Cerpen “Lara : Aku Merindukanmu, Sungguh!!”


Cerpen "Lara : Aku Merindukanmu, Sungguh!!" 1

Aku menghempaskan diriku di ranjangku, lelah sekali hari ini. Berjibaku dengan hiruk pikuk kota Jakarta, kota yang jadi harapan banyak kaum urban, termasuk aku wanita yang berasal dari kota kecil di Jawa Tengah.

Aku mengulet merenggangkan tubuhku, mataku menatap sisi meja riasku, tampak ada kertas putih terjepit disana, di laci kecil paling bawah, laci yang tidak pernah aku buka, dan aku tahu kenapa aku tidak pernah membukanya. Tapi, aku yang tidak bisa melihat barang-barangku berantakan segera bangkit dari tidurku untuk membereskannya.

aku buka laci kecil itu, niatku hanya akan memasukkan kertas kecil agar tidak lagi terjepit di laci. Ternyata saat kubuka, isi lacinya langsung berhamburan keluar, uh, gerutuku.

Aku berjongkok membereskan kertas-kertas yang berhamburan keluar itu, aku tahu kertas-kertas apa itu. Foto-foto, kertas-kertas surat, dan tiket-tiket bioskop, bagian dari romantisme masa muda yang belum bisa aku buang, tidak bisa.

Kalau sangat banyak sampai tidak muat di laci, berarti apa?kenangan itu sangat banyak, padahal ini hanya kenangan tentang satu orang, dia, yang tidak bisa aku lupakan.

Aku ambil satu persatu kertas, kertas berwarna pink ini tanpa kubuka aku tahu isinya, di dalamnya ada kata-kata, “kau cantik hari ini, tapi kemarin juga, dua hari yang lalu juga cantik, apa besok kamu tetap cantik?”. Foto-foto, ah ini sayang sekali kalau dibuang. 

Ada juga kertas bekas sobekan buku tulis, “aku kangen kamu Yang, mau beli bakso nggak nanti?”. Dan yang paling bodoh, tiket-tiket nonton bioskop dari sepuluh tahun lalu masih tersimpan di dalam sebuah plastik kecil.

Dia pernah mengisi hariku, mengisi sepenuhnya hatiku, tapi entah kenapa, kami berpisah, perpisahan karena ego kami, sebuah pertengkaran kecil, dan membuat kami putus. Dan anehnya, meski aku merindukannya sampai saat ini, padahal sudah lima tahun berlalu, tidak ada keberanianku menghubunginya. 

Aku lebih menikmati, menyimpan semua kenangan tentangnya, membayangkan ketika kita masih bersama, membayangkan aku dan dia suatu saat nanti bertemu. Tapi tidak ada selangkahpun usahaku mencari dan menemuinya. Ya untukku, dalam hatiku, mungkin dia sudah tidak memikirkanku.

Tidak terasa semuanya sudah rapi dan tersimpan di laci, aku tersenyum puas. Tiba-tiba, dering suara ponsel berbunyi, aku melihat layar ponselku ada sebuah nomor tidak dikenal. Kemudian deringnya berhenti karena aku ragu akan menjawab. “Pip” suara whatsapp berbunyi, “Hai Ra, ini aku Ardi.” Deg, aku merasa detak jantungku berdegup lebih cepat. Ardi yang tadi aku bereskan dari lantai, Ardi yang mengisi laci kecilku. “Ra, kamu apa kabar?” lalu terlihat status di namanya Ardi is typing..

Aku meloncat ke kasurku, bersiap membaca, apakah ini jodohku?Tiba-tiba…petttt..batere ponselku habis…..

Dan, charger ponselku tertinggal di kantor..

Ardi, apakah jodoh kita hanya sampai disini?terhalang oleh batere ponsel?

To be continue


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Cherry Ann Rose

   

Menulis adalah cara menyampaikan rasa yang tak sanggup terucap

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap