Cerpen – Firasat Tak Terbaca


Cerpen - Firasat Tak Terbaca 1

Shiitttt! Udara malam ini sangat dingin. Aku disergap ketakutan, tapi rasa takut dari sesuatu yang tak terlihat. Memang sore tadi,  laki-laki itu, dengan suaranya yang selalu menggeram dan mata tajamnya terus menguntitku. Aku mencium aura jahat dari dirinya. Banyak yang tak suka pada laki-laki itu. Setiap ia bertemu orang-orang, mereka selalu menghardik dan mengusirnya.  Herannya lagi, diperlakukan seperti itu, yang lain akan mengalah dan berlari sejauh-jauhnya. Laki-laki itu tidak! Dia malah menantang dengan geraman dan seringainya. Pantas jika orang-orang makin sebal dan membullynya. Dia tak diinginkan siapapun. Pembawaannya sedikitpun tak menerbitkan rasa iba di hati orang-orang itu.

Ternyata bukan pada orang-orang itu saja tingkah menyebalkannya. Padaku juga. Dan sungguh, aku takut yang teramat sangat, saat Ia mulai mengincarku. Tatapannya itu…sangat menakutkan pada pikiran kanak-kanakku.

Hingga malam setua ini, selepas hujan yang turun dari sore tadi. Aku tersesat di lorong gelap ini. Tepatnya bukan tersesat, tapi bersembunyi dari incaran si jahat.  Aku hanya berjalan-jalan saja di lorong antara dua rumah ini dikuntit rasa takut dan gelisah. Dingin dan  lapar sangat menyiksaku dari tadi. Tuhaaannn..aku tak tahan. Tubuhku gemetar.

Aku mencoba berteriak-teriak. Menyaingi suara orang yang memuji Tuhan dari Masjid seberang jalan sana. Menyaingi suara tivi yang lupa dimatikan penghuni rumah sebelah ini.

Aku bersorak kegirangan saat pintu dapur rumah sebelah ini dibuka dari dalam. Seorang perempuan, gendut, kerluar. Mengambil panci yang dia gantungkan di tembok luar. Aku melihat kesempatan itu. Tubuh kecilku cepat berlari, mengikuti si perempuan.

“Duuh kasihan….ayo sini masuk!” ternyata perempuan itu baik. Ia membuka pintunya lebar-lebar. Menyuruhku masuk. Aku cepat berlari.

Kulihat Ia mengisi air ke dalam panci, menyalakan kompor. Memasak air. Kuhampiri dia, aku sentuh kakinya. “Tolong Aku…”

Dia menatapku. Menjerit.  

“Heeeii…iihh..geli tahu!” dia menghardikku. Membuka pintu dan mengusirku keluar. Sambil merutuk dikuncikannya pintu dapur.

“Heeeiii..jangan di kunci! Tolong aku! Biarkan aku masuk…”Aku menjerit-jerit. Kugedor  pintu kamarnya dengan perasaan kalap.

Takut itu menyergap lagi. Aku seolah merasakan ada sepasang mata yang mengincarku. Tapi mata apa? Mata siapa?  Hatiku tak tenang.

Aku lari ke pintu depan. Menunggu dia membuka pintu depan untuk melihat bunga-bunganya. Aku tahu perempuan itu sangaat tergila-gila pada bunga. Pernah aku lewat di depan rumahnya,  perempuan itu sedang menyiram bunga sebelum adzan subuh tiba.

Benar saja, ia keluar. Membawa ember. Aku berlari menyongsongnya. Aku mengendap di belakang tubuhnya yang sedang memunggungi menyiram bunga. Aku ingin berlindung dari rasa takut. Rasa takut yang tiba-tiba menyergap dan abstrak.

“Bu…tolong aku…Tolong ijinkan aku ikut ke dalam. Aku takut Bu…” aku menyentuh ujung gaunnya. Ia menjerit. Mungkin karena rasa takut, spontan saja ia menendangku. Keras. Sangat keras. Tubuhku terpental dan jatuh di trotoar. Aku mengerang. Tulang-tulangku terasa remuk. Jeritanku semakin kencang. Aku mengaduh, meraung, rasa sakit yang bercampur dengan rasa takut. Dingin pula. Tuhaann..aku tersiksa dengan semua ini.

Kudengar si perempuan menutup pintu dengan keras. Lalu menguncinya lagi. Ia merutuk di dalam. Membangunkan suami dan anaknya.

Suara itu kudengar samar-samar. Semakin jauh. Aku lelah, dingin dan lapar.

***

“Heeii bangun…bangun! Aduuhhh,,kenapa tidur disini?” aku mendengar seseorang membangunkanku. Ada tangan tangan halus yang menyentuh punggungku. Aku membuka mata. Seorang gadis kecil yang manis tengah berjongkok di depanku. Tangannya mengelus punggungku. Aku mencoba bangun, tapi seluruh tubuhku lemas. Kakiku gemetar.

“Aduuhhhh kasihan kamu. Sini aku gendong!” Gadis kecil itu membopongku ke dalam. Ia memberiku minum. Ahh segarnya. Aku tersenyum. Menatapnya. Dan heeiii…dia menciumku. Aiiihh ternyata dia sayang padaku. Aku bahagia Tuhaannn. Ternyata ada juga orang  yang masih sayang dan peduli padaku. Tenagaku berangsur pulih. Semua karena kebaikan gadis kecil itu.

Sesiangan Ia tak jauh dariku. Mengajakku bermain. Sungguh aku senang. Tapi entahlah…rasa takut ini masih tak mengenakanku. Aku tak mau sendirian. Kuikuti saja kemanapun gadis kecil itu pergi. Perempuan gendut yang ternyata Mamanya itu juga jadi baik padaku.

“Deek…ikut Mama ke pasar ya?” Mamanya yang gendut itu menghampiri kami yang sedang bermain.

“Ini si Robi gimana? Kasihan ditinggal sendiri Ma…” Dedek menatapku lembut.

“Nggak apa-apa. Biarin dia tiduran di kamarmu, sebentar saja kok  Dek…” Mamanya memaksa.

Mereka berdandan. Aku hanya memperhatikannya dari kejauhan sambil  tiduran. Sesekali Dedek balas menatapku. Tersenyum. 

“Kamu disini aja ya Robi. Jangan kemana-mana…”

Dedek baru saja keluar rumah. Kulihat ia berjalan sambil menoleh terus ke belakang.  Padaku yang menatap kepergiannya dari halaman. Hampir seratus meter sesudah Ia melintasi mesjid besar itu, rasa takut tiba-tiba menyergap.  Aku berlari, niatku menyusul Dedek. Aku mau ikut saja ke pasar. Pikirku.

Kulihat Dedek menoleh ke belakang,  melihatku mengikutinya. Dia berlari lagi balik  ke arahku. Hatiku senang bukan kepalang. Aku mempercepat lariku.

Dari jalan gang, tiba-tiba laki-laki garang itu berlari memburuku. Sekilat saja hingga aku tak sempat mengelak atau sembunyi. Aku menjerit. Ia menubruk kepalaku. Kedua tangannya mencengkeram leherku. Ya Tuhan…sesak sekali. Nafasku tersendat. Tubuhku melemah.

Dalam helaan nafas terakhir, aku mendengar Dedek menjerit. Menubrukku. Merebutku dari laki-laki kasar itu. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi. Habis.

Aku hanya melihat tubuhku terpisah dari roh. Lalu dibopong gadis kecil itu sambil menangis. Mengadu pada mamanya dan terus meraung. Tubuhku erat didekapnya. Kulihat juga.,..Mamanya menangis. Memelukku dan Dedek.

Tubuhku dibungkus kafan. Dedek masih menangis tersedu sambil menceracau.  Tangisnya itu  menerbitkan kesedihan orang-orang yang melihatnya. Tapi aku malah merasa mereka menangisiku. Aku bahagia di atas takdir kematianku yang tragis. Mati di tangan Ayahku sendiri. Di atas kesedihanku yang ditelantarkan Ibu. Ibu yang pergi tergoda laki-laki lainnya lagi. Mungkin dia akan terus kawin, beranak dan kembali membuang anaknya  dan pergi lagi dengan laki-laki lainnya.

Tak mengapa. Ibu memang begitu. Sekarang Aku tidak sedih. Seperti kematianku dengan cara seperti ini, pun aku tak sedih. Mungkin ini sudah takdirku. aku hanya merasa, ketakutan yang abstrak itu adalah firasat bahwa ajalku sudah tiba, dengan cara seperti itu.

Aku bahagia. Aku dikafani, dikuburkan. Pusaraku ditaburi kembang. Ada Dedek kecil yang menangisiku. Aku juga bahagia, karena dia membacakan sholawat untukku. Lalu ia membagikan uang dua ribuan pada kedua temannya.

“Doakan Robi ya!”

Aku hampir menangis melihatnya. Ahh, dia memperlakukanku seperti manusia. Meski aku hanya seekor kucing liar yang malang.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ratna Ning

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap