Cerpen: Cahaya yang menjadi musuhnya


Cerpen: Cahaya yang menjadi musuhnya 1

Setiap mendengar bunyi kentongan ia selalu ketakutan. Wajahnya tiba-tiba berubah memerah dan matanya mulai melirik ke kanan dan ke kiri. Buliran keringatnya seperti butiran jagung yang tumpah dari wadahnya, mengalir menyungai di antara telinga dan menutupi hidungnya.

Setiap malam Marsudi mematikan lampu kamarnya. Ia beralasan tak bisa tidur jika dalam keadaan temaram. Pak Kasirun selalu mengingatkan untuk tidak mematikan lampu, alasannya kalau ada tikus atau hewan melata yang masuk kamar, Marsudi dipastikan tidak tahu.

“Kamu itu sudah dewasa, mbok sana cari istri, biar nggak malas saja di rumah.” Seloroh Pak Kasemun di sebuah malam.

Marsudi tak bergeming, menurutnya ia tak malas, hanya tidak ada alasan untuk bekerja. Makan dan minum sudah tercukupi. Setiap pagi ia pergi mancing untuk mencari lauk atau ke kebun untuk mengambil singkong lalu dibakar, untuk sarapan atau sekedar mengganjal lapar di siang hari. Di ladangnya banyak ditanami kelapa, pisang dan pepaya, jadi tak bingung sama sekali ketika ia menginginkan buah atau sekadar ingin meminum kelapa muda.

Umumnya orang tua, selalu ingin melihat anaknya segera bekerja dan sukses, tidak kekurangan di masa tuanya. Namun, Marsudi selalu megabaikan alasan-alasan itu dengan berseloroh “Masa depan orang tiada yang tahu, walaupun sekarang begini-begini saja, siapa tahu nanti, besok atau lusa bisa lebih dari yang lainnya.”

Kata orang, memang wajib setiap manusia harus punya prinsip dan idealisme. Bagi Marsudi itu bukan Idealismenya. Aku pernah menanyakan padanya, dan ia menjawab, “Aku hanya ingin menjalani hidup mengalir saja Mud.” Sambil mengulurkan benang pancingnya menerobos aliran sungai yang tenang di Kali Lesti.

Sampai suatu ketika suara kentongan yang iramanya satu per satu itu tak henti-hentinya berbunyi. Walau pemukul kentongannya sudah terlihat terlalu tua, begitu juga yang memukulnya, tetapi suara kentongan itu masih terdengar jelas sampai ke kampung di balik pegunungan Panggung itu.

“Marsudi ditangkap Mud.” Ucap Ismail yang kebetulan melintas di depan rumah.

“Kenapa dengan Marsudi?” Tanyaku penasaran

“Mahmud, kamu tadi sore pergi mancing bersama dia kan? Nanti kamu pasti dipanggil juga untuk jadi saksi.”

“Lho… memangnya ada apa Il?”

“Kamu tahukan, Sarah, Jandanya Ponimin, dia digrebek warga di rumahnya Marsudi, dan ketika warga mencarinya, ternyata ada di kamar Marsudi.”

“Ah, Masak Marsudi nganu…?”

“Mbuh Mud, ayo wis segera ke Balai Desa, aku mau manggil Mbah Pardi dulu.”

Ismail pergi dengan nafas tersengal-sengal, ia menembus kegelapan, sampai akhirnya tubuhnya dibungkus malam yang pekat. Namun, Aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Benarkah Marsudi melakukan itu? Atau Marsudi memang…. Ah, dari pada aku dibingungkan rasa penasaranku, aku menyusul sekumpulan orang-orang yang berbondong menuju kantor balai desa.

Di bangunan pendopo yang berbentuk limasan itu sudah dikelilingi banyak orang. Seperti semut yang mengerubuti makanan. Lampu-lampu senter menyala di sana-sini. Terdengar gebrakan meja, juga suara gertakan. “Ngakuo….!” Ucap salah satu dari orang yang berada tepat di samping meja itu.

Namun kedua orang yang duduk di kursi dan membelakangi diam seribu bahasa tak bergeming. Pak Kepala Desa baru datang, kerumunan menyibak, lalu merapat lagi. “Ada apa ini, Lho Marsudi? Sarah ada apa ini? Coba katakan!” Pinta Pak Kepala Desa.

“Gunduli wae.”

