Linangan air mata masih menetes dalam sayup mata ibu. Sedih melihat anaknya seperti ini, tapi juga bingung tak berdaya karena ekonomi mereka. Handuk untuk kompresan terus pasang dan tempel dengan air dingin, berharap bisa menurunkan demam tinggi Abdul yang masih belum stabil.

“Sehat ya nak.. nanti kita cari uang buat naik burok” kata ibu lirih ditelinga Abdul. Mulut abdul masih berkicau tak jelas. Ia mengiggau sejak pagi tadi “burok buu… burok bu…”

Dengan kesedihan ibu yang melihat Abdul, ia tetap berjuang membuat adonan untuk gorengan yang akan dijual, tepung putih, sayuran sudah disediakannya sejak subuh, mau tidak mau dagangan itu harus dijual.

***

Matahari bergerak cepat, waktu bergulir sudah menjelang siang. Suara kendaraanpun mulai terdengar lebih padat dari biasanya,  Bel pulangpun berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas. Roro masih murung. Satu persatu ia langkahkan kakinya menuju tempat dimana ia memarkirkan sepeda onthelnya. Menunduk dengan penuh kegalauan. “Roro, nanti sore kerumahku yuk, kita ngerjain PR bareng” ajak Gita. “Ndak deh git, aku ngerjain sendiri saja. Makasih yaa tawaranmu” jawab Roro lesu. “yaudah deh. Oh yaaa.. semoga abdul cepet sembuh yaa”. “iyaa Gita, makasih yaa.. aku jalan duluan yaa” pamit Roro kepada Gita.

“Mamaa… ayo kita pulang” panggil Gita ke bu Mirna. Guru di tempat Gita dan Roro mengajar. Bu Mirna memang ibu Gita, mereka berasal dari keluarga yang cukup berada. “Iyaa, sebentar yaa sayang.. mama ada perlu dengan bu Arni dulu, kamu main dulu yah. Oh iya sebelumnya mama mau tanya. Roro temanmu kenapa nak? Dari pagi mama lihat murung saja” tanya mama pada Gita. “Oh iyaa ma, si Abdul adiknya sedang sakit, kasihan deh ma, ibunya jadi tidak berjualan hari ini karena adiknya sakit. Abdul itu ingin sekali disunat trus bisa naik burok. Wktu kerumahnya abdul cerita sama aku” kata Gita menjelaskan. “Oh gituu, pantes mama lihat sedih dari pagi. Eh kenapa kita ndak ngajak abdul untuk barengan sunat sama adikmu Raihan?” ajak mama kepada Gita. “Eh mama mau bayarin adik Roro naik burok??” tanya Gita dengan serius. “Loh kenapa ndak, Roro itu kan temen baikmu, lagipula dia cerdas anaknya, suka membantu guru-guru disekolah, sayang juga dengan keluarganya, kita balas kebaikan dia dengan ini” jawab mama dengan bijaksana. “okee baik maa, Gita setuju sekali. Terima kasih ya ma sudah baik sama Roro”. “Iyaa nak, yasudah mama tinggal dulu yaa, bu Arni sudah datang, kamu main ditaman sekolah dulu ya” kata mama sambil merapihkan perlengkapan dalam tasnya.

***

Pintu dibuka diiringi dengan salam Roro kepada ibu. “gimana keadaan Abdul bu??” tanya Roro. “Masih tinggi nduk demamnya, dia juga masih suka ngigau burok” jawab ibu dengan muka yang sudah terlihat lelah. “Yaudah ibu istirahat saja dulu, adonan biar aku goreng, nanti aku saja yang jualan” kata Roro dengan semangat. Ia akan membantu agar adiknya bisa sunatan dan naik burok, setidaknya dia punya sedikit tabungan dan tenaga untuk membantu ibunya. “Jangan nduk, kamu pasti capek. Makan dulu sana” jawab ibu dengan penuh senyum. “Iya buu, Roro nanti makan skalian goreng, ibu istirahat saja. Percaya sama aku” jawab Roro dengan penuh semangat. Melihat semangat dari anak bungsunya, mata ibu berkaca-kaca tak kuasa rasanya menahan air matanya, tapi ia menahan agar anaknya tidak patah semangat. Sementara abdul masih terbaring lemah tak berdaya, memorinya masih tentang burok. Roro menggoreng sambil memandangi abdul dan ibunya yang kini sedang beristirahat. Ia ingat tahun laluketika sang ayah masih ada, abdul memang pernah dijanjikan untuk sunatan dengan naik burok seperti teman-teman abdul lainnya. Burok tersebut dipanggul oleh empat orang diiringi dengan musik khas cirebon sambil sesekali yang memanggul burok tersebut berjoget mengikuti alunan musiknya. Abdul sangat antusias mendengar janji ayah. Karena itulah besar tekadnya untuk bisa membahagiakan abdul

Hari sudah menjelang sore, cuacah kini teduh mendung tidak panas juga tidak. Ketika gorengan sudah disiapkan beserta sambel kacangnya, dengan nampan lebar dan ember kecil yang ditentengnya, roro mulai menjajaki pinggiran sawah sekitar rumahnya. Biasanya banyak anak-anak yang sedang bermain bola atau ibu-ibu yang sengaja keluar untuk menyuapi anaknya atau sekedar mengobrol dengan ibu-ibu lainnya.  Roro menyusuri sepanjang jalanan dengan pemandangan kanan kiri sawah terbentang. Dengan senyum mengembang dan teriakan “gorengaaaann.. gorengaaaannn..” roro melangkahkan kaki. Banyak beberapa yang melintas sengaja berhenti untuk membeli, ada juga bu Hilda, langganan roro yang sedang asik ngobrol menghentikan percakapannya untuk membeli bakwan kesukaannya.

Selepas berbincang hangat dengan bu Hilda, roro melanjutkan perjalanan, ia masih semangat walaupun dagangannya masih banyak. Saat melewati kubangan air tak disangka ada motor yang melintas dengan cepat dan payahnya, motor itu melewati kubangan air tersebut sehingga tercipratlah air kepakaian roro, bahkan parahnya gorengan roro basah semua. Orang yang mengendarai motor itu berlalu begitu saja. Ia tidak melihat betapa hancurnya hati roro melihat gorengannya kini yang sudah tak layak jual, kini ia terduduk dipinggir jalan, semangat yang awalnya begitu membara, kini lebur seketika. Matanya mulai berkaca-kaca dan tak kuasa membendungnya.

Disaat yang sama mobil bu Mirna melintas, dan tak disengaja gita melihat roro sedang terduduk. “mamaa, tunggu! Itu seperti roro” setelah dilihat dengan seksama Gita yakin jika itu benar-benar roro. Mereka pun mengentikan perjalananya. “Masya allah, roro kamu kenapaa, kenapa gorengannya basah semuaa?” tanya mama gita dengan nada panik. Gita mengambil handuk untuk membersihkan pakaian roro yang masih basah. Akhirnya roro mnjelaskan apa yang terjadi saat itu. Gita sangat bersedih melihat keadaan sahabatnya, dan mama gita pun begitu. Akhirnya mama gita punya cara untuk membuat roro tetap bersemangat. “Roro, bu Mirna beli yaa dagangan roro ini, sebagai nilai tukarnya, mau kan jika Abdul sunata bersama adik gita dan naik burok bersama?” Terasa langit mendung dengan awan hitamnya berubah seketika menjadi langit cerah ditaman bunga-bunga. Roro sejenak terdiam mencerna kembali, khawatir yang didengarnya keliru. “Tidak mungkin ibu membeli gorengan ini, sudah basah bu, dimakanpun mana enak. Untuk apa ibu membelinya” tugas roro, ibu terdiam, ia masih mencari cara agar roro mau menerima tawarannya itu. “baiklah, begini saja, ibu pesan kembali gorengan buatanmu, besok dibawa saat ke sekolah yaa, ibu ingin berbagi denga guru-guru disekolah, nah bayarnya seperti tadi abdul bersedia sunatan bersama adik gita, semua biaya ibu yang akan tanggung”  bu Mirna kembali meyakinkan roro. Roro benar-benar kehabisan kata-kata, lagi-lagi ia menangis. Kali ini yang iarasakan kebahagiaan, usahanya berbuah manis, biarpun gorengannya tak layak makan, Tapi Allah mempertemukan ia dengan orang-orang baik disekelilingnya. Ia menerima tawaran bu mirna dan berterima kasih banyak pada gita dan ibu mirna, akhirnya keinginan adiknya dapat terwujud karena orang-orang baik yang sudah Allah persiapan. Saat itu juga ia merapihkan dagangannya yang berantakan itu dan segera pulang untuk memberikan kabar gembira ini kepada Ibu dan adiknya abdul. “Yasudah bu, terima kasih banya sekali lagi ibu dan gita telah membantu saya, saya tidak tahu haru bicaraapa lagi dan bagaimana harus membalas kebaikan ibu dan gita” kata roro dengan tersedu-sedu “kamu cukup rajin belajar, hingga akhirnya nanti kamu bisa membahagiakan keluargamu, itu saja ibu sudah sangat terbalaskan, semagat terus ya nak!” kata bu mirna sambil mengelus-elus rambut Roro.”Iyaa roro, semangaat..” sambung Gita, tak mau kalah dengan semangat ibunya.

***

“Assalamualaikum, ibuuuuuuuuuu, abduuuuuuul… roro punya kabar gembira” teriak roro, mengungkapkan rasa bahagianya. Gorengan yang sudah basah dan berantakan itu ia letakan diatas meja “Ada apa nak??,loh itu kenapa gorengannya?” tanya ibu heran. “Ibu, lusa Abdul  siap disunat, abdul.. ayoo kamu harus sehat. Katanya mau disunat trus naik burok kan? Ayoo sehat”kata roro kembali menguatkan abdul. Abdul yang saat itu terbaring tiba-tiba saja melintaskan pandangannya ke kakaknya dan bertanya “beneran kaa?? Abdul bisa naik burok??” roro menjawab dengan kedipan dan senyuman manisnyaa. Dia ceritakan kembali saat kejadian gorengannya sudah tidak bisa dijual hingga akhirnya bertemu dengan gita dan ibu mirna yang gurunya sendiri. Ibu yang mendengarkan saat itu menangis terharu mendengar kisah anaknya.akhirnya Allah permudah jalan cerita mereka. Mendengar kabar gembira itu pun, abdul mulai mau makan dan minum obat. Demamnya perlahan menurun. Nafsu makannya pun mulai membaik. Ibu sangat bangga pada Roro yang begitu semangat berjuang untuk adiknya. Malam itu juga Ibu dibantu roro memasak kembali gorengan untuk dibawakan ke sekolah atas permintaan bu mirna.

***

Hari yang ditunggupun tiba, kondisi Abdul sudah membaik ibu dan roro begitu bahagia meihat abdul yang siap disunat. Dengan pakaian khas Gatot Kaca abdul terlihat manis dan lucu sekali. Dia bersama adik Gita akan disunat pagi ini. Roro dan Gita berdampingan melihat mereka. “Gita, terima kasih ya atas semuanya. Aku tak tahu harus membalas apa semua kebaikanmu.” Gita terharu dan memeluk sahabat baiknya itu “aku senang membantumu ro, kamu orang yang baik, maka pantas juga mendapatkan kebaikan dari orang lain” merekapun berpelukan, air mata keluar dari tiap mata mereka.

Setelah proses sunatan selesai, Abdul tak sabar bersama adik gita ingin naik Burok. Dengan kepaa singa abdul naik burok tersebut. Dia senang sekali harapannya tahun lalu akhirnya bisa ia rasakan kini. Burok tersebut diangkat oleh empat orang laki-laki berjubah sama dan diarak burok-burok tersebut keliling desa. Ibu bahagia sekali melihat peristiwa hari ini. Semuanya berjalan begitu saja. Tak disangka harapan yang dahulu sudah ia pendam karena sang suami telah tiada, tapi bisa terwujud karena perjuangan adiknya. Ia tak henti-hentinya berterima kasih dengan ibu mirna. Karenanya keinginan anaknya bisa terwujud.

Haripun memasuki waktu sore, acara sunatan dan arak-arakan pun usai. Panggung-panggungan pun ditutup kembali.Abdul masih memancarkan keceriaannya. Ia makin sayang dengan ibu dan kakaknya.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Sofyan Sauri