Cerpen – Lelaki Pecinta Bunga

Cerpen - Lelaki Pecinta Bunga 1

Tatapan Ibu yang mengerling, hanya kutanggapi dengan senyum.  Aku membereskan bunga-bunga dalam pot, agar tak diusik Ibu.

“Buat apa kau tanam bunga-bunga ini? Hanya mernambah kotor teras rumah saja. Apalagi sekarang musim hujan. Teras jadi menyampah dirimbuni bebungaan. Ibu takut ada ular menyelusup dan betah beranak pinak di antara rumpun itu” Ibu mulai dengan omelannya.

Sebagai seorang lelaki, hobyku tergolong aneh dan langka. Ibu  menentangku.  Terlebih karena Ibu tak suka bunga. Aneh,  padahal ia seorang perempuan. Harusnya Ibu yang senang dengan bunga-bunga dan menanamnya. Seperti si Tante depan rumah itu, halamannya yang luas penuh oleh pot-pot dari berbagai jenis bunga. Dia rajin menyirami dan merawat bunga-bunga itu.  Membeli jenis jenis baru, kemudian dimasukkan ke dalam pot. Setiap pagi Ia menata taman bunganya. Aku sering bertandang hanya untuk membicarakan ihwal bunga-bunga.

Dari dulu, aku suka bunga. Senang menanam dan menjadikan berbagai jenis bunga itu sebagai koleksi.  Bukan aku saja yang menyenangi koleksi bunga, beberapa teman lelakiku ada juga yang rajin mengurus bunga. Tapi bunga-bunga mereka punyan kekhasan juga. Lebih pantas ditanam dan dikoleksi para lelaki. Sejenis bonsai, kaktus, tumbuhan tumbuhan yang menjadi jenis kayu dan hasil okulasi. Macam-macam tumbuhan kitri yang ditata sesuai selera.

Aku? Malah tidak menyukai tetumbuhan itu. Tumbuhan  yang menarik minatku adalah yang memiliki warna dengan berbagai jenis dari satu nama tanaman. Misalnya aglonema dan puring. Aku juga suka tumbuhan yang akan mengeluarkan bunga yang indah dan wangi. Rose, Melati, Nusa Indah, Sedap Malam, Bunga Semboja, anggrek dan jenis lainnya.

Meluangkan waktu di pagi atau sore hari, dengan mengurus bunga-bunga, bagiku memiliki keasyikan sendiri. Entahlah, aku nyaman menata bunga-bunga, tanpa bicara. Disaat seperti itu, hanya lamunan saja yang menemani. Aku sibuk dengan bunga dan pikiranku yang melayang kemana-mana.

Tapi ketaksukaan Ibu pada bunga dan kegiatanku yang setiap hari berkutat dengan bunga, mulai sering mengganggu. Bahkan aku merasa, ketaksukaan Ibu mengancam zona nyamanku. Ibu tak paham, saat aku berkutat dengan bunga saat itu pulalah aku memiliki dunia yang tak bisa ditapak oleh yang lainnya. Dan aku merasa nyaman dan hidup di dalam alam pikiran dan dunia antah berantah ciptaanku.

“Kesukaanmu yang berlebihan pada tanaman bungamu malah menenggelamkan logika yang harus kamu hadapi dan pikirkan. Usiamu sudah tua. Pergilah ke luar, bergaul dengan perempuan-perempuan. Kau sudah ketinggalan jauh dengan teman-teman seangkatanmu. Mereka sudah berumahtangga semua. Bahkan sudah memiliki beberapa anak. Kau? Tiap hari hanya bercinta dengan pot pot bunga tak penting itu…” omel Ibu dengan sinis.

Dan frekuensi omelan serta ketaksukaan Ibu makin meninggi setiap hari. Aku merasa keamanan dan kenyamananku terancam manakala Ibu berusaha menyingkirkan pot-pot bungaku. Ia menaruh pot pot itu di halaman samping dengan kondisi ditumpuk-tumpuk. Aku panik ketika menyadari tanaman-tanaman penghibur hati itu telah raib dari teras depan, sore itu sepulang kerja.

Jika saja Aku perempuan, mungkin aku akan menangis melihat polah Ibu yang hampir akan kembali menghilangkan bunga-bungaku. Tanpa banyak bicara, pot-pot bunga kupindahkan ke tempat yang menurutku aman.

Aku telah mengenal seorang gadis di dalam suatu jamuan. Dia secantik mawar. Sederhana, wangi daan segar. Aku sedang memupuk hubungan kami pelan-pelan. Seperti aku memupuk bunga-bunga itu setiap hari.

Bagaimana aku tidak takut dan kesal dengan perlakuan Ibu pada bunga-bunga itu? Dulu, sewaktu aku sedang rajin-rajinnya mengurus bunga, cintaku tengah ranum-ranumnya pada kekasih remajaku. Ibu menyuruhku pergi menjemput kerja ke Taiwan. Demi rumah impian dan membahagiakan Ibu, aku pergi seraya menitipkan taman bunga dan taman hatiku. Dua tahun aku disana. Rumah kami menjelma permanen. Aku pulang. Bungaku telah hilang dari halaman. Semua dibuang Ibu. Gadisku juga hilang.. dikawin orang.

***

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ratna Ning