“Satus sak semen”

“Usir wae”

Gaduh menyelimuti pendopo malam itu membuatku ingin segera mendekati Marsudi dan menanyakannya. Aku menyelinap di antara perut, dada dan kaki-kaki yang tegak dan berhimpitan. Setelah benar-benar dekat dengan Marsudi, sembari kupegang pundaknya. “Di, benarkah kamu melakukan hal itu?”

Marsudi masih saja diam, begitu juga Sarah, ia hanya menunduk seperti ada penyesalan. Atau memang menyesal itu selalu di belakang? Seperti yang telah mereka lakukan itu.

“Enggak Mud, aku ndak ngapa-ngapain, beneran.”

“Wis nyata-nyata sarah di kamarmu, masih ndak ngaku kamu Di.” Ucap salah satu orang yang duduk bersebelahan dengan pak Kades. Ternyata Pak Kasirun. Ayahnya.

“Aku benar-benar ndak melakukan apa-apa. Aku tidur, tahu-tahu ada ramai-ramai dan setelah aku hidupkan lampu, ternyata ada Sarah di kamarku.”

“Di, aku temanmu, jujur saja. Kalau kamu mengaku pasti akan ada keringanan dari masyarakat.”

“Apa yang harus aku akui Mud? Kamu jangan seperti mereka Mud, merasa bisa mengamankan kampungnya, padahal mereka diam-diam juga ikut mengintip Sarah mandi di sungai.”

“Aku ndak seperti mereka, dan kamu jangan melempar kesalahan juga. Sekarang yang terpenting kamu bicara saja apa adanya!”

“Pak Kades, Mud dan semua orang, saya benar-benar tidak melakukan hal-hal yang tidak senonoh itu. Saya memang bujang, tapi tidak begini juga cara saya. Sarah, tolong bicaralah, jangan diam saja.”

Sarah masih diam seribu bahasa. Sampai akhirnya pihak desa mengambil sikap atas kasus ini. Mereka akan mengadakan sidang tertutup antara Marsudi, Sarah dan beberapa pihak terkait, termasuk aku. Masyarakat diminta untuk kembali ke rumah masing-masing. Dan menyerahkan kasus ini kepada pihak desa.

***

Dalam sidang, aku hanya ditanya terkait keseharianku memancing bersama Marsudi. Aku mengatakan apa adanya, bahkan mengatakan kepada pihak desa bahwa Marsudi ingin hidup mengalir saja. Tetapi apakah wajar jika pihak desa menyelam sejauh itu sampai mengulik masalah personalnya. Tidakkah hal itu sangat privat.

Marsudi yang duduk tepat di depan kepala desa yang seperti hakim, ditemani pak kepetengan dan kepala dusun, Marsudi tampak lebih tenang. Ia menuturkan apa saja yang dilakukannya selama sehari itu, dari pagi sampai ia diarak seperti penjahat.

Pun Sarah, ia hanya diam. Lagi-lagi ia diam seribu bahasa, seperti mengharapkan jawaban pengakuan dari Marsudi. Sebagian masyarakat yang menunggu hasil sidang seperti sedang berembug, nggerumbul di depan balai desa. Ada yang mengisap rokok dalam-dalam, dan ada juga yang memperhatikan ruangan di mana Marsudi di sidang.

Yang mengherankan lagi Pak Kasirun sama sekali tidak membela anaknya. Bahkan ia menekan agar Marsudi mengakui dan segera menikah dengan Sarah. Marsudi menghela nafas, kelihatan begitu berat ia mengambil sebuah keputusan, mengakui sesuatu yang tak ia lakukan menurutnya. Terkadang memang dalam kondisi kepepet seperti itu mental menjadi taruhannya, ia akan mempertahankan sekuat tenaga atau justru mengikuti tekanan yang paling besar. Akibatnya ia akan terjungkal, mengiyakan, mengakui dan lain sebagainya. Lagi-lagi kejujuran kadang memang perlu dipaksa, atau berbohong juga harus melalui paksaan juga?

Jikapun benar adanya, mengapa Sarah? Janda Ponimin itu. Lelaki yang tak tahu diuntung, kata sebagian orang. Meninggalkan anak dan istri tanpa memberi kabar bertahun-tahun. Padahal keluarga Sarah mau menerima Ponimin yang luntang-lantung ngalor-ngidul saja. Tak pernah bekerja, justru Sarah yang menjadi tulang punggung keluarga.

Suasana di dalam ruangan sidang itu masih buntu. Belum menemui titik terang untuk kasus Sarah di kamar Marsudi. Kamar yang tidak pernah terlihat temaram itu. Selalu gelap ketika pemilik kamarnya tertidur. Kalau Marsudi dijebak, lantas siapa yang menjebaknya? Tetapi spekulasi itu dibantah dipersidangan dan masyarakat. Karena jelas-jelas mereka berada di dalam satu kamar, di mana mereka bukan suami istri. Dan siapa yang memberitahu bahwa sedang terjadi kumpul kebo di malam itu? Hal ini masih menjadi teka-teki yang tertutupi oleh riuh kemarahan masyarakat dan keinginan Pak Kasirun untuk segera menikahkan Marsudi.

Hidup itu biar mengalir saja, begitu kata Marsudi waktu itu. Ia sekarang benar-benar dihadapkan pada prinsipnya itu. Mengalir, seperti air yang kadang melalui tanah bebatuan, pun lumpur yang melambatkan, kadang juga kotoran dan lain sebagainya. Begitulah air mengalir. Tetapi air tidak mengalir ke atas, ia mengalir menuju tempat yang paling rendah. Mungkinkah Marsudi sedang mengalir menuju tempat yang paling rendah, seperti kebanyakan air.

Sejak saat persidangan yang tak pernah selesai itulah, Marsudi sering menggigil, nafasnya terasa berat, ia sering berdiam diri di kamarnya. Bahkan untuk waktu yang sangat lama. Ia sudah tidak seperti dulu, jarang sekali keluar rumah. Jika harus bepergian, ia akan pergi sejak subuh, di mana semua orang masih terlelap dan ia akan kembali di malam yang sangat pekat.

Di suatu pagi, lilin di kamarnya masih belum habis terbakar, lelehannya membentuk gundukan di meja dekat tempat tidurnya. Dalam setengah sadar, ia melihat sekelebat wanita sedang membuka jendela kamarnya, dan membersihkan gundukan lilin di meja itu. Marsudi membuka matanya, ia duduk mengumpulkan nafasnya yang masih tersangkut entah di mana. “Sudah bangun? Segera cuci muka, ayo sarapan, sudah aku buatkan kopi juga.” Ajak wanita itu.

Ia hanya menganggukkan kepala, ia segera keluar dari kamarnya dan melihat Pak Kasirun sedang menikmati singkong rebus ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok yang diselipkan di tangan kirinya.

“Eh, Di ayo sini, ini singkong rebus enak tenan, ibukmu yang buat.” Ucapnya.

Ibu? Ibuku sudah wafat sejak aku berusia enam tahun, dalam hatinya bergumam. Ia hanya melemparkan senyum pada bapaknya itu.

Sedangkan wanita yang sedari tadi membereskan kamarnya Marsudi kemudian keluar dan bergabung bersama Pak Kasirun dan Marsudi. “Kamu betahkan di sini bu?” tanya Pak Kasirun.

“Iya pak, apalagi anak-anakku juga ikut di sini.”

“Ya harus, kan anakmu juga anakku, begitu juga Marsudi, walaupun dia seumuranmu, ia juga anakmu sekarang.”

Marsudi hanya diam saja, dalam batinnya menggerutu. Sarah yang dalam persidangan tak jadi dinikahkan dengan Marsudi, justru sekarang menjadi ibu tirinya. Pak Kasirun menggantikan peran Marsudi untuk menikahi Sarah. Walaupun cahaya temaram masih menjadi musuh Marsudi. Walaupun begitu kegelapan juga pernah membawanya ke persidangan balai desa. Sarah yang saat itu ternyata sedang ada janji dengan Pak Kasirun, yang sudah sejak lama sama-sama hidup sendiri, dan sayangnya Sarah salah masuk kamar, sebelum ia sempat keluar, masyarakat yang mendapat laporan bahwa Sarah masuk rumah Pak Kasirun dengan mengendap-ngendap akhirnya mendatangi dan menggrebeknya.

Pak Kasirunlah sebenarnya yang sebenarnya menyebabkan Marsudi sangat membenci cahaya. Pun Sarah yang diam seribu bahasa, bungkam tak menguarakan apapun. Marsudi semakin membenci temaram. Dan cahaya yang ia inginkan benar-benar tak muncul di hadapannya. Membuatnya membenci cahaya yang hanya seakan-akan, cahaya yang hanya kesan dan pencitraan saja.

***

Rumah Jaga kali, 2021


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

A.Dahri

   

Subscribe
Notify of
1 Comment
Oldest
Newest
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